<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>CANGCORONG  SITE</title>
	<atom:link href="http://rahayusuciati.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rahayusuciati.wordpress.com</link>
	<description>Penuangan Diri Seorang Anak Banjar</description>
	<lastBuildDate>Sat, 26 Jan 2008 03:51:42 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='rahayusuciati.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/89c5ccaacd08e2d758b8af67073bac18?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>CANGCORONG  SITE</title>
		<link>http://rahayusuciati.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Stop Sakiti Lingkungan!</title>
		<link>http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/12/21/stop-sakiti-lingkungan/</link>
		<comments>http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/12/21/stop-sakiti-lingkungan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Dec 2007 04:48:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rahayusuciati</dc:creator>
				<category><![CDATA[FKIP Unlam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/12/21/stop-sakiti-lingkungan/</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh: Rahayu Suciati


Seringkali ketika menghabiskan pagi hari dengan lari pagi di sekitar rumah, saya menghilangkan lelah dengan duduk-duduk di bawah pohon besar. Menghirup udara pagi yang segar di bawah rindang pohon sungguh satu hal yang begitu nyaman untuk dinikmati.



Seringkali juga di saat-saat itu, sembari memandangi kokoh dan rindangnya pohon di samping, pikiran-pikiran melintas di kepala. Sebuah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahayusuciati.wordpress.com&blog=1472501&post=21&subd=rahayusuciati&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div align="justify"></div>
<p align="center">Oleh: Rahayu Suciati</p>
<p align="center"><img border="3" vspace="3" align="left" width="122" src="http://rahayusuciati.files.wordpress.com/2008/01/images.jpg?w=122&#038;h=92" hspace="3" height="92" /></p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Seringkali ketika menghabiskan pagi hari dengan lari pagi di sekitar rumah, saya menghilangkan lelah dengan duduk-duduk di bawah pohon besar. Menghirup udara pagi yang segar di bawah rindang pohon sungguh satu hal yang begitu nyaman untuk dinikmati.</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"><span id="more-21"></span></p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Seringkali juga di saat-saat itu, sembari memandangi kokoh dan rindangnya pohon di samping, pikiran-pikiran melintas di kepala. Sebuah penyadaran, tepatnya. Akan betapa sayangnnya Tuhan terhadap manusia dan makhluk hidup lainnya dengan menciptakan tumbuhan bagi kehidupan. Dengan sistem yang amat teratur, di siang hari tumbuhan menghirup oksigen dan mengeluarkan karbondioksida. Bayangkan saja jika tumbuhan juga mengeluarkan karbondioksida, siapa yang bisa menangkal polusi dan memberikan udara sejuk.</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Tumbuhan juga diciptakan sedemikian rupa untuk menjadi penyerap dan penahan air untuk keseimbangan lingkungan. Betapa cintanya Tuhan pada umatnya. Bahkan hal sekecil apapun di dunia ini diatur untuk kebaikan manusia dan makhluk hidup di bumi.</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Pertanyaannya, seringkah manusia menyadari dan mensyukuri akan semua kasih sayang begitu besar yang dilimpahkan-Nya?</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Alih-alih bersyukur, sebagian dari kita malah membalasnya dengan merusak lingkungan. Menyakiti alam yang sudah begitu bermurah hati pada kita dengan menyediakan air berlimpah, tanah subur, hutan lebat, bahkan kekayaan alamnya. Tapi, begitulah manusia dengan sikap keserakahannya. Mengambil tanpa ada lagi kepedualian untuk menjaga dan memeliharanya.</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Lihat bumi kita sekarang. Rasakan panas matahari yang membakar kulit bahkan ketika hari baru menujukkan pukul delapan pagi. Amati jalan-jalan serta bangunan yang kian rapat mendesak pohon-pohon rindang untuk mengalah. Saksikan amarah alam kala banjir datang, longsor mengancam, dan kekeringan menyambut setelahnya. Tak cukupkah pertanda ini? Bahwa alam kita menagis, alam kita sudah begitu tersakiti!</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Pemanasan global yang kini tengah hangatnya menjadi isu sedunia kemudian menjadi berita utama. Banyak dari kita yang tergugah untuk berbenah. Menyadari kesalahan untuk kemudian memperbaiki lingkungan yang telah banyak rusak. Aksi menanam pohon giat digulirkan, serta ajakan untuk menyelamatkan lingkungan muncul dimana-mana.</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Tapi, menusia-manusia serakah ternyata masih belum juga mau sadar. Demi nilai rupiah, maka hutan pun tak segan dihabisi. Demi sebuah kekayaan, habislah harta alam milik genersi penerus nantinya.</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Di bagian bumi lain, masih juga sebagiannya acuh dengan semua pertanda. Sungai yang berabad-abad telah memberikan limpahan air semakin hari kian dipadati dengan sampah-sampah yang merusak. Rasa terimakasih pun tak ada lagi ketika mereka menjadikan sungai yang merupakan elemen pemelihara kehidupan dan biota alam didalamnya justru mereka alih fungsikan sebagai TPA atau Tempat Pembuangan Akhir sampah.</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Stop menyakiti lingkungan! Sayangi alam yang telah memberikan kita kehidupan. Jangan gunduli hutan demi kepentingan sendiri. Jangan buang sampah dengan tidak mengenal tempat yang tepat.</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Jika tak bisa berbuat hal besar, maka mulailah dengan hal kecil. Satu sampah yang dibuang di tempat yang benar, berarti satu langkah menuju perbaikan lingkungan. Satu langkah lebih dekat terhadap pensyukuran diri terhadap nikmat yang diberikan TuhanYME.</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Mulai dari diri sendiri. Mulai dari sekarang.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rahayusuciati.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rahayusuciati.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahayusuciati.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahayusuciati.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahayusuciati.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahayusuciati.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahayusuciati.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahayusuciati.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahayusuciati.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahayusuciati.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahayusuciati.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahayusuciati.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahayusuciati.wordpress.com&blog=1472501&post=21&subd=rahayusuciati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/12/21/stop-sakiti-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b4fc2055e9ab66e99d4ea394bed1dc79?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rayu Suci</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rahayusuciati.files.wordpress.com/2008/01/images.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Hati-Hati! Budaya Kita Terancam!!</title>
		<link>http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/11/28/hati-hati-budaya-kita-terancam/</link>
		<comments>http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/11/28/hati-hati-budaya-kita-terancam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Nov 2007 04:26:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rahayusuciati</dc:creator>
				<category><![CDATA[FKIP Unlam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/11/28/hati-hati-budaya-kita-terancam/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Rahayu Suciati
Ada yang menarik perhatian saya ketika menonton salah satu acara tadi malam. Ketika seorang juri di salah satu ajang pemilihan bakat mengatakan satu hal sederhana namun cukup membuat saya tertegun. Saat pembawa acara tersebut bertanya alasannya mengenakan batik malam itu, ia menjawab “Daripada nanti diakui negara lain lagi jadi mending saya pakai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahayusuciati.wordpress.com&blog=1472501&post=20&subd=rahayusuciati&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center">Oleh : Rahayu Suciati</p>
<p>Ada yang menarik perhatian saya ketika menonton salah satu acara tadi malam. Ketika seorang juri di salah satu ajang pemilihan bakat mengatakan satu hal sederhana namun cukup membuat saya tertegun. Saat pembawa acara tersebut bertanya alasannya mengenakan batik malam itu, ia menjawab “Daripada nanti diakui negara lain lagi jadi mending saya pakai batik”.<span id="more-20"></span></p>
<p>Mendengar jawabannya membuat saya berpikir dan merenung sebentar. Saya teringat dengan kasus ketegangan antara Indonesia dengan negara tetangga serumpun kita, Malaysia. Dimana negeri Jihan itu beberapa kali telah mengakui bahkan mengklaim beberapa bagian kebudayaan kita sebagai warisan leluhur mereka. Dimulai dari lagu rasa sayange yang secara tiba-tiba dipakai sebagai lagu dalam mempromosikan wisata mereka. Batik pun tak ketinggalan ikut-ikutan di proklamirkan sebagai ciri khas budaya mereka. Yang terbaru, kesenian reog juga turut”dilirik”.</p>
<p>Saya tersadar, budaya kita sedang diincar. Bahkan banyak hal dari negara kita sudah lebih dulu dirampas. Tak usah lagi katakan berapa luas negara kita yang amat berpotensi untuk direbut akibat lemahnya kekuatan keamanan dalam penjagaan perbatasan kita. Tak perlu lagi sebutkan berapa juta pasir, batu bara, dan pohon yang direbut dan dijarah bagi kemakmuran negara tetangga kita. Tak perlu juga ceritakan betapa dashayatnya invansi konsumersime dan budaya luar yang tak tertahankan pengaruhnya.</p>
<p>Tapi, haruskah budaya kita perlahan menjadi santapan keserakahan negara lain? Lalu, mestikah kita diam? Tidak, kita tak boleh diam ketika warisan budaya yang telah dititipkan melalui sejarah oleh para nenek moyang untuk kita nikmati dan pelihara diambil dengan begitu arogan oleh negara lain.</p>
<p>Malingsia atau Maling Asia. Begitulah sebuatan untuk negara Malaysia yang beberapa lalu santer di internet. Bila dilihat sekilas, bisa saja itu benar melihat perlakukan mereka yang dengan seenaknya mengklaim budaya kita sebagai bagian dari budayanya. Apalagi, belakangan hubungan kia dengan Malaysia juga mengalami ketegangan akibat beberapa masalah terdahulu.</p>
<p>Namun, mari lihat dari sisi lainnya. Ketika seseorang ingin mengakui milik orang lain menjadi miliknya, apa yang tersirat dari sana? Tentu saja karena orang itu mengagumi apa yang dimiliki orang itu hingga membuatnya berusaha untuk mengambilnya. Jadi, bukankah semua hanya berangkat pada satu hal: kekaguman yang dilampiaskan dalam bentuk kecemburuan hingga sampai pada tindakan perebutan.</p>
<p>Lalu, mari kita sedikit  berkaca pada diri kita sendiri. Sudah kagumkah kita dengan kebudayaan kita sendiri? Sudah banggakah kita dengan warisan leluhur kita? Kalau belum, malulah kita dengan diri kita sendiri. Saat bangsa lain mengagumi dan menginginkan kebudayaan kita, kita sendiri malah acuh bahkan tak merasa bangga dengan kekayaan kita tersebut.  Apa kata dunia!!!</p>
<p>Jadi, mari sekali lagi lihat dari sisi positifnya. Belakangan, setelah muncul insiden curi-mencuri kebudayan ini, bangsa kita mulai menggeliat untuk kembali menyayangi budayanya. Lihat saja tayangan televisi yang kian santer dengan pergelaran dan aksi kebudayaan, desainer-desainer ibukota juga tak ketinggalan meramaikan dunia fashion dengan berinovasi menggunakan batik dan corak kebudayaan lainnya. Bahkan, tayangan komersial pun kini juga banyak digunakan sebagai medium untuk lebih “mematenkan” budaya Indonesia. Dan tak ketinggalan tentunya, website-website yang dikelola anak bangsa yang peduli pada pelestarian budaya kita.</p>
<p>“Save Our Heritage” adalah kegiatan yang segera digulirkan demi melindungi dan melestarikan kekayaan budaya kita. Dan sebagai salah satu anak Banjar, saya pun ingin menyuarakan pada seluruh urang Banua: “Save Our Banjarese Heritage”. Sungguh, saya tak ingin suatu hari nanti kain sasirangan, kesenian Madihin, Mamanda, bahkan arsitektur rumah Banjar kita di”curi” dan diboyong oleh negara tetangga. Karena itu, lindungilah kebudayaan kita karena kalau bukan kita siapa lagi. Dan untuk melindungi, banggalah terlebih dahulu dengan kebudayaan kita. Cintailah dulu budaya kita. Ya kalo?</p>
<p>Jadi, sedikit mengutip kata-kata yang pernah saya dengar bahwa kita tidaklah mewariskan kekayaan alam pada anak cucu kita. Tapi, sejatinya kita hanyalah meminjam dari mereka. Maka, tak salah bila sedikit digeser konteksnya agar kita bisa memaknai bahwa kita tidaklah mewariskan kebudayaan namun kita hanyalah meminjamkan kepada anak cucu kita. Dan sesuatu yang telah dipinjam haruslah dikembalikan dalam kondisi yang utuh dan baik. Jangan sampai ada yang hilang atau terbuang di tengah jalan.</p>
<p>Sekali lagi, banggalah pada budaya kita. Lindungi kebudayaan kita. Lestarikan dan jagalah semampu kita. Hingga, kembalikanlah pada generasi penerus kita bersama segenap cinta pada tanah air Indonesia….</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rahayusuciati.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rahayusuciati.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahayusuciati.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahayusuciati.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahayusuciati.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahayusuciati.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahayusuciati.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahayusuciati.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahayusuciati.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahayusuciati.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahayusuciati.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahayusuciati.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahayusuciati.wordpress.com&blog=1472501&post=20&subd=rahayusuciati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/11/28/hati-hati-budaya-kita-terancam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b4fc2055e9ab66e99d4ea394bed1dc79?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rayu Suci</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Balikpapan Kota  Idaman (Orang Kaya)</title>
		<link>http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/11/03/balikpapan-kota-idaman-orang-kaya/</link>
		<comments>http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/11/03/balikpapan-kota-idaman-orang-kaya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Nov 2007 04:11:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rahayusuciati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/11/03/balikpapan-kota-idaman-orang-kaya/</guid>
		<description><![CDATA[Indonesia saat ini mulai banyak disesaki orang-orang kaya. Pertumbuhannya luar biasa cepat. Sayangnya, sama luar biasanya seperti pertumbuhan orang miskinnya.
Sejalan dengan meningkatnya kaum borjuis di tanah Indonesia, tak heran gaya hidup dan tingkat kebutuhan ala metropolis kian meningkat. Makin hari makin digilai. Alhasil, negara kita makin produktif akan pembangunan rumah real estate dan apartemen,  [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahayusuciati.wordpress.com&blog=1472501&post=18&subd=rahayusuciati&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Indonesia saat ini mulai banyak disesaki orang-orang kaya. Pertumbuhannya luar biasa cepat. Sayangnya, sama luar biasanya seperti pertumbuhan orang miskinnya.</p>
<p>Sejalan dengan meningkatnya kaum borjuis di tanah Indonesia, tak heran gaya hidup dan tingkat kebutuhan ala metropolis kian meningkat. Makin hari makin digilai. Alhasil, negara kita makin produktif akan pembangunan rumah real estate dan apartemen,  juga tak ketinggalan ramai dengan Mall dan tempat hiburannya. Tapi, tak lupa juga, seirama dengan penggiatan penggalian harta alam dan perusakan lingkungan yang semakin mewabah. Kalu tidak begitu, bukan Indonesia namanya, kan?. Hehe…<span id="more-18"></span></p>
<p>Fenomena pembangunan yang semakin jor-joran ini rasanya hampir meliputi seluruh wilayah di kota-kota besar Indonesia. Jakarta, itu sudah tak ayal lagi. Bahkan di kota-kota di luar pulau Jawa pun tak kalah dalam hal peningkatan pembangunannya.</p>
<p>Seperti juga yang terjadi di Balikpapan. Ketika mudik Lebaran kemarin, ternyata kota tempat kelahiran saya itu mengalami perkembangan yang terus signifikan. Setelah apartemen Superblock yang mewah ala metropolian belum usai benar dibangun, apartemen lain yang tak kalah &#8220;mahal&#8221; bersiap membangun. Perumahan mewah juga tak ketinggalan dalam kancah persaingan. Terus melebarkan sayap di berbagai daerah pemukiman.</p>
<p>Yang paling menonjol adalah semakin tak terhitungnya hotel yang bermunculan. Mulai dari kelas melati sampai hotel bintang lima. Baru saja kurang setengah tahun saya meninggalkan kota ini, eh, tahu- tahu sudah muncul saja beberapa hotel besar di pusat kota. Konon, ini guna menyambut peluang bisnis besar ketika PON berikutnya akan di gelar Di Kalimantan Timur. Letaknya pun menakjubkan. ada yang hanya berjarak beberapa meter, bahkan ada yang berhadapan langsung. Itupun, di beberapa kawasan lain masih menunggu hotel-hotel yang dalam tahap pembangunan.</p>
<p>Jadi berpikir, hotel sebanyak itu, siapa yang menginapi?. Ternyata jawabannya langsung didapat setelah berbincang dengan teman yang kebetulan bekerja sebagai receptionist di salah satu hotel. Katanya, tamu rata-rata perhari bisa dikatakan tak sepi pengunjung. Padahal, hotel tempatnya bekerja tak terlalu terbilang mewah, hanya sekelas bintang tiga.</p>
<p>Kalau begitu, tak aneh kalau para pengusaha berbondong-bondong berinvestasi di bidang perhotelan. Tak heran juga sih, mengingat kota ini memang ramai dengan foreign company. Padahal, pebangunan tersebut boleh dibilang kurang sejalan dengan kenyataan di lapangan yaitu tingginya tingkat pemadaman listrik. Bukan barang aneh lagi, kalau kota yng terkenal ladangnya minyak ini justru akrab dengan pemadaman listrik bahkan ditambah dengan macetnya aliran PDAM ketika musim kemarau tiba. Anehnya, pembangunan seperti tak pantang menyerah. Tetap saja jalan terus.</p>
<p>Dengan semakin menjamurnya bisnis property mulai dari apartemen, real estate, mall, sampai hotel, boleh jadi mengimplikasikan satu hal. Bahwa orang kaya di Balikpapan juga kian meningkat tajam. Terbukti dari jumlah mobil mewah yang semakin banyak berseliweran.<br />
Teman saya tersebut juga bercerita kalau suatu hari pernah dia melayani satu keluarga yang ingin mem-booking kamar hotel. Bukan karena sedang berlibur atau ada urusan bisnis. Tapi, &#8220;hebatnya&#8221;, mereka menginap di hotel hanya karena aliran listrik di komplek yang mereka tinggali sedang dalam pemadaman. Untuk mengungsi saja, kata mereka. Wah, luar biasa! Semakin beragam saja yah cara orang kaya &#8220;menggunakan&#8221; uangnya.</p>
<p>Begitulah orang kaya yang semakin kencang geliatnya di kota minyak Balikpapan. Lalu ke mana orang miskinnya? Apa di sana begitu sejahteranya hingga orang miskin awam ditemui. Kalau melihat dari kasat mata sih bisa jadi. Sementara di banyak kota besar lain menghadapi permasalahan banyaknya gepeng yang mengurangi keindahan kota, Balikpapan justru adem ayem, tenang tentram. Lewat saja di seluruh lampu merah, tak akan didapat pegemis yang &#8220;ngobyek&#8221; atau pengamen jalanan. Semuanya terlihat begitu tertib dan teratur. Hebat!!<br />
Tapi, benarkah tak ada orang miskin disana? Tentu saja tidak seperti itu. Saya yakin, masih banyak keluarga-keluarga prasejahtera yang masih meringis bertahan hidup di kota besar tersebut. Apalagi beban mereka semakin berat kala harus menerima kenyataan biaya hidup yang begitu tinggi disana.</p>
<p>Saya rasa akan lebih tepat dikatakan kalau, Balikpapan bukanlah tempat bermukim yang tepat bagi orang miskin. Kenapa? Satu contohnya adalah di bidang kesehatannya. Puskesmas yang sepatutnya merupakan tempat berobat bagi masyarakat dari kalangan tidak mampu rasanya malahan tidak memihak pada mereka. Bahkan di salah satu puskesmas, di sekitar tempat tinggal saya, untuk membuat kartu berobat saja sudah harus merogoh kocek sebesar tiga ribu. Itu hanya langkah awalnya. Untuk ongkos periksa dan obat, mereka harus merogoh kantong lebih dalam lagi.</p>
<p>Sangat kontras bila dibandingkan dengan biaya Puskesmas di Banjarmasin di mana dengan ongkos 2.500, sudah bisa mendapatkan pelayanan plus obatnya pula. Ibu saya bahkan pernah menghabiskan 30.000 untuk sekedar berobat biasa. Sejak itu, beliau lebih memilih untuk berobat langsung di dokter praktek. Tapi, itupun harus menghabiskan uang sekitar 70.000. Jadi, bagi orang berpenghasilan rendah mesti menabung terlebih dulu barulah berobat. Karena itu, lebih baik sakit pun harus direncanakan dan dipersiapkan matang. Kalau sudah seperti itu, dimana fungsi Pukesmas sebenarnya? Apa juga ditujukan untuk orang mampu? Tapi, itu juga bukan hal mustahil, mengingat bangunan untuk puskesmas di sana yang terbilang cukup mewah dan hampir menyamai rumah sakit.</p>
<p>Pertanyaannya sekarang, kemana orang-orang tidak mampu harus berobat? Apakah orang miskin dilarang sakit?. Apakah sakit hanya diperbolehkan bagi orang-orang dengan dompet tebal?<br />
Sejak beberapa waktu terakhir semakin banyak kawasan-kawasan pemukiman padat penduduk di sana yang terbakar. Konon, kebakaran itu merupakan rekayasa hasil  kongkalikong antara oknum terkait dengan pebisnis property. Tujuannya, mudah ditebak, kalau tidak perluasan real estate, atau bisa jadi lahan baru untuk pembangunan hotel atau apartemen. Lalu, kemana para korban musibah mencari tempat tinggal ketika semua tempat (seolah-olah) seperti dikuasai para borjuis? Kemana orang miskin mencari tempat tinggal di saat semua tanah (serasa) diperuntukkan bagi mereka dari kalangan berpunya?</p>
<p>Di komplek saya sendiri, yang sejatinya adalah perumahan khusus PNS, sudah hampir dihiasi dengan rumah-rumah mewah yang tak kalah mahalnya dengan rumah di kawasan perumahan elit. Tapi, yang lucu adalah pemandangan menonjol karena masih berjejernya rumah-rumah mengenaskan di sebelahnya. Tak heran kalau kesenjangan sosial suah mulai kentara di sana. Alih-alih saling peduli, sebagiannya justru cuek bebek bahkan ketika mereka tahu tetangga mereka sedang sangat kekurangan.</p>
<p>Orang kaya boleh makin bertambah. Tapi haruskah dengan begitu jurang antara kaya dan miskin makin tampak dari hari ke hari.  Balikpapan boleh jadi kota idaman dengan tata kota dan tata kehidupan yang teratur. Balikpapan boleh jadi merupakan kota kaya dengan segala macam pembangunannya. Tapi, haruskah Balikpapan perlahan mejadi tempat terlarang bagi kaum miskin?</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rahayusuciati.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rahayusuciati.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahayusuciati.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahayusuciati.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahayusuciati.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahayusuciati.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahayusuciati.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahayusuciati.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahayusuciati.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahayusuciati.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahayusuciati.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahayusuciati.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahayusuciati.wordpress.com&blog=1472501&post=18&subd=rahayusuciati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/11/03/balikpapan-kota-idaman-orang-kaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b4fc2055e9ab66e99d4ea394bed1dc79?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rayu Suci</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Indonesia Masa Kini</title>
		<link>http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/11/03/indonesia-masa-kini/</link>
		<comments>http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/11/03/indonesia-masa-kini/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Nov 2007 03:44:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rahayusuciati</dc:creator>
				<category><![CDATA[FKIP Unlam]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/11/03/indonesia-masa-kini/</guid>
		<description><![CDATA[Kamis, 19 Oktober lalu, Editorial Media Indonesia membahas tajuk utamanya dengan judul &#8220;Orang Kaya Indonesia&#8221;. Editorial tersebut dengan sangat menarik membahas mengenai peningkatan signifikan yang terjadi pada jumlah orang yang terbilang berpenghasilan sangat tinggi di Indonesia. Jumlah tersebut ternyata didominasi oleh kalangan yang berhasil di bidang property. 
Suatu kabar yang tidak terlalu mengejutkan ditengah serbuan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahayusuciati.wordpress.com&blog=1472501&post=17&subd=rahayusuciati&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kamis, 19 Oktober lalu, Editorial Media Indonesia membahas tajuk utamanya dengan judul &#8220;Orang Kaya Indonesia&#8221;. Editorial tersebut dengan sangat menarik membahas mengenai peningkatan signifikan yang terjadi pada jumlah orang yang terbilang berpenghasilan sangat tinggi di Indonesia. Jumlah tersebut ternyata didominasi oleh kalangan yang berhasil di bidang property. <span id="more-17"></span></p>
<p>Suatu kabar yang tidak terlalu mengejutkan ditengah serbuan dan gencarnya pembangunan segala bidang di seluruh nusantara terutama di kota-kota besar. Mulai dari perumahan, mall, apartemen dan segala pernik berbau metropolis lainnya dengan sukses menjamur di negara kita.</p>
<p>Dari lahan bisnis property inilah banyak pengusaha sukses meraih untung dengan berujung pada penambahan aset kekayaan mereka, hingga tak salah julukan orang kaya segera melekat dalam diri mereka.</p>
<p>Tak bisa dipungkiri ini bisa menjadi kabar baik bagi negara ini. Meningkatnya jumlah orang kaya berarti meningkat pula prospek peluang bisnis besar di Indonesia. Selain itu penyerapan lapangan kerja di bidang property juga merupakan dampak pengiring positif bagi masyarakat. Apalagi lahan  bisnis property juga secara tidak langsung banyak melibatkan banyak sektor ekonomi terutama industri bahan bangunan. Usaha kecil lainnya seperti rumah makan atau warung kopi juga tak kalah kebagian sedikit rejeki.</p>
<p>Dari hasil riset yang dilakukan Merrill dan Capgemini yang dilansir di Hong Kong, didapatkan data yang menunjukkan bahwa tingkat perkembangan orang orang kaya Indonesia berhasil menempati urutan ke tiga di kawasan Asia-Pasifik setelah India yang berada di urutan kedua dan China yang menduduki top ranking.</p>
<p>Tapi, benarkah peningkatan jumlah orang kaya secara drastis juga merupakan kabar gembira bagi perkembangan kesejahteraan bangsa secara keseluruhan? Jawabannya tentu saja tidak sesederhana itu. Inilah ironi yang saat ini tengah mendera bangsa kita. Peningkatan jumlah orang kaya, sayangnya, tidak disertai dengan pengurangan jumlah orang miskin. Sebaliknya, jumlah masyarakat yang menempati kelas ekonomi di garis dan di bawah garis kemiskinan malahan juga bertambah jumlahnya. Bukankah ini merupakan sesuatu yang lucu?</p>
<p>Jumlah orang-orang di garis dan dibawah garis kesmikinan tak juga kunjung mengalami pengurangan berarti. Menurut statistik resmi (Juli 2007) di negeri ini terdapat 37,17 juta orang miskin. Tentu saja banyak yang meragukan ketepatan jumlah tersebut. pasalnya ukuran yang digunakan belum dapat dijamin apakah melibatkan aspek-aspek dimensional yang lebih kompleks. Orang miskin bukan hanya yang tak bisa memenuhi kebutuhan bertahan hidup paling mendasar yaitu makan. lebih jauh itu, banyak hal lain seperti buta huruf, tingkat kesehatan yang buruk, permukiman yang tak layak huni, dan rentetan hal lain yang juga dapat mengkategorikan seseorang ke dalam golongan miskin. Jadi, wajar sajalah jika banyak yang mergukan kevalidan jumlah 37, 17 juta orang miskin yang dimaksud.</p>
<p>Kalau jumlah orang kaya meningkat scara drastis dan jumlah orang miskin pun terus bertambah tiap waktunya, kekhawatiran akan terjadinya jurang besar antara kya dan miskin tak mustahil melanda bangsa ini. Hingga suatu hari pemandangan dimana orang-orang berduit menikmati segala macam kemewahan dan kenikmatan dunia sedangkan sebagian saudaranya yang lain menangis digilas nasib yang kian kejam adalah pemandangan biasa. Ketika orang-oang kaya berseliweran menghamburkan uangnya di pusat-pusat perbelanjaan dan sebagian saudaranya meringis menahan lapar dan dan tak bisa berbuat banyak ketika anaknya tak kebagian jatah pendidikan di sekolah adalah hal lumrah. Haruskah ini yang akan terjadi pada bangsa kita nantinya?</p>
<p>Tak usah menunggu nanti, sekarang saja sudah sangat umum dijumpai perumahan-perumahan serta apartemen elit dibangun di seluruh penjuru perkotaan. Sehingga porsi ideal 1: 3: 6 (1 rumah mewah, 3 rumah menengah, dan enam rumah sederhana) yang pernah dicanangkan di masa orde baru sama sekali hilang. Para pebisnis property beramai-ramai mendirikan rumah-rumah mewah dengan berbagai fasilitas megahnya. Bahkan tak sedikit juga yang dengan kejam mengorbankan tanah dan pemukiman penduduk demi mengeruk untung besar dengan proyek-proyek perumahan dan mall yang terbaru.</p>
<p>Inilah Indonesia masa kini. Terlena dibuai dengan segala macam kemewahan dan sesak oleh orang-orang kaya yang banyaknya acuh pada miskinnya kesejahteraan bangsa. Orang-orang kaya yang dengan cuek bebek menginvestasikan kekayaannya di negara tetangga yang sejatinya juga penjajah harta bangsa kita, Singapura. Sebesar kurang lebih tujuh ratus triliyun aset orang-orang kaya Indonesia  tertumpuk disana. Jumlah yang amat besar dan bahkan senilai dengan APBN negara kita untuk satu tahun. Luar biasa!</p>
<p>Inilah negara Indonesia sekarang. Tempat sampah sekaligus ladang harta karun bagi negara-negara maju yang berdagang teknologi dan gaya hidup metropolis. Ironisnya lagi, bukan hanya orang kaya yang menjadi korbannya, orang melaratnya pun sukarela &#8220;mengorbankan diri&#8221;. Saat orang kayanya semakin giat menumpuk harta, orang-orang miskin ditidurkan dengan mimpi-mimpi indah menjadi orang kaya lewat sinetron-sinetron tak bermutu setiap harinya.</p>
<p>Inilah Indonesia masa kini. Begitulah bahagianya orang kaya Indonesia. Dan seperti itulah menderitanya orang miskin di tanah Indonesia.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rahayusuciati.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rahayusuciati.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahayusuciati.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahayusuciati.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahayusuciati.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahayusuciati.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahayusuciati.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahayusuciati.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahayusuciati.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahayusuciati.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahayusuciati.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahayusuciati.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahayusuciati.wordpress.com&blog=1472501&post=17&subd=rahayusuciati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/11/03/indonesia-masa-kini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b4fc2055e9ab66e99d4ea394bed1dc79?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rayu Suci</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dermawan Dalam Kesederhanaan</title>
		<link>http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/10/29/dermawan-dalam-kesederhanaan/</link>
		<comments>http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/10/29/dermawan-dalam-kesederhanaan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Oct 2007 11:37:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rahayusuciati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/10/29/dermawan-dalam-kesederhanaan/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Rahayu Suciati

Angin malam semakin dingin menyapa kulit. Sepuluh menit lagi genap pukul sepuluh saat kulirik jam di pergelangan tanganku. Ku masukkan telapak tanganku lebih mendalam pada saku jaketku. Tak banyak berpengaruh, tapi cukup untuk mengurangi tamparan hawa dingin yang mencubit.
 
Kulangkahkan kakiku makin cepat diantara kerumunan pasar malam yang mulai menandakan kesibukan para pedagang menutup [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahayusuciati.wordpress.com&blog=1472501&post=16&subd=rahayusuciati&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center">Oleh Rahayu Suciati</p>
<p align="center">
Angin malam semakin dingin menyapa kulit. Sepuluh menit lagi genap pukul sepuluh saat kulirik jam di pergelangan tanganku. Ku masukkan telapak tanganku lebih mendalam pada saku jaketku. Tak banyak berpengaruh, tapi cukup untuk mengurangi tamparan hawa dingin yang mencubit.<br />
 <br />
Kulangkahkan kakiku makin cepat diantara kerumunan pasar malam yang mulai menandakan kesibukan para pedagang menutup dagangannya. Walau begitu, keramaian orang masih belum bisa dikatakan lengang. Sejauh mataku memindai ke segala arah, masih tampak banyak orang yang melihat-melihat pada apa saja yang bisa ditawarkan oleh pasar yang selalu buka tiap malam ini. Tawar-menawar rupanya masih bersemangat menghidupi suasana pasar ini.</p>
<p><span id="more-16"></span><br />
 <br />
Entah sejak kapan pasar malam ini mulai mengikrarkan keberadaannya. Yang pasti sejak keluargaku pindah ke kota ini, pasar ini sudah ada. Satu hal yang unik dari pasar ini adalah letaknya yang kurang tepat untuk berlokasinya sebuah pasar yaitu di sisi kiri dan kanan salah satu jalan utama di kota seribu sungai ini. Karena itulah sudah merupakan pemandangan sangat wajar jika jalan ini begitu padat dilalui banyak kendaraan bermotor dan sesaknya pengunjung pasar yang hilir mudik saling berebut menapaki jalan yang berukuran sempit itu.<br />
 <br />
Langkahku satu persatu bergegas berirama menapaki jalan, kontras dengan irama malam yang kian mengantuk. Sepanjang perjalanan, hatiku tak bisa berhenti menggerutu. Telepon dari kak Ivan lima belas menit lalu benar-benar meninggalkan segumpal rasa kesal yang mencumbui perasaanku. Ia bilang tidak bisa menjemputku karena sepeda motornya mogok di jalan dan tampaknya butuh cukup lama untuk memperbaikinya. Padahal Tadi sore ia yang menawari menjemputku dari rumah Wulan begitu aku pamit pada Ibu untuk mengerjakan tugas. Jika tahu akan begini dari sejam lalu aku sudah akan pulang sendiri.<br />
 <br />
Tentu saja aku tak ingin menunggunya! gerutuku dalam hati. Padahal Wulan sudah menawariku untuk menginap saja dirumahnya tapi tentu saja itu akan membuat ibuku khawatir. Atau tepatnya akulah yang khawatir meninggalkan ibu sendirian di rumah. Sebenarnya ibu tak pernah melarangku menginap di rumah teman karena tentu saja ibu menganggapku sudah dewasa. Tapi, entah kenapa aku tak pernah nyaman meninggalkannya barang semalam saja.<br />
 <br />
Aku mendesah, lebih tepat mengeluh dalam hati. Entah harus merutuk pada siapa. Bukan salah Kak Ivan kalau sepeda motornya mogok. Wajar saja sih mengingat usia kendaraan satu-satunya yang keluarga kami miliki itu sudah berumur sepuluh tahunan lebih. Jadi mogok sudah merupakan penyakit yang rutinan datang.<br />
 <br />
Sepeda motor itu. Banyak kenangan yang tertinggal bersamanya. Kenangan bersama ayahku. Motor itu adalah kebanggaan yang teramat disayangi ayah karena itulah harta yang bisa di beli beliau melalui kerja keras. Motor yang menemani keluarga kami dalam berjuta lembaran kenangan indah kami. Sampai ayahku meninggal dan hanya itulah yang dapat diwariskan beliau pada Kak Ivan. Tak ada rumah dan perhiasan yang bisa beliau persembahkan. Walau begitu kami ditinggali warisan yang berjuta lebih baik daripada itu semua, kenangan akan sifat dan pribadi santun beliau.<br />
 <br />
Ditemani lamunan yang mengambangi pikiran, tak terasa kakiku sudah mencapai bibir pasar. Beberapa langkah disana jejeran becak yang didalamnya duduk pemiliknya menunggui orang yang ingin memakai jasa mereka.<br />
 <br />
Tak sedikit dari mereka sudah diliputi usia senja. Kadang aku bertanya-tanya sendiri mengapa di usia senja seperti itu dan dalam tubuh-tubuh renta, mereka masih harus berjuang berhadapan dengan urusan isi mengisi perut. Mengapa mereka masih bergelayut dalam terik siang dan dinginnya malam mengayuh hari dalam perjuangan mengais rejeki. Oh tuhan, kemana para saudagar kaya, sang pejabat, atau si pemberi? Dan pertanyaan tanpa akhir itu selalu melecut persendianku, membuatku lemas.<br />
 <br />
Kupelankan kakiku ketika aku melihat salah satu tukang becak yang duduk melamun dalam becaknya. Matanya menerawang jauh seakan ingin merobek langit dan awan disana. Sebentar matanya sayu ketika angin malam berhembus menidurkan. Tapi sekuat tenaga ia melawannya seakan ia ingin terus terjaga melawan malam.<br />
 <br />
Aku berhenti tepat didepannya yang tampaknya belum bangun dari lamunannya. &#8220;Paman, becak?&#8221;, sapaku sedikit keras. Ia pun tersentak sadar dan segera tersenyum kepadaku. Sambil memperbaiki posisi duduknya ia bertanya, &#8220;Kemana, Ding?&#8221;.<br />
&#8220;Ke Mesjid Jami berapa, Man?&#8221;<br />
&#8220;Biasa berapa , Ding?&#8221;<br />
&#8220;Enam ribu, paman lah&#8221;. Beberapa detik Paman becak itu berpikir. Rautnya yang letih menghiasi wajahnya yang keriput. Umurnya diatas lima puluhan, tebakku dalam hati.<br />
&#8220;Ayu ja. Naik, Ding&#8221; paman itu menyilahkan sopan sembari keluar dan bersiap mendorong becaknya. Sejurus kemudian aku sudah duduk dengan santai di dalamnya. Setelah memastikan aku sudah nyaman dalam dudukku barulah Bapak tua itu mulai mengayuh becaknya menyentuh jalanan yang semakin sunyi.<br />
 <br />
Hanya beberapa menit kesunyian bertahan sampai paman becak itu bertanya dengan sopan dalam bahasa Banjar, yang juga bahasa Ibuku<br />
&#8220;Hanyar datang belanja kah, Ding?&#8221;<br />
&#8220;Kada, Man. Dari rumah kawan&#8221;<br />
&#8220;Oh, sorangan aja kah?&#8221;<br />
&#8220;Inggih. Tadi handak diambili kakak ulun, tapi kendaraannya mogok&#8221;<br />
&#8220;Oh…&#8221; kemudian diam mengambil alih lagi namun tak lama.&#8221;Masih sekolah, kuliah atau sudah begawai kah, ding?&#8221;<br />
&#8220;Masih kuliah, Man. tapi sudah semester akhir&#8221;<br />
&#8220;Oh, sudah parak tamat lah, ding? Bagus ae, lakas begawi ja nyaman membantui orang tua. Ya kalo, ding?&#8221; kalimatnya diakhiri dengan tawa santai.<br />
&#8220;Inggih, Man. Insyaallah&#8221;<br />
&#8220;Nyaman lah, ding kawa kuliah. Anak paman handak ae. Tapi kaya apa, larang banar biaya kuliah wahini. Orang sakit kaya Paman ini kada sanggup mengongkosi. Tapi alhamdulillah inya kawa ja dapat gawian&#8221;<br />
&#8220;Anak paman binian kah lakian? Sekarang begawi dimana, Man?&#8221;<br />
&#8220;Binian, ding. Sekarang inya begawi jadi penjaga toko. Wahini kalau lulusan SMA kada kawa lagi begawi harat-harat. Tapi, itu ja syukur banar, kawa ja membantui adding-adingnya sekolah&#8221;<br />
&#8220;Anak Paman berapa?&#8221;tanyaku sekarang semakin tertarik.<br />
&#8220;Tiga. nang kedua SMP, nang pehalusnya masih SD&#8221;<br />
&#8220;Oh&#8221; jawabku pendek.</p>
<p>Pasti rasanya berat sekali menjadi tulang punggung di usia senja seperti beliau ini. Aku tahu bagaimana beratnya itu. Dulu, semasa almarhum ayah masih hidup, waktu yang terberat dihadapi adalah saat ulangan umum menjelang. Bukan apa-apa, itu pertanda bahwa beliau harus melunasi biaya sekolah aku yang di SMP dan Kak Ivan yang di SMA yang selalu tertunggak.</p>
<p>Ah, ayah. Sekejap wajah ayah terbayang jelas di benak dan kerinduan itu kembali menonjok ulu hati. Lampu-lampu yang terlewat di sepanjang jalan seolah menjadi penghias malam membuatku semakin asyik sendiri terbuai dengan lamunanku. Sampai…</p>
<p>&#8220;Ding, di sini kah?&#8221; suara paman becak membawaku menyadari dimana aku sekarang. Dekat di depan sana bangunan Mesjid Jami berdiam bisu bermandi cahaya bulan penuh sempurna.</p>
<p>&#8220;Ya, di sini aja, paman ae&#8221; becak pun perlahan berhenti tepat di depan sebuah gang. Aku turun dengan gesit seolah sudah tak sabar ingin segera sampai di rumah.<br />
&#8220;Ini, man. Makasih lah?&#8221; ku serahkan selembar uang sepuluh ribuan kepadanya. Ketika ia hendak merogoh kantong celananya, tanganku bergerak membentuk isyarat.</p>
<p>&#8220;Kada usah paman. Buat Paman ja&#8221;. Aku tersenyum yang dibalas dengan pandangan berbinar-binar dari mata lelaki tua di depanku itu.</p>
<p>&#8220;Makasih lah, ding. Makasih banar&#8221; sedikit merunduk ia memegang uang kerrtas yang tadi ku berikan. Sambil tak berhenti tersenyum, ia menaiki kembali becaknya dan berlalu meninggalkanku.</p>
<p>Rumahku masih beberapa meter lagi dari bibir gang tempat aku berdiri. Sambil berjalan, wajah sumringah Paman becak tadi meninggalkan kesan yang tak bisa kulupakan. Aku hanya memberikan empat ribu kembalianku saja tapi lihat bagaimana ekspresi yang keluar dari wajahnya. Ekspresi penuh syukur dan kegembiaraan yang mungkin sulit untuk dimengerti para hartawan. Ketika nilai empat ribu begitu dianggap kecil saat sekarang ini, nilai itu tetap akan bernilai banyak bagi orang-orang tak berharta yang semakin sesak nafasnya digilas nasib. Bisa mengertikah para hartawan itu?</p>
<p>Aku tersenyum. Entah kenapa langkahku terasa begitu ringan ketika ingat bagaimana kegembiaraan yang terpancar dari wajah Paman becak tadi. Di tanganku masih kupegang dompet yang belum kumasukkan ke dalam tas sewaktu membayar ongkos becak tadi.</p>
<p>Ku buka lipatan dompet ditanganku dan senyumku lebih mengembang begitu melihat selembar uang lima ribuan tersimpan nyaman di dalamnya. Ya, cuma itu yang tersisa untuk besok. Bahkan mungkin untuk lusa juga. Kini aku tertawa sendiri.</p>
<p>Ah, kulangkahkan kakiku semakin cepat mendekati rumahku. Dan kini rasanya langkahku semakin ringan saja ketika suara ayah yang tak pernah kulupakan dalam setiap detik menggema kembali dalam ruangan sepi batinku.</p>
<p>&#8220;Tidak perlu menunggu jadi hartawan untuk menjadi dermawan, bukan?&#8221;</p>
<p>Ku tatap bintang langit malam disana. Ingin rasanya aku berbicara langsung padanya.</p>
<p>Terima kasih, Ayah… Aku bangga terpilih menjadi putrimu…</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rahayusuciati.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rahayusuciati.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahayusuciati.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahayusuciati.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahayusuciati.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahayusuciati.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahayusuciati.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahayusuciati.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahayusuciati.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahayusuciati.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahayusuciati.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahayusuciati.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahayusuciati.wordpress.com&blog=1472501&post=16&subd=rahayusuciati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/10/29/dermawan-dalam-kesederhanaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b4fc2055e9ab66e99d4ea394bed1dc79?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rayu Suci</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Die Hard, Film Buatan Amerika yang Tak “Amerika”</title>
		<link>http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/09/06/die-hard-film-buatan-amerika-yang-tak-%e2%80%9camerika%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/09/06/die-hard-film-buatan-amerika-yang-tak-%e2%80%9camerika%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Sep 2007 08:37:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rahayusuciati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/09/06/die-hard-film-buatan-amerika-yang-tak-%e2%80%9camerika%e2%80%9d/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Rahayu Suciati 
Hari selasa lalu saya mendapat kesempatan untuk nonton bareng flm Die Hard sequel ke empat yang sedang tayang di Studio 21 Duta Mall. Awalnya ketika ditelepon oleh rekan saya, Syamsu, yang katanya diajak oleh Pak Ersis Wa, saya sempat berpikir sebentar. Pasalnya saya bukan pecandu dan penikmat film-film bergenre action ataupun thriller. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahayusuciati.wordpress.com&blog=1472501&post=15&subd=rahayusuciati&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;"><strong>Oleh : Rahayu Suciati</strong></span><span style="font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Hari selasa lalu saya mendapat kesempatan untuk nonton bareng flm Die Hard sequel ke empat yang sedang tayang di Studio 21 Duta Mall. Awalnya ketika ditelepon oleh rekan saya, Syamsu, yang katanya diajak oleh Pak Ersis Wa, saya sempat berpikir sebentar. Pasalnya saya bukan pecandu dan penikmat film-film bergenre action ataupun thriller. </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;">Kalau soal pengetahuan mengenai film-film tersebut, saya bisa cekak kuadrat, alias tidak tahu apa-apa. Film-film action yang saya tonton bisa dihitung dengan jari. </span><span style="font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;"><span id="more-15"></span></span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Alasan sebenarnya mengapa saya tidak terlalu menyukai film action atau thriller sederhana saja, karena terlalu benyak kekerasan, adegan hajar-meghajar, darah dimana-mana, suara pistol di sana-sini. Tapi, entah kenapa berbeda dengan film Die hard. Mengapa?</span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span><span style="font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;">Yang pasti nama Bruce Willis sebagai pemeran utamanya bisa menjadi jaminan mutu kalau film action yang dibintanginya sangat sayang untuk dilewatkan. Sebut saja salah satu contohnya, film Armagedon yang melegenda menjadi box office di seluruh dunia, yang juga salah satu film favorit saya. Jadi, tak terlalu lama berpikir saya langsung menerima ajakan nonton tersebut.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Ketika sampai di studio, ternyata tepat di jam pemutaran ke dua yaitu jam 14.55. Karena Pak Ersis memang masih belum tiba di studio, kami sempat ragu untuk membeli tiket di waktu penayangan saat itu atau dua jam berikutnya Namun, setelah menelepon beliau, maka dipilihlah waktu penayangan saat itu juga.</span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">Setelah menunggu kurang lebih sepuluh menit, yang ditunggu belum muncul juga. </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;">Terrnyata Pak Ersis mengajak Pak Jumadi, salah satu pengajar di FKIP. Jadi, tanpa banyak buang waktu, segeralah kami ke dalam untuk menyaksikan pertunjukan film yang tengah diputar.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Begitu masuk, saya langsung disambut desingan peluru bersahutan. </span></span><span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;">Tak heran karena saat itu adegan sudah memasuki tahap “tegang” dimana John Mclaine, alias Bruce Willis sedang seru-serunya teribat aksi tembak-menembak dengan beberapa pembunuh bayaran yang sedang mengincar target mereka, Mathew Farrel, si Hacker “kakap”. </span></span><span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;">Rupanya kami sudah kelewatan Tahap “pemanasan” dan bagian <em>introduction</em>nya. Tapi, tak apalah, karena jalan cerita masih bisa langsung dicerna dengan jelas.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Di Majalah-majalah film umumnya, diakhir sebuah resensi film akan ada penilaian terhadap film tersebut. Jika saya ada di posisi perensensi, saya pasti akan memberikan bintang </span><span style="font-family:Arial;">lima</span><span style="font-family:Arial;"> untuk film Die Hard 4.0 ini. Atau dengan kata lain, film ini masuk kualifikasi sebagai film sangat bagus dan amat layak ditonton.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Alur film ini begitu mengalir. Plotnya sederhana dan mudah diikuti. Dari segi jalan cerita, film ini benar-benar menyuguhkan ketegangan di hampir sepanjang durasinya. Walau tembak-menembak, perkelahian, pembunuhan, kejar-kejaran mematikan, hingga banyak kecelakaan mewarnai cerita, namun semuanya dikemas begitu “halus”. Dengan kata lain, hanya “sedikit” darah yang terlihat di sepanjang film.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Yang paling menarik di mata saya adalah pengetahuan dan pesan yang saya tangkap dari film ini. Bahwa betapa kekuatan dari sebuah negara berkuasa bisa menjadi bumerang terhadap penghancuran negara itu sendiri. Betapa negara Amerika yang begitu berkuasa di kancah dunia ternyata bisa sebegitu rapuh dan dikacaukan hanya dalam hitungan jam.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Siapa yang tidak mengetahui Amerika sebagai negara adikuasa dan paling berpengaruh dalam percaturan dunia internasional bahkan di semua bidang. Salah satu faktor yang membawa Amerika pada kemajuan begitu pesat adalah penguasaan teknologi yang terdepan. Apa sih yang tidak dijalankan dan dikendalikan oleh komputer? </span></span><span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;">Semua bidang pekerjaan dan sistem pekerjaan tak ada satupun yang tak tersentuh komputerisasi. Mulai dari perekonomian, pertahanan dan keamanan, transportasi, layanan publik, telekomunikasi, hingga semua departemen pemerintahan.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Film Die Hard bisa jadi memblejeti Amerika.<span> </span>Tak tanggung-tanggung, serangan total (fire sale) atau terorisme virtual dalam sekejap bisa memporakporandakan segala sistem disana. Bukan dengan bom yang identik dengan serangan teroris sehingga meledakkan dan meluluhlantahkan bangunan dan memakan begitu banyak korban. Melainkan dengan cara lebih halus, menyusup ke dalam sistem komputerisasi dari pusat pengendalian dan informasi milik pemerintah. </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;">Maka, transportasi, jaringan kominikasi, kebutuhan publik, dan keamanan mengalami kekacauan. </span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">Bahkan terorisme secara virtual ini bisa lebih berbahaya dan dapat mengakibatkan <em>chaos</em> yang lebih besar dibanding dengan serangan bom berskala besar sekalipun. Kepanikan masal dengan cepat tercipta hingga yang terburuk yaitu pembobolan semua aset berharga milik pemerintah. </span><span style="font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Yang tak kalah menarik menurut kacamata saya adalah pemicu awal dari kekacauan tersebut sebenarnya bersumber dari ketidakpercayaan. Thomas Gabriel, dalang dari <em>fire sale</em> dalam film tersebut melakukan serangan itu dilatarbelakangi oleh rasa dendam dan kekecewaan terhadap keangkuhan pemerintah Amerika. Bahwa seseorang yang awalnya hanya ingin memperbaiki sistem pertahanan dan informasi Amerika yang dinilainya rapuh berbalik menjadi kriminal yang ingin menghancurkan negaranya sendiri akibat sikap arogan pemerintah Amerika yang tak menggubrisnya sama sekali. </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;">Tak ayal, serangan virtual yang dipercayai sebagai mitos belaka berhasil diwujudkannya sebagai bukti kebenaran pendapatnya.</span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">Bayangkan saja, bagaimana jika si antagonis, Thomas Gabriel berhasil menerobos seluruh aset finansial Amerika. Berapa banyak kekayaan Amerika yang akan hilang atau bahkan lebih parah ketika seluruh informasi dan dokumen negara ia hanguskan begitu saja. “Kita akan kembali ke jaman batu”, begitu salah satu petikan dialognya. </span><span style="font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Jadi, negara kita bolehlah sedikit bernafas lega karena serangan virtual seperti ini mungkin saja tidak terlalu ampuh untuk melumpuhkan sistem kenegaraan dan roda kehidupan kita sehari-hari. Bukankah masih banyak sistem data dan informasi dalam departemen pemerintahan kita yang masih dalam era “jaman batu”? hehe…</span><span style="font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Kembali lagi, film Die hard sequel ke empat ini harus diacungi dua jempol. Di tengah kebanyakan film-film Amerika yang sarat propaganda, film ini menyajikan sesuatu berbeda. Sebagai negara paling berkuasa, memang tidak sepatutnya sikap arogan begitu diumbar pemerintah Amerika. Teknologi seperti seperti dua sisi mata uang. Bisa sangat membawa perubahan dan kemajuan namun ternyata bisa menjadi pembunuh mematikan.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Amerika boleh saja menjadi negara adikuasa tetapi bukanlah negara paling sempurna. Karena apa yang dikatakan sempurna sebenarnya paling mendekati kehancuran. </span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">Film action satu ini sekarang menjadi film action yang paling saya sukai. </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;">Karenanya, setelah film selesai, rasanya ingin segera menonton sequal-sequal sebelumnya. </span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">Ada</span><span style="font-family:Arial;"> satu petikan yang paling berkesan dari dialog ketika Mathew Farrel menanyakan alasan Si John Mclaine bersedia melawan kejahatan meski harus melakukan hal-hal gila dan melewati banyak bahaya. </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;">Mclaine hanya menjawab:</span><span style="font-family:Arial;">“Karena tidak ada yang mau melakukannya”. Dan itulah yang membuat Ia menjadi pahlawan.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Top untuk film ini….</span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;"> </span></span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;"></p>
<p align="left" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p></span></p>
<p align="left" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;" class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;"></span></strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rahayusuciati.wordpress.com/15/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rahayusuciati.wordpress.com/15/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahayusuciati.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahayusuciati.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahayusuciati.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahayusuciati.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahayusuciati.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahayusuciati.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahayusuciati.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahayusuciati.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahayusuciati.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahayusuciati.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahayusuciati.wordpress.com&blog=1472501&post=15&subd=rahayusuciati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/09/06/die-hard-film-buatan-amerika-yang-tak-%e2%80%9camerika%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b4fc2055e9ab66e99d4ea394bed1dc79?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rayu Suci</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Antara Buku dan Celana Jeans Terbaru</title>
		<link>http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/08/23/antara-buku-dan-celana-jeans-terbaru/</link>
		<comments>http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/08/23/antara-buku-dan-celana-jeans-terbaru/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Aug 2007 03:44:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rahayusuciati</dc:creator>
				<category><![CDATA[FKIP Unlam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/08/23/antara-buku-dan-celana-jeans-terbaru/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Rahayu Suciati 

Kira-kira kalau ada pertanyaan sseperti ini: “Sudah seberapa cintanya kah masyarakat kita dengan buku? Jawabannya akan seperti apa ya? 
Jawabannya bisa tergantung dari seberapa besarnya minat masyarakat kita akan membaca. Sayang disayang tingkat minat baca dalam masyarakat kita masih tak begitu menggembirakan.     
 Yang jelas berdasarkan pengalaman saya, minat membaca diantara teman-teman kuliah bolehlah dikatakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahayusuciati.wordpress.com&blog=1472501&post=14&subd=rahayusuciati&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center"><span style="font-family:Arial;">Oleh : <strong>Rahayu Suciati</strong></span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Kira-kira kalau ada pertanyaan sseperti ini: “Sudah seberapa cintanya kah masyarakat kita dengan buku? Jawabannya akan seperti apa ya?</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Jawabannya bisa tergantung dari seberapa besarnya minat masyarakat kita akan membaca. Sayang disayang tingkat minat baca dalam masyarakat kita masih tak begitu menggembirakan.<span>  <span id="more-14"></span>   </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">Yang jelas berdasarkan pengalaman saya, minat membaca diantara teman-teman kuliah bolehlah dikatakan cukup bagus. Walaupun genre bacaannya kebanyakan masih suka pilih-pilih. Umumnya masih menggilai komik ataupun novel <em>teenlit </em>dan <em>chicklit</em>. Tapi, itupun sudah merupakan hal positif dibanding jika tidak suka membaca sama sekali. Karena menurut saya, membaca apapun itu, pastilah ada informasi atau sesuatu yang bisa dipetik sebagai pengetahuan atau pelajaran.</span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Dulu saya pribadi juga terbilang tipe pembaca yang konservatif. Maksudnya cuma membaca apa yang disuka. Sebatas novel, majalah remaja dan cerita pendek. Kalau melihat buku berjenis lain apalagi jika halamannya luar biasa tebal, saya bisa merinding duluan. </span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Tapi, seiring bertambah umur dan kebutuhan informasi yang harus terpenuhi ditambah mengantisipasi wawasan cekak, membaca tanpa pilih-pilih secara perlahan mulai saya seriusi. Buku-buku yang dulu pernah membuat saya mengantuk bahkan ketika baru membaca judulnya, coba untuk dibaca. Hasilnya lumayan juga, walaupun terkadang buku-buku tertentu masih ditaruh di nomor urut belakang sih. Hehe…</span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Semakin memperdalam membaca apa saja, jadi semakin menyesali waktu yang terbuang begitu saja dahulu. Andai saja banyak waktu itu saya gunakan untuk membaca, pastilah saya tak menjadi miskin wawasan.</span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Tapi, untuk apa menyesal tanpa memperbaiki diri, bukan? Karena itu, sekarang saya sedang berusaha untuk bisa rutin membeli buku. Kalau dulu membeli buku memakai perhitungan dan segala macam rumus keekonomisan sampai perlu perenungan sambil memutari seluruh isi toko barulah memutuskan untuk membeli, sekarang sudah ada perbaikan. Kalau melihat buku yang sangat ingin dibaca, langsung dibeli begitu ada uang.</span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Tak perlu pakai perhitungan matang, karena buku tak pernah memberi kerugian. Walhasil, sekarang koleksi buku sedikit bertambah walau belum banyak. Pelan-pelan dulu, segala sesuatu </span><span style="font-family:Arial;">kan</span><span style="font-family:Arial;"> butuh proses.</span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Sampai pernah saking “ngebetnya” beli buku, akhir bulan saya lalui dengan kantong kempis sampai benar-benar tipis. Hehe…Tak apalah, yang penting hati senang.</span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Sewaktu berlibur ke </span><span style="font-family:Arial;">Balikpapan</span><span style="font-family:Arial;"> bulan lalu, Ibu saya pernah bilang “Jeans kamu kok udah pada buruk sih?” saya cuma mesem saja. Baru ingat kalau sudah lama saya tidak pernah membeli jeans baru. Uangnya saya larikan ke toko buku bukan ke toko jeans, haha…</span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Kalau ingat jeans, saya jadi teringat salah satu teman kampus saya. Cewek modis yang tidak pernah ketinggalan mode terbaru. Pokoknya setiap ada model jeans terbaru dilempar ke pasaran, dia tak pernah absen untuk memilikinya. </span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">Pernah satu pertanyaan hinggap di benak saya? Dia punya berapa jeans ya dalam lemarinya? Belum terjawab. Lalu disusul pertanyaan kedua; Dia punya berapa buku ya dalam rak bukunya? Ini juga belum terjawab. Cuma dia dan Tuhan yang tahu.</span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Hal serupa juga saya perhatikan dari teman-teman yang terbilang sangat berada. Setiap bulan atau minggu selalu saja ada <em>outfit</em> baru yang dia beli. Tentunya dengan merek yang harganya pasti sudah bikin sekarat kantong saya. Begitupun dengan mobile phone yang dia gunakan, selalu model terbaru dengan fiture tercanggih. Sayangnya, begitu masuk ke kamarnya, buku yang ada hanya sebatas buku diktat kuliah. Jadi berpikir lagi, andai saja saya di posisi dia, wah bisa boros sekali membeli buku paling baru nih. Hehe….</span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Tapi, begitulah cara pandang dan pola pikir kita. Tak ada yang serupa tiap individunya. Mungkin bagi seseorang, buku itu adalah sesuatu yang berharga untuk dimiliki. Tapi mungkin bagi yang lain jeans bisa lebih utama. Itu semua soal prioritas, pilihan. Setiap orang pastinya memakai “peci” masing-masing.</span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Namun, alangkah indahnya kalau suatu saat masyarakat kita bisa memprioritaskan buku sebagai hal penting dalam pemenuhan kebutuhan. Jiwa kita butuh penyegar, dan buku bisa menjadi salah satu medianya. Otak kita butuh suntikan nutrisi, buku tentu bisa memenuhinya. </span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Membeli buku, diakui atau tidak, belum menjadi budaya masyarakat kita. Alasan utamanya bisa dikatakan karena harga buku yang boleh terbilang kurang ekonomis bagi kantong orang </span><span style="font-family:Arial;">Indonesia</span><span style="font-family:Arial;">. </span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Suatu hari sewaktu berkeliling di toko buku, teman saya pernah berkata: ”Kenapa sih buku bagus itu selalu mahal”. Saya cuma bisa tersenyum. Pertanyaan itu lebih bagus ditanyakan ke siapa yah?</span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Mendadak jadi teringat perkataan teman yang lain; “Membeli buku itu Jihad Fisabilillah”. Haha… boleh jadi benar kalau melihat kenyataannya, apalagi ketika kantong tak mendukung. Urusan “hidup” atau “mati” di akhir bulan, bos. hehe….</span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Beberapa waktu terakhir saya baru membaca buku tentang <em>quantum learning</em>. saya sungguh sadar diri kalau saya sangat ketinggalan jaman. Di saat semua orang sudah mengaplikasikannya, saya baru membaca teorinya. Tapi, tak ada kata terlambat untuk belajar bukan? </span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Bukan apa-apa, saya baru menemukan bukunya di salah satu perpustakaan kampus. Wah, kagum juga saya dengan perpustakaan itu. Maklumlah menurut pengalaman sebelumnya, buku perpustakaan di </span><span style="font-family:Arial;">Banjarmasin</span><span style="font-family:Arial;"> identik dengan buku berusia uzur. Hehe…</span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Tapi, bagaimanapun yang namanya meminjam tetaplah tak nyaman. </span><span style="font-family:Arial;">Ada</span><span style="font-family:Arial;"> batas waktu pengembalian yang mesti dipatuhi. Kemudian terpetik ide untuk membeli sendiri. Ternyata harganya “aje gile” ( itu kalau menurut saya). Tapi, niat tak boleh surut, “Jihad” harus terus berlangsung walaupun harus ditunda sementara dulu.</span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Jadi, antara jeans dengan buku terbaru, mana yang lebih penting yah? Itu terserah anda. Pada intinya, saya cuma berharap bahwa suatu hari kelak kita akan berovolusi menjadi masyarakat yang gemar membaca.</span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Sekali lagi, saya jadi teringat satu pengalaman sewaktu dalam perjalanan pulang menuju </span><span style="font-family:Arial;">Banjarmasin</span><span style="font-family:Arial;">. Ketika di terminal, saya melihat dua orang turis mancanegara yang juga sedang menunggu bis untuk rute perjalanan yang sama. Seperti lumrahnya terjadi di </span><span style="font-family:Arial;">Indonesia</span><span style="font-family:Arial;">, jam pemberangkatan bukan lagi berdasarkan WITA melainkan waktu “KARET” alias molor kurang lebih satu jam.</span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Otomatis yang menjadi tontonan saat itu sudah pasti dua bule tadi. Namun, yang lebih menarik perhatian saya adalah, bule-bule tesebut melewatkan waktu menunggu dengan membaca buku. Hal sangat kontras bila dibandingkan dengan penumpang lain yang menghabiskan waktu dengan sekedar mengobrol atau malah melamun sendiri. </span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Wah, dilihat dari situ saja budaya kita sangat berbeda dengan budaya baca orang luar negeri. Karena itu bukankah hal yang amat baik jika kita mencontek budaya membaca masyarakat luar yang begitu tinggi. Bukan hanya mengekor modernisasinya saja.</span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span><strong><span style="font-family:Arial;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="font-family:Arial;">Masyarakat pecinta buku</span></strong><span style="font-family:Arial;">, semoga segera terwujud sebagai gelar bangsa </span><span style="font-family:Arial;">Indonesia</span><span style="font-family:Arial;">. Jadi, setelah ini saya ingin ke outlet yang menjual jeans atau toko buku ya? Toko buku dong! hehe…</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rahayusuciati.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rahayusuciati.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahayusuciati.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahayusuciati.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahayusuciati.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahayusuciati.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahayusuciati.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahayusuciati.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahayusuciati.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahayusuciati.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahayusuciati.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahayusuciati.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahayusuciati.wordpress.com&blog=1472501&post=14&subd=rahayusuciati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/08/23/antara-buku-dan-celana-jeans-terbaru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b4fc2055e9ab66e99d4ea394bed1dc79?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rayu Suci</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jutaan Rindu Untuk Bapak</title>
		<link>http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/08/21/jutaan-rindu-untuk-bapak/</link>
		<comments>http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/08/21/jutaan-rindu-untuk-bapak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Aug 2007 11:14:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rahayusuciati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/08/21/jutaan-rindu-untuk-bapak/</guid>
		<description><![CDATA[ Oleh Rahayu Suciati  

Matahari perlahan menunduk. Ditemani awan-awan putih yang menggantung dengan latar semburat siluet merah yang menghias diantaranya. Senja akan mengganti sore. Sayup lantunan dzikir dan doa terlantun dari langgar di seberang jalan sana. Seperti nyanyian sore sebelum adzan maghrib berkumandang.  
Aku duduk sendiri, melamun. Termangu diantara berisik suara motor melaju di jalan depan pondokanku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahayusuciati.wordpress.com&blog=1472501&post=13&subd=rahayusuciati&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center"><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">Oleh</span><strong><span style="font-family:Arial;"> Rahayu Suciati</span></strong><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Matahari perlahan menunduk. Ditemani awan-awan putih yang menggantung dengan latar semburat siluet merah yang menghias diantaranya. Senja akan mengganti sore. Sayup lantunan dzikir dan doa terlantun dari langgar di seberang jalan sana. Seperti nyanyian sore sebelum adzan maghrib berkumandang. <span id="more-13"></span></span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Aku duduk sendiri, melamun. Termangu diantara berisik suara motor melaju di jalan depan pondokanku dan riang anak kecil yang berlari sambil bernyanyi. Cempreng dan lagunya tak jelas. Bedak putih menempel sembarangan di wajah lugu mereka. Rambut mereka basah tanda sehabis mandi. </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Ah, anak kecil. Aku pernah melewati tahun di mana tubuhku setinggi mereka dan suaraku secempreng itu. Lima belas tahun yang lalu aku sama seperti mereka. Yang suka berlari dan bernyanyi lantang tanpa rasa malu atau takut di lempar sepatu.</span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">Otakku tiba-tiba ingin bernostalgia. </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Tapi entah kenapa semenjak usiaku menginjak kepala dua, susah rasanya mengingat lagi bagaimana perasaan itu. Perasaan sewaktu aku masih kecil. Memang sebagian kenangan itu masih tertata rapi di memori otakku. Seperti album kenanganku dari masa ke masa. Tapi album itu sudah lama kubiarkan usang dan tak pernah kubuka. Tertutup rapi di gudang penyimpanan memori. Terpental oleh yang namanya kesibukan. Terbuang dan disepak oleh rutinitas.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Entah kenapa pikiran yang selalu melintas muncul setiap kali membuka mata adalah aku manusia yang tiba-tiba sudah berumur 22 tahun. Puluhan ribu hari menjadi anak kecil dulu seperti sesuatu yang tidak nyata dalam fase hidupku. Pikiran yang biasanya menyusul muncul kemudian adalah; Kuliah apa hari ini? Siapa dosennya? Ada tugas apa tidak? Sarapan apa ya hari ini? Bla-bla&#8230; Ya, pertanyaan sejenis itulah yang selalu datang berkunjung dalam pikiran setiap hari. Tak pernah berhenti. Menuntut, merampas tawa naif semasa kecil dan mengubahnya menjadi seringai sinis pada dunia. Uh, mual rasanya. Muak dan ingin muntah di tempat. Sampai berak-berak.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Dan satu persatu lembar album memori terbuka perlahan. Seperti tirai merah yang membuka di panggung saat pertunjukkan drama akan dimulai. </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Adegan yang pertama muncul adalah aku yang berumur delapan tahun bermain dengan kakak perempuanku di depan pintu rumah. Bukan hanya bermain. Aku sedang menunggu. Di tiap senja hendak menjemput. </span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">Menunggu sosok lelaki berbadan gendut muncul dari ujung jalan sana. Berjalan mantap dalam balutan kemeja yang diikat kencang oleh ikat pinggang tua dalam celana kain yang diseterika rapi. Ditangannya tak pernah absen bungkusan plastik hitam. </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Wajah itu tampak letih. Tapi senyumnya selalu bisa muncul saat melihat aku di depan pintu. Tawanya mengembang dan tak lagi tampak letih itu dimatanya. Ketika aku bersuara;” Bapak&#8230;bapak sudah pulang. Bapak bawa apa?”. Dan diberikannya bungkusan itu padaku. Isinya biasanya hanya gorengan atau keripik singkong kesukaanku. Tapi aroma ratusan tawa tak ternilai selalu dapat tercium dari dalamnya. Tawa yang selalu kami nikmati bersama sembari menonton acara di tv 14 inchi yang usianya mulai menua saat itu.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Ada sesuatu yang mengaburkan pandanganku saat satu persatu adegan masa lalu menggelinding bak koin yang meluncur. Ada air mata yang seperti ingin keluar. Lalu adegan lainnya pun muncul lagi.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Aku yang baru masuk SD. aku begitu senang karena hari itu adalah kali pertama aku mengenakan seragam putih merah yang dijahit sendiri oleh ayahku. Hatiku riang dan terus ingin berdendang. Suara yang pertama kali membangunkanku untuk pergi ke sekolah adalah suara lembutnya. Suara bapakku. Suara itu yang bertahun-tahun kemudian juga tak pernah berhenti membangunkanku untuk pergi sekolah.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Ibuku sudah pergi ke pasar sejak subuh-subuh sekali untuk bebelanja barang-barang yang akan dijual di toko kami. Jadilah bapak yang menyisir rambutku, mambedaki wajahku, sampai meyiapkan sarapan dan teh hangat untukku. Dan selalu bapak juga yang menemaniku belajar matematika di saat malam menjelang tidur.</span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">Beliaulah yang tak pernah lelah menemaniku dan mendengar ceritaku yang begitu antusias karena bisa pulang cepat lantaran bisa membaca tulisan di papan tulis dengan lancar. Bahkan sampai tahun-tahun berganti bapak lah yang selalu membuatkanku teh hangat saat aku terlambat bangun.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Mataku semakin kabur oleh air yang berebut ingin jatuh dari mataku. Adegan berikutnya menunggu untuk diputar.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Aku yang berumur sepuluh tahun. Di kalender saat itu menunjukkan seminggu lagi lebaran akan tiba.</span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">“Pa, aku mau beli sendal lapis warna-warni kayak punya Tiwi. Biar bisa dipake buat lebaran” Aku membujuk bapakku yang tengah asyik menonton siaran berita. Yang selalu lucu kala bapak menonton berita adalah umpatannya yang selalu ada saja disela-sela berita seperti “Dasar hidung dapur, kebanyakan makan uang rakyat”, “Si&#8230;&#8230;bangsat. Hantu, raja korupsi. Mudah-mudahan di bakar di neraka” Seperti itulah. </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Dan dua hal yang terpikir olehku saat itu adalah; ”Apa bapak nggak takut anak tersayangmu ini merekam semua umpatan itu dan kupakai untuk menyapa teman di sekolah?” dan “Bapak cocok banget jadi pengamat politik”. Kemudian<span>  </span>saat dewasa aku sangat bersyukur dua hal itu tak pernah terjadi. Tapi lihat sisi lainnya, aku yang sekarang, dengan sukses bisa mengoleksi lebih banyak kosakata umpatan melampaui yang bapakku punya. Mungkin dengan sedikit diasah aku bisa menerbitkan kamus umpatan lengkap 2 milyar suatu hari. Siapa tahu?</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Bapakku hanya tersenyum sambil mengelus pelan rambutku. Bagiku itu tandanya iya. Tak ku tahu pesanan jahitan yang sepi bulan itu. Tak peduli aku pada sewa rumah dan rekening listrik yang menunggu untuk segera dilunasi. Yang ku tahu hanya sendal lapis warna-warni yang harus kupakai saat lebaran nanti.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Tepat di malam lebaran bapakku membagikan uang jatah lebaran pada kami semua. Lalu esoknya, melekatlah sendal lapis di kakiku, menempelah kemeja kotak-kotak di tubuh kerempeng kakak laki-lakiku, terbalutlah kaki sintal kakak perempuanku dengan celana jeans impian. Baju muslim baru juga menemani ibuku seharian. </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Kami tersenyum, bahagia. Bapak juga tersenyum, lebih bahagia. Dalam kemeja putihnya yang tak baru, dalam celana yang sudah bertahun dikenalnya, dengan ikat pinggang tua yang mengencang di perut suburnya. Dengan sendal yang sama seperti tahun sebelumnya. Entah lebaran kapan terakhir ia menimati segala yang baru. Tapi ia senang. Tapi ia puas.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Satu bulir air mata menuruni gundukan pipiku. Namun adegan demi adegan tak mau berhenti.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Aku yang sudah SMA. Punya geng dan punya banyak acara. Tugas inilah, datang ke ultahnya si anulah, atau cuma sekedar nongkrong sambil bergosip tak karuan. Menghabiskan waktu. Bahkan dari pagi hingga malam sering kulewatkan di luar rumah bersama teman. Ketawa ketiwi, asyik dalam dunia sendiri. </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Bapak adalah tipe orang yang memberiku kepercayaan penuh dan jarang melarang. Yang keluar dari beliau adalah petuah dan nasehat yang dulu kudengar sambil lalu.<span>  </span>Yang penting <em>happy</em>, hanya itu yang ada di otak ketika itu.</span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">Tak peduli aku pada bapak yang sabar menanti anaknya pulang. Tak pernah iba aku pada perasaan kesepian yang di dera hatinya saat jangkrik melagukan lagu malam bersama sunyi. Acuh aku akan perasaannya yang butuh teman bicara saat ibuku asyik menonton tv dan kakak laki-lakiku yang jarang terlihat di rumah entah sibuk dengan pacar atau band-nya. Lupa aku pada bungkusan plastik yang dibawanya setiap pulang kerja dan bajunya yang jarang sekali bisa baru. </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Sebutlah aku brengsek karena begitulah aku!</span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">Kesepian itu seringkali merajam hatinya saat insomnia jahanam itu membuatnya lupa bagaimana rasanya tidur nyenyak Tapi apa yang aku lakukan? Ketika beliau dengan gembira membukakan pintu untukku saat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Yang kuberi hanya sebuah senyum. Padahal beliau ingin sekali berbincang sembari menunggu ngantuk bertandang. Dengan muka lelah aku beralasan ngantuk dan ingin segera tidur. Padahal di dalam kamar itu aku masih terjaga menonton film baru yang baru dibeli kakakku tadi siang. Ya, aku lah si brengsek.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Saat keluar kamar untuk ke kamar kecil, bapakku masih disana. Koran tergeletak sembarangan di meja. Beliau masih duduk di sana dengan mata terpejam sambil mendengkur nyaring. Bapak tertidur dalam posisi duduk. </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Di meja ada gelas berisi teh manis dengan setia menemani. Ada kenangan dengan gelas teh bapak. Dari kecil aku tak suka minum teh buatanku sendiri. Aku selalu minum teh bapak yang dibuatkan ibuku atau kakakku di gelas besar kesukannya. Entah karena gelasnya atau apa, tapi rasa teh itu terasa enak sekali. Teh itu yang selalu kami minum bersama dan bapak tak pernah keberatan. Tapi semakin besar aku semakin jarang minum teh bersama di gelasnya. Kalaupun mau, aku membuatnya sendiri dan dengan gelas sendiri.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Kubangunkan beliau agar pindah ke kamar tidur. Aku tak ingin pagi harinya pinggang bapak encok karena tidur semalaman dalam posisi seperti itu. Bapak bangun dengan mata merah dan dengan langkah gontai menuju kamar.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Isak tangis yang tertahan membuncah juga. Kemudian adegan kembali ke beberapa tahun sebelumnya.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Aku yang kelas 3 SMP. Kami baru saja pindah rumah yang jaraknya jauh dengan sekolahku. Jarak itu yang mengharuskanku menggunakan angkot untuk pulang-pergi sekolah. Karena rumah kami yang berada di kompleks yang jauh dari jalan raya utama, aku terpaksa berjalan kaki cukup jauh untuk bisa mencegat kendaraan umum. Sambil didera panas siang, rasa lapar dan kaki pegal. </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Seringkali aku marah pada bapak yang tak memberi uang lebih untuk naik ojek saja. Tak kupikirkan beban bapakku yang juga harus memikirkan uang sekolah kedua kakakku yang sudah di lanjutan atas. Tak peduli aku. </span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Saat sampai di rumah, bapak selalu memberi senyum menyambutku pulang. Tapi apa yang kubalas? Mukaku selalu kukerutkan seperti orang yang paling menderita dan paling malang di dunia. Sampai suatu hari aku mengomel mengatakan bapak egois dan tak mengerti perasaanku karena membiarkanku capek setiap hari. </span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Mata bapak nanar seketika, siapa saja bisa melihat amarah di mata tua itu. Tapi tak secuil pun ia memukulku atau menamparku. Seumur hidup beliau memang tak pernah sekalipun menyakitiku. Sekali pun. Lantas amarah itu berganti sendu yang dalam, kecewa yang teramat. Aku tetap tak bergeming dalam egoisku sendiri. Acuh. Merasa aku benar dan aku menang. Aku puas, iblis pun tertawa kesenangan.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Tapi saat aku dewasa aku baru mengerti sendu itu adalah perih dan kecewa itu adalah luka. Malaikat pasti sudah mencibirku untuk semua luka yang kutorehkan di hati bapak. Hati beliau yang tak pernah pamrih atas semua pengorbanan yang tak terbalas.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Aku menangis sekarang. Tanpa suara. Isak sudah ditelan rindu yang sekarat. Cuma air mata yang bicara. aku rindu padamu, ayahku. Rindu pada tegarnya jiwamu yang sekeras batu karang. Aku rindu minum teh dari gelasmu, rindu menikmati keripik dari bungkusan plastik hitam<span>  </span>yang kau bawa saat pulang kerja, rindu suara lembutmu dan gedoran di pintu kamar yang membangunkanku untuk pergi sekolah, rindu mendengarmu mengumpati anggota DPR yang katamu tukang korupsi dan hobi tidur saat sidang, rindu pada bau baju lamamu, rindu mendengar dengkuranmu dan posisi tidurmu yang sambil duduk itu, rindu untuk memijitimu, rindu untuk berbincang. Berbincang apa saja. Tentang kuliahku, hari-hariku, dan tentang hari-harimu. Tentang rindu yang sudah menggunung dalam hatimu yang kesepian. Rindu pada anak-anak yang sibuk dengan urusannya masing-masing.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Tapi rindu itu cuma bisa jadi rindu. Tak bisa dituntaskan segera karena jarak ribuan kilometer yang mamisahkanku denganmu. Karena ruang yang berbeda walau waktu antara kita berkata sama. Sialan, brengsek, setan, kampret, tuyul yang namanya jarak itu. Lihatlah, pa. Bagaimana hebatnya anakmu mengumpat. Sepertimu yang selalu merasa bisa bebas kala mengumpat. Bebas dari belenggu beban hidup.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Adzan maghrib berkumandang sudah. Meyerukan semua umat untuk kembali pada Tuhan. Lupakan rutinitas dunia sejenak. Kembali meneguk damai bersama-Nya. Ah, rindu kembali menonjok ulu hati saat shalat selesai kutuntaskan. Rindu untuk shalat berjamaah denganmu. Rindu untuk mencium tanganmu ketika selesai berdoa bersama. Pipiku kembali basah oleh air mata, kali ini lebih deras.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Aku berdoa dalam hening yang menyamankan. Agar Tuhan memberikan waktu yang panjang untukmu dan untukku agar kita punya kesempatan berkumpul lagi. Agar bisa ku tebus banyaknya dosaku padamu. Agar bisa kubahagiakan engkau saat usia tuamu semakin menjelang. Hingga sebisa mungkin aku mampu, sampai seberapa lamanya kita bisa bertahan. </span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Aku ingin punya semua kesempatan itu. Dimana kau dengan jas kesukaanmu itu dengan bangga menghadiri wisudaku, dimana dengan wibawamu kau nikahkan aku dengan pria pedamping hidupku nanti, dimana kau dengan segala kebaikan dan ketulusanmu menggendong cucumu dengan tanganmu yang puluhan tahun lalu juga menggendong tubuh mungilku yang ringkih, dimana kita bahagia di sebuah rumah yang penuh dengan tanaman yang selalu kau impikan. </span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Jadi Tuhan, biarkan aku punya kesempatan untuk mengungkapkan pada beliau dengan segala balas yang aku bisa</span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">“Pa, aku sayang bapak. Sangat&#8230;”</span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><em><span style="font-family:Arial;">This story I dedicated to my lovely father.</span></em><em><span style="font-family:Arial;">My inspirator and supporter who always be there </span></em><em><span style="font-family:Arial;">no matter happen.</span></em><em><span style="font-family:Arial;">I love and miss u so&#8230;.</span></em><em><span style="font-family:Arial;">I only can say this ;</span></em><em><span style="font-family:Arial;">Thank u so much<span>  </span>4 everything&#8230;..</span></em><em><span style="font-family:Arial;">March 9, 2007 (2 am)</span></em><span style="font-family:Arial;"><span>                                                                  </span></span><font face="Times New Roman"> </font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rahayusuciati.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rahayusuciati.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahayusuciati.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahayusuciati.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahayusuciati.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahayusuciati.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahayusuciati.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahayusuciati.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahayusuciati.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahayusuciati.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahayusuciati.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahayusuciati.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahayusuciati.wordpress.com&blog=1472501&post=13&subd=rahayusuciati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/08/21/jutaan-rindu-untuk-bapak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b4fc2055e9ab66e99d4ea394bed1dc79?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rayu Suci</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Unlam Oh Unlam…</title>
		<link>http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/08/21/unlam-oh-unlam%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/08/21/unlam-oh-unlam%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Aug 2007 10:58:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rahayusuciati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/08/21/unlam-oh-unlam%e2%80%a6/</guid>
		<description><![CDATA[ Oleh Rahayu Suciati            
Jakarta. Kota ini memang pantas dibilang metropolisnya Indonesia. Segalanya begitu menggambarkan betapa megahnya kota ini. Bangunan yang tinggi menjulang, lalu lintas yang selalu padat dan rutinitas para penghuninya yang seolah tak kenal waktu. Banyak hal yang berubah dari kota ini sejak terakhir kali aku berkunjung kesini kira-kira tiga tahun lalu. Saat itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahayusuciati.wordpress.com&blog=1472501&post=12&subd=rahayusuciati&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center"><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">Oleh <strong>Rahayu Suciati</strong></span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p align="left"><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Jakarta</span><span style="font-family:Arial;">. </span><span style="font-family:Arial;">Kota</span><span style="font-family:Arial;"> ini memang pantas dibilang metropolisnya </span><span style="font-family:Arial;">Indonesia</span><span style="font-family:Arial;">. Segalanya begitu menggambarkan betapa megahnya </span><span style="font-family:Arial;">kota</span><span style="font-family:Arial;"> ini. Bangunan yang tinggi menjulang, lalu lintas yang selalu padat dan rutinitas para penghuninya yang seolah tak kenal waktu. Banyak hal yang berubah dari </span><span style="font-family:Arial;">kota</span><span style="font-family:Arial;"> ini sejak terakhir kali aku berkunjung kesini kira-kira tiga tahun lalu. Saat itu aku masih SMA, tapi sekarang ini aku sudah bergelar mahasiswa. Mahasiswa Unlam tepatnya.<span id="more-12"></span></span></p>
<p style="line-height:150%;margin:0;" class="MsoBodyText"><span style="font-family:Arial;"><span>          </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span> </span></span><span style="font-family:Arial;">Aku menginjak tahun kedua di jurusan pendidikan bahasa Inggris yang sedang kugeluti saat ini. Kemarin aku sudah menyelesaikan ujian finalku. Karena itu, sekarang saatnya menikmati liburan semester yang sudah ku nanti-nantikan. Kebetulan juga orangtuaku mengajakku berlibur di </span><span style="font-family:Arial;">Jakarta</span><span style="font-family:Arial;"> sambil mengunjungi keluarga <em>abahku</em> yang tinggal disini. Jadi tentunya tak akan kusia-siakan kesempatan ini.</span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Dan di </span><span style="font-family:Arial;">kota</span><span style="font-family:Arial;"> yang penuh hingar bingar inilah aku sekarang. Devi, sepupuku yang hanya terpaut satu tahun usianya diatasku itu begitu antusias menyambutku di rumahnya kemarin. Segala cerita dan berita saling kami tukar begitu kami bertemu. Kami memang sangat dekat sejak kecil sewaktu ia dan keluarganya masih menetap di </span><span style="font-family:Arial;">Banjarmasin</span><span style="font-family:Arial;">. Sayangnya setelah lulus SMP ayah Devi dipindahtugaskan ke </span><span style="font-family:Arial;">Jakarta</span><span style="font-family:Arial;">, sehingga kami berpisah jauh sejak saat itu. Karena itulah pertemuan ini telah lama kami tunggu untuk melepas kangen karena sudah tiga tahun tak saling bertemu.</span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Sekarang jam empat sore. Aku masih menunggu Devi pulang. Sejak siang tadi ia pergi ke rumah temannya untuk rapat majalah kampus yang akan terbit minggu depan. Sebagai seorang mahasiswa ia memang termasuk aktif dalam kegiatan kampus. Mahasiswa UI yang satu itu memang hobi menulis sejak kecil. Tak heran kalau ia memilih terlibat dalam komunitas menulis untuk koran kampusnya. Apalagi fasilitas di kampusnya sudah tak bisa diragukan lagi untuk menunjang hobinya itu. </span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Ah, jadi terpikir kampus sendiri jadinya. Sebenarnya seperti halnya Devi yang mencintai menulis, akupun seperti itu. Aku suka menulis apa saja. Artikel, cerpen bahkan novel sudah pernah kubuat. Sayang, masih sulit rasanya menyalurkan bakat menulis di kampus.</span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span><span style="font-family:Arial;">“Unlam? Orang </span><span style="font-family:Arial;">Banjarmasin</span><span style="font-family:Arial;"> kok kuliah </span><span style="font-family:Arial;">di Lampung</span><span style="font-family:Arial;">, </span><span style="font-family:Arial;">kan</span><span style="font-family:Arial;"> jauh banget tuh?” Tiba-tiba terngiang lagi perkataan salah satu teman Devi yang tadi siang datang bertandang ke rumahnya yang mengira kalau aku kuliah di universitas Lampung begitu aku mengatakan bahwa aku mahasiswa Unlam. Jujur saja ada perasaan kesal saat mendengar bahwa ia mengira kalau Unlam itu adalah Universitas Lampung. Siapa yang tak kesal kalau tempat kuliahnya di kira universitas lain.</span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Tapi hal seperti itu memang tak sekali terjadinya. Kejadian kemarin juga persis seperti itu. Ketika salah satu teman kerja Om Danu, ayah Devi, mengobrol sebentar denganku.</span><span style="font-family:Arial;">“Kuliah dimana, Rena?”</span><span style="font-family:Arial;">“Di Unlam, </span><span style="font-family:Arial;">Om</span><span style="font-family:Arial;">”</span><span style="font-family:Arial;">“Oh, Universitas Lampung ya?”</span><span style="font-family:Arial;">“Bukan, </span><span style="font-family:Arial;">Om.</span><span style="font-family:Arial;"> Universitas Lambung Mangkurat. Kalau Universitas Lampung </span><span style="font-family:Arial;">kan</span><span style="font-family:Arial;"> Unila”</span><span style="font-family:Arial;">“O iya ya. Terus Unlam itu dimana ya?”. Jeglek! Kalau ada di adegan kartun, pasti sekarang aku sudah jatuh dari kursi dan kepalaku jadi benjol sampai sebesar telur bebek. Halo??? Apa orang-orang tak ada yang tahu kalau Unlam itu ada di </span><span style="font-family:Arial;">Banjarmasin</span><span style="font-family:Arial;"> juga di<span>  </span>Banjar baru dan kalau mau lebih jelas tepatnya di Kalimantan Selatan? Apa Unlam sebegitu tak dikenalnya? Apa pamor Unlam sudah kalah telak dengan popularitas Universitas Lampung? Entahlah. Yang jelas memang tak sedikit orang yang tak tahu menahu tentang yang namanya Unlam itu.</span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Aku menarik nafas panjang. Perasaan kecewa menyelusup sedikit-sedikit dalam hatiku yang terus mendengungkan tanda tanya. Mengapa Unlam tak begitu dikenal masyarakat luas? Mengapa nama Unlam masih sayup-sayup terdengar diantara sepak terjang universitas lain?</span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Seketika muncul dorongan untuk membuat sesuatu agar bisa mengenalkan Unlam ke mata publik. Sebagai mahasiswa Unlam, aku tak mau jika tempat aku menimba ilmu terus-terusan tak banyak dikenal masyarakat. Aku ingin berbuat untuk universitasku. Aku tak mau diam saja. aku ingin menulis. Aku ingin mengenalkan Unlam ke seluruh nusantara. Yah, aku harus segera menulis!</span><span style="font-family:Arial;"><span>   </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">“Dan pemenang pertama jatuh ke tangan…Rena Budimansyah dari Universitas Lambung Mangkurat”. Seketika jantungku berdegap kencang, darahku terkesiap tak siap dengan kejutan yang menyambangiku malam ini. </span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">Tepuk tangan riuh menggema di seluruh ruangan Ballroom Hotel Indonesia malam itu ketika namaku disebut sebagai juara satu dalam lomba menulis artikel bertema “Kampusku, Pilihanku, Kebangganku” yang diumumkan pada malam ini. Aku tak menyangka kalau tulisan yang kubuat di rumah Devi dua minggu yang lalu itu bisa membawaku memenangkan perlombaan menulis yang diadakan oleh UI dan bertingkat nasional ini. </span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Tak pernah aku berharap bisa menjadi juara ketika Devi mendaftarkan tulisanku dalam lomba itu. Tak lebih yang kulakukan hanyalah membuat sebuah karya untuk menceritakan kebangganku menjadi mahasiswa Unlam serta harapanku agar Unlam bisa melangkah jauh lebih maju. Tapi yang terjadi malam ini sungguh suatu hal yang luar biasa bagiku. </span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">Ya Tuhan, aku yang hanya mahasiswa Unlam ini bisa menang dalam lomba menulis sekaliber ini. Itu berarti aku mengalahkan banyak pesaing lain yang berasal dari Universitas di seluruh </span><span style="font-family:Arial;">Indonesia</span><span style="font-family:Arial;">. Terima kasih, Tuhan.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Begitu menginjakkan kakiku di podium untuk menerima piala dan hadiah, puluhan lampu sorot menyorotiku , hanya aku. Tepuk riuh penonton pun semakin bergema keras. Ya ampun, aku belum pernah merasakan hal yang luar biasa seperti ini dalam hidupku. Aku, Rena Budimansyah?</span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">Ketika piala itu sudah ditanganku rasa senang semakin kuat menjalariku. Apalagi begitu aku diberikan sebuah kertas dimana jumlah hadiah yang kuterima tercetak diatasnya. Sepuluh juta! Aku dapat beasiswa sebesar itu? </span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">Puluhan blitz kamera mengabadikan gambarku yang berdiri di podium itu sambil memegang piala dan hadiah di kedua tanganku. Kulihat di kursi tengah, ayah, ibu, Devi serta </span><span style="font-family:Arial;">Om</span><span style="font-family:Arial;"> dan Tanteku menyorakiku dan bertepuk tangan begitu gembira. Air mataku tak kusadari mengalir jatuh mambasahi pipiku. </span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Begitu selesai acara, kami sekeluarga masih berkumpul di lobby hotel sambil tak habis-habisnya bercerita tentang kemenanganku ini ketika seorang pria yang kukenal sebagai panitia lomba menyapaku.</span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">“Rena, maaf ya ganggu sebentar, ada waktu nggak?” Pria itu bertanya ramah.</span><span style="font-family:Arial;">“Iya, ada apa ya?”</span><span style="font-family:Arial;">“</span><span style="font-family:Arial;">Ada</span><span style="font-family:Arial;"> yang mau ketemu kamu. Ayo saya kenalin” Aku pun mengangguk dan mengikuti langkah pria itu menuju tempat duduk di salah satu sudut lobby hotel tak jauh dari tempat keluargaku sedang berkumpul tadi. </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Di </span><span style="font-family:Arial;">sana</span><span style="font-family:Arial;"> sudah duduk lelaki setengah baya yang langsung berdiri begitu melihatku berjalan mendekat. Wajahnya berwibawa dan terkesan ramah.</span><span style="font-family:Arial;">“Rena, selamat ya. Kenalkan saya Pak Bima” Tangannya mengembang menunggu uluran tanganku.</span><span style="font-family:Arial;">“Terima kasih, pak” Jawabku sembari membalas uluran tangannya. Begitu ia menangkap ekspresi bingung dari wajahku, ia langsung menyambung kalimatnya.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">“Saya sudah baca tulisan kamu dan kamu memang pantas menjadi pemenang. Terus terang saya bangga dengan kamu. Sebenarnya saya juga lulusan dari Unlam tapi setelah lulus saya pindah kesini untuk meneruskan usaha kakek saya. Makanya rasanya senang sekali bisa melihat karya orang Unlam akhirnya bisa <em>go public</em> juga” ia tersenyum ramah. “Oh, jadi Bapak ini alumnus Unlam juga”. Aku membatin</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">“Begini, <em>Ding</em>. Sudah lama sekali sebenarnya saya mencari mahasiswa Unlam yang berbakat menulis karena saya punya obsesi untuk mengenalkan Unlam agar namanya bisa lebih terkenal lagi. Sejak kuliah saya selalu ingin melihat Unlam bisa lebih maju dan saya yakin sekali kalau lewat tulisan bisa menjadi jalan pembukanya. Sewaktu kuliah dulu saya aktif menulis artikel lho. Tapi karena kesibukan usaha saya sekarang jadi <em>kadada sampat</em> lagi <em>gasan</em> menulis, haha..” Ia tertawa ringan. Aku tersenyum juga sembari mengangguk kecil.</span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">“Makanya sudah memang niat saya untuk memfasilitasi semaksimal mungkin bagi anak Unlam untuk berkarya. Apalagi <em>Ding</em> Rena ini <em>urang Banjar jua kalo</em>? Saya kagum karena dalam tulisanmu, kamu juga menyertakan keperihatinan kamu terhadap budaya Banjar yang kurang mengemuka. Saya juga berpikir seperti itu, sebagai orang Banjar, <em>rasa prihatin jua bila suku Banjar kada tapi terkenal</em>. Padahal jumlahnya <em>banyak haja</em> malah paling banyak di </span><span style="font-family:Arial;">Kalimantan</span><span style="font-family:Arial;">, tapi anehnya suku kita <em>balum jua</em> bisa mengemuka. Ya kalo, Ding?” Rena mengangguk tanda setuju sambil tersenyum karena lucu mendengar bahasa Indonesia yang dicampurnya dengan bahasa Banjar itu. Terkesan gado-gado, tapi ia justru salut dengan pria ini. Sudah lama tinggal di Ibukota yang serba modern ini tapi ia tak melupakan akar budayanya sendiri. </span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">“Jadi saya berencana untuk mendanai kamu dalam penulisan buku yang mengupas suku Banjar. Kamu bisa mengupas segala hal yang bisa mengangkat suku Banjar. Apa saja, bisa budayanya, bahasanya atau sejarahnya, pokoknya semua tentang Banjar. Gerah juga rasanya kalau ke pergi ke toko buku atau perpustakaan tapi kadada yang mengupas suku Banjar. Maka dari itu kamu yang saya percaya sebagai penulisnya”. </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Aku hanya melongo begitu untaian kalimat itu mengetuk dinding telingaku. </span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">Hah! Aku membuat buku?? Apa mungkin? Ya Tuhan, begitu banyak kejutan menyenangkan yang ku dapat hari ini. Akhirnya mimpiku sebagai anak Banjar untuk menulis budaya dan sejarah Banjar bisa jadi kenyataan. Bagaimana ini bisa terjadi, Tuhan.</span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">“Bapak serius?” Hanya itu yang bisa kupaksa keluar dari mulutku setelah lama aku terdiam. Sebelum lebih lama lagi tampang konyolku plus mulut menganga akibat keterkejutan ini kupamerkan di depan Pak Bima.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">“Tentu saja. Ding Rena tidak perlu khawatir. Semua dana akan saya tanggung. Tugas kamu hanya menulis dan menjadikannya buku. Oya, selain tentang suku Banjar, saya juga ingin kamu menulis tentang Unlam. Saya sudah tak sabar lagi mengenalkan Unlam dan suku Banjar lewat buku ini. Ding Rena setuju?”</span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">“PASTI” teriakku tanpa sadar. Akupun tak lagi sadar ketika kakiku melompat kegirangan. Apa ini mimpi? Rasanya tak mungkin ini terjadi. Mimpikah aku? Ku pukul pipiku sekali untuk membuktikan bahwa ini nyata. Cukup sakit. Berarti ini nyata! Kupukul lagi sekali. Kali ini terasa lebih sakit. Dan kupukul lagi lebih keras….</span><span style="font-family:Arial;"><span>   </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span>◙ ◙ ◙</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">“Auw!” aku mengerang kesakitan. Sayup kudengar sebuah tawa yang akrab di telingaku. Begitu mataku jelas terbuka, sosok Devi sudah berdiri di depanku lengkap dengan tawa jahilnya. Kuraba pipiku yang dipikulnya cukup keras tadi. </span><span style="font-family:Arial;">“Sialan” aku melengos. Devi semakin cekikikan.</span><span style="font-family:Arial;">“Makanya jangan ketiduran di depan komputer. Kalau mau tidur ya tidur di tempat tidur dong, Ren” Deva berlalu ke dapur sebentar kemudian memberiku segelas air minum yang langsung kusambar.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">“<em>Tahu nih rasanya uyuh banar, makanya jadi teguring. Padahal tadi tuh aku handak menulis</em>” Ujarku sehabis mereguk habis air di gelas.</span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">“Makanya kalau loe ngantuk jangan dipaksa lagi, Ren. Loe tidur aja” Devi berkata ringan sambil menyalakan TV yang berada di depan tempat tidur di kamarnya ini. Lucu juga bila mendengar </span><span style="font-family:Arial;">gaya</span><span style="font-family:Arial;"> bicara Devi yang sudah fasih ber-loe-gue sekarang. Padahal dulu ia begitu kental dengan bahasa Banjar. Mungkin waktu enam tahun di </span><span style="font-family:Arial;">Jakarta</span><span style="font-family:Arial;"> sudah bisa mengubah Devi. </span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Tadi siang saja saat aku berbicara dalam bahasa Banjar dengannya ketika ia bersama teman-temannya, ia mempelototiku dan langsung menarikku ke dalam kamar untuk bilang kalau sebaiknya aku memakai bahasa Indonesia saja. Malu katanya. </span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">Ah, miris juga kalau melihat anak Banjar malu dengan budayanya sendiri. Kalau seperti itu kapan suku Banjar bisa terkenal dan terkemuka se-Indonesia jika anak Banjar masih malu dengan budayanya sendiri. Jauh-jauh mengenalkannya ke mata </span><span style="font-family:Arial;">Indonesia</span><span style="font-family:Arial;">.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Tidak seperti Pak Bima yang… Hei, Dimana Pak Bima tadi? Dimana pialaku? Aku teringat akan adegan kemenanganku yang tadi terhenti. Setelah tersadar aku melengos sendiri. </span><span style="font-family:Arial;">Cuma mimpi! Huh! Lalu kubaca tulisan yang tercetak di layar komputer di depanku yang baru selesai dua paragrafnya saja. </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Kuulangi lagi membaca judul tulisan yang tercetak disana.</span><strong><span style="font-family:Arial;"> </span></strong><strong><span style="font-family:Arial;">Unlam bukan Universitas Lambat Maju</span></strong><span style="font-family:Arial;">. Begitulah judul dari tulisan yang belum sempat kuselesaikan karena tertidur tadi. Mm, kapan ya Unlam bisa melesat maju? Aku membatin dan tanpa hentinya mataku terpaku pada tulisan di depanku.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Ah, andai saja orang seperti Pak Bima itu benar-benar ada. Andai saja suku Banjar yang terkenal itu bisa jadi nyata. Andai saja Unlam yang terkemuka itu bukan hanya mimpi. Andai saja….</span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">Apa daya? Unlam, oh Unlam…….</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Banjarmasin</span><span style="font-family:Arial;">, </span><span style="font-family:Arial;">23 April 2007</span><span style="font-family:Arial;"></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rahayusuciati.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rahayusuciati.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahayusuciati.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahayusuciati.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahayusuciati.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahayusuciati.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahayusuciati.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahayusuciati.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahayusuciati.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahayusuciati.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahayusuciati.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahayusuciati.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahayusuciati.wordpress.com&blog=1472501&post=12&subd=rahayusuciati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/08/21/unlam-oh-unlam%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b4fc2055e9ab66e99d4ea394bed1dc79?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rayu Suci</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Balada Perpustakaan Kota</title>
		<link>http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/08/21/balada-perpustakaan-kota/</link>
		<comments>http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/08/21/balada-perpustakaan-kota/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Aug 2007 10:32:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rahayusuciati</dc:creator>
				<category><![CDATA[FKIP Unlam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/08/21/balada-perpustakaan-kota/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Rahayu Suciati
            Berbincang perpustakaan merupakan tema favorit saya dalam obrolan. Membincangkannya dalam tulisan juga beberapa kali saya lakoni. Siapa sih yang tidak tahu dengan tempat satu ini. Rasaya setiap orang pastilah pernah atau sering menginjaknya. Pertanyaannya sekarang, sudah akrabkah perpustakaan dengan masyarakat kita?             
Sedikit bercerita pengalaman sendiri. Belakangan, iri juga rasanya hati melihat beberapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahayusuciati.wordpress.com&blog=1472501&post=11&subd=rahayusuciati&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center" style="margin:0;" class="MsoSubtitle"><font face="Arial"><span style="font-weight:normal;">Oleh</span><span><strong> Rahayu Suciati</strong></span></font></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span><span style="font-family:Arial;">Berbincang perpustakaan merupakan tema favorit saya dalam obrolan. Membincangkannya dalam tulisan juga beberapa kali saya lakoni. Siapa sih yang tidak tahu dengan tempat satu ini. Rasaya setiap orang pastilah pernah atau sering menginjaknya. Pertanyaannya sekarang, sudah akrabkah perpustakaan dengan masyarakat kita?</span><span style="font-family:Arial;"><span>            <span id="more-11"></span></span></span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Sedikit bercerita pengalaman sendiri. Belakangan, iri juga rasanya hati melihat beberapa teman yang sudah sukses ber-“say god bye”dengan kampus tercinta. Alias sudah lulus, sudah berhasil jadi tukang sarjana-lah singkatnya. Semoga tidak menambah jumlah pengangguran saja ya? He..he..</span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Semangat dan nyali mendadak berkobar-kobar lagi. Karena itu, beberapa minggu terakhir gencar mencari bahan referensi. Penggunaan waktu pun diatur lebih ketat, guna merampungkan skripsi dan segera menyusul teman-teman ke gerbang kelulusan.</span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Maka, perpustakaan yang sedikit terlupakan karena rutinitas kembali dijadikan pelabuhan harapan akan bertemunya saya dengan bahan dan referensi judul sripsi. Malahan, seluruh perpustakaan rasanya ingin segera di jelajahi. Mulai dari perpustakaan prodi, jurusan, juga perpustakaan pusat Unlam (dengan harapan tidak menuai kecewa lagi tentunya, he…he). </span><span style="font-family:Arial;">Perpustakaan daerah di Pecinan bahkan di Kilometer enam yang minta ampun jauhnya pun sudah siap masuk daftar penjelajahan.</span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Sampai suatu kebetulan. Ketika sedang membonceng kendaraan di sekitar jalan Anang Adenansi, saya tidak sengaja melihat plang yang bertuliskan perpustakaan umum. Pikiran pertama melintas adalah ketidakpercayaan dan keheranan, “masa sih di sini ada perpustakaan, bukannya perpustakaan daerah hanya ada di Pecinan dan Kilometer enam?”. </span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Setelah beberapa kali memastikan, ternyata apa yang dilihat mata saya tidak salah. Setelah memberitahu teman, hal serupa juga dirasakannya, heran dan bingung.</span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span><span style="font-family:Arial;">Akhirnya, daripada bingung sendiri, pergilah kami ke perpustakaan umum tadi. Setelah sampai di muka gedung, ternyata sesuai harapan, perpustakaan itu benar-benar ada. Tanpa buang waktu secepatnya kami menuju perpustakaan yang, sayangnya, berada di lantai tiga. Rupanya perpustakaan itu letaknya berada satu bangunan dengan gedung pramuka.</span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span>Sempat terpikir sesaat, kalau perpustakaan yang ada di bangunan sendiri dan tak perlu repot memasukinya saja bisa dikatakan tak ramai pengunjung. Bagaimana dengan perpustakaan dimana pengunjungnya harus menaiki tangga terlebih dahulu untuk sampai ke sana.?</span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Ketika masuk, lelah akibat menaiki tangga terobati. Ternyata pemandangan di dalamnya tidak mengecewakan untuk ukuran sebuah perpustakaan. Meskipun tidak luas, buku-buku yang ditawarkan bisa dibilang mengesankan.</span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Meski masih banyak rok kosong, arsip untuk </span><span style="font-family:Arial;">surat</span><span style="font-family:Arial;"> kabar cukup menjanjikan bagi siapa saja yang sedang dalam pencarian berburu informasi lama. Gambaran akan perpustakaan yang selalu menyediakan buku “antik” dan berusia senja sempat menyinggahi benak ketika pertama kali melihat-lihat. Tapi setelah menilik lebih dalam, ternyata banyak buku baru yang sebagiannya masih tergeletak dilantai dan sebagian lagi masih tersimpan di dalam kardus.</span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Saat berbincang dengan salah satu petugas, rupanya buku baru masih dalam tahap penyusunan ke dalam katalog. Rupanya perpustakaan ini masih “miskin” tenaga kerja hingga proses pengkatalog-an harus memakan waktu lama. Tak heran memang, saat berada disana, saya hanya melihat tiga pegawai dan dua diantaranyalah yang bertugas untuk mendaftar dan menyampul sekian banyak buku.</span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">Iseng, melmbolak-balik beberapanya. Wah, buku-buku tersebut bervariasi dan benar-benar cetakan baru. Jenis bukunya pun beragam, bahkan buku-buku pengetahuan anak dengan kualitas dan mutu amat baik berjejer dalam jumlah banyak.</span><span style="font-family:Arial;"><span>           </span></span><span style="font-family:Arial;"><span> </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Karena berstatus sebagai perpustakaan </span><span style="font-family:Arial;">kota</span><span style="font-family:Arial;">, maka peyelenggaraan dana tentu bergantung pada pemerintah </span><span style="font-family:Arial;">kota</span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">Banjarmasin</span><span style="font-family:Arial;">. Begitu pula dengan kiriman buku-buku baru tersebut. </span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Sayang disayang, perpustakaan umum rupanya hanya “numpang” di gedung pramuka tersebut. Prasarana pun boleh terbilang minim. Mobil yang sedianya digunakan untuk mensosialisasikan perpustakaan tersebut ke sekolah-sekolah melalui program perpustakaan keliling hanya ada satu<span>  </span>armada saja. Bandingkan dengan jumlah armada mobil milik para pelayan masyarakat kita. Tak<span>  </span>heran bila promosi atas keberadaan perpustakaan umum ini ke tengah masyarakat berjalan lambat.</span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-family:Arial;">Padahal perpustakaan seyogyannya menjadi elemen penting dalam pertumbuhan laju pendidikan. Sangat disayangkan memang jika perpustakaan yang bisa dikatakan sebagai ujung tombak majunya sebuah masyarakat, malah agak kurang mendapat perhatian. Sebagai perpustakaan </span><span style="font-family:Arial;">kota</span><span style="font-family:Arial;">, hal ini seharusnya perlu mendapat perhatian serius. </span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;">Banjarmasin</span><span style="font-family:Arial;"> sedang giat berbenah dan mempercantik diri. Apalagi pembangunan di sana-sini semakin terlihat geliatnya. Mall, pusat perbelanjaan, tempat hiburan, serta perumahan kian ramai menghiasi </span><span style="font-family:Arial;">kota</span><span style="font-family:Arial;">. Tapi, bagaimana dengan nasib perpustakaan kita? </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rahayusuciati.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rahayusuciati.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahayusuciati.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahayusuciati.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahayusuciati.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahayusuciati.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahayusuciati.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahayusuciati.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahayusuciati.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahayusuciati.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahayusuciati.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahayusuciati.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahayusuciati.wordpress.com&blog=1472501&post=11&subd=rahayusuciati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahayusuciati.wordpress.com/2007/08/21/balada-perpustakaan-kota/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b4fc2055e9ab66e99d4ea394bed1dc79?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rayu Suci</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>