Belajar dari “Orang Kecil”

August 11, 2007 at 8:18 am | Posted in Unlam | Leave a comment

Oleh Rahayu Suciati*

Tersebutlah seseorang bernama Bapak Itas. Siapa dia? Jika Anda yang sedang membaca tulisan ini pernah atau sedang menimba ilmu di Unlam Banjarmasin, mungkin pernah melihat sosok Beliau namun mungkin tidak tahu saja nama beliau.

Beliau adalah sosok Bapak dalam usia senja yang bekerja dari pagi hingga senja menjemput. Dengan bermodal karung yang berisi peralatannya mencabut rumput, bapak ini dengan tabah menekuni profesinya sebagai pencabut rumput dan pembersih halaman kampus dan juga mungkin beberapa kampus lainnya, saya kurang tahu persis. Yang jelas Bapak satu ini sering terlihat wira-wiri mencabuti rumput di sekitar kampus FKIP.

Mungkin banyak yang menaruh simpati pada beliau, tapi ada yang hanya menganggapnya sambil lalu, bahkan tidak menganggap sama sekali. Perannya memang bisa dibilang kecil, tapi bayangkan betapa sumbangsih yang diberikannya bagi ke”bungas”an Unlam tercinta. Memang wajah kampus-kampus masih belum bisa dikatakan bersih. Tetapi, bayangkan apalagi tidak ada mereka.

Tentunya tak berlebihan jika peran dan sumbangsih Pak Itas disambut dengan penghargaan setimpal. Yang paling penting tentunya kesejahteraan hidup. Dulu saya sempat menebak-nebak berapa gaji yang diterima Bapak tua tersebut perbulannya. Pastilah kurang dari sejuta. Namun, begitu takjub. Tentu saja takjub bukanlah terpesona melainkan keterkejutan yang cukup mengaduk-aduk pikiran.

Bagaimana bisa beliau bertahan hidup dengan gaji bulanan yang kecil sementara tugasnya begitu mulia? Jawabanya adalah pengabdian dan tanggung jawab. Pak Itas yang berjuang hidup bekerja sebagai pencabut rumput dan petugas pembersih kampus.

Padahal jika ingin melihat realitas dunia kampus kita, pekerja-pekerja seperti Pak Itas adalah figur yang patut dicontoh sebagai sosok pekerja keras dan mengerjakan pekerjaan dengan tanggung jawab yang tinggi yang mengais rejeki dari keringatnya.

Bandingkan dengan dosen-dosen kalau lebih tertarik bermain catur, atau melakoni kerja sampingan sementara tugas utama untuk mengajar malah diabaikan. Salutlah pada etos kerja pekerja-pekerja kecil, tetapi bekerja sepenuh hati. 

Sosok Bapak Itas adalah pekerja dengan jiwa “polos”. Tidak memperdulikan apalagi mengincar jabatan dan posisi penting semata. Tidak berebutan menancap pengaruh dan gila hormat apalagi candu uang. Pak Itas tugasnya semaksimal mungkin tanpa berbuntut segala macam tujuan.

Beliau pribadi tanpa kekuasaan apa-apa, namun punya derajat lebih dibandingkan berkekuasaan tapi menggunakan kekuasaan untuk melanggengkan dominasi dan pengaruhnya. Ketika petinggi kampus berkata ”halaman kurang bersih, tolong dibersihkan lagi”, dengan cekatan beliau melaksanakannya.

Pak Itas lebih terpuji dibandingkan orang-orang yang tidak mau menerima kritik, merah telinganya jika ada yang buka suara atas ketidakbecusan kinerja mereka. Pak Itas yang hanya pekerja bawahan tapi punya moral yang lebih “atasan”.
Ada pula orang yang menggunakan namanya dan statusnya sebagai “orang berilmu” memaksakan anak buahnya membeli “barang dagangannya”. Yang diincar cuma satu: duit. 

Jadi, siapa pun yang merasa punya mental seperti yang sudah tertera di atas semoga mendapat kelapangan dari Tuhan untuk kembali di jalan kejujuran. Kembali ke sikap rendah hati dan hapuskan jiwa “pengakal” dalam diri. Bekerjalah sesuai tugas yang diembankan.

Jika menjadi guru, jadilah guru yang baik, jika menjadi dosen, jadilah dosen yang bisa dipanut sikapnya, jika menjadi rektor, jadilah rektor yang budiman, jika menjadi guru besar, jadilah guru besar yang memberikan manfaat yang juga besar.

Mungkin dengan berguru kejujuran, keikhlasan, kerendahan hati, kemauan keras untuk memberikan hasil terbaik dan beretos kerja tinggi pada Bapak Itas yang kurang kita perhatikan perannya bisa dilakukan.
Yang tak kalah penting, pada siapapun yang punya tugas menggaji Pak Itas dan Itas-Itas lainnya, perhatikan kesejahteraan mereka. Kmpus “berhutang” pada kerja kerasnya mereka. Semoga masa senja beliau tak dirajut dalam rangka kehidupan yang memilukan dan kesederhanaan yang didera serba kekurangan. Semoga keringat beliau segera dihargai setimpal dengan penghargaan yang sepadan.

Anda Setuju? Semoga saja …

***Mahasiswa PSP Bahasa Inggris FKIP Unlam Banjarmasin dan Anggota Komunitas Oenulis EWA’MCo.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: