Quo Vadis Pendidikan Bahasa Inggris?

August 11, 2007 at 8:26 am | Posted in Pendidikan Bahasa Inggris | 14 Comments

Oleh Rahayu Suciati*

Konvesional. Seperti itulah pengajaran bahasa Inggris (BI) yang umumnya ditemui di sekolah-sekolah di negara kita. Pengajaran berfokus pada gramar dan penguasaan tata bahasa sudah berakar dalam sistem pengajaran BI di Indonesia. Saking menitikberatkan pada kemampuan gramar banyak elemen lebih praktikal tidak kebagian waktu untuk diajarkan. Akibatnya siswa yang sudah belajar BI sejak SMP, bahkan sejak SD, masih gagap berbicara BI. Masih untung jika sebatas gagap, yang parah ada lulus SMA yang tidak bisa memperkenalkan diri dalam BI. 
 
Hal yang paling dilupakan dalam pengajaran bahasa Inggris di sekolah adalah penanaman konteks sosial dalam pengajaran materinya. Padahal BI itu tidak jauh dengan aplikasi bahasa Indonesia dimana faktor siapa yang berbicara, pada siapa ia berbicara, dimana dan kapan ia berbicara, memegang peranan penting. Seperti inti ajaran sosiolinguistik yang mengungkap keterkaitan yang tak bisa dipisahkan antara bahasa dengan konteks sosial dimana bahasa itu digunakan.
 
Dalam buku-buku teks di sekolah seringkali banyak ditemui ungkapan-ungkapan seperti ungkapan sapaan, simpati, permintaan, penawaran, permintaan maaf, dan lainnya. Sayangnya ungkapan-ungkapan tersebut hanya diajarkan sebatas pengucapannya tanpa disertai dengan pemahaman terhadap fungsi, konteks waktu, tempat dan situasi dimana ungkapan itu dapat digunakan dengan lebih tepat.
 
Ambil contoh saja dari ungkapan sapaan yang sering diajarkan seperti “Hello, how are you?”, “Good morning”, “What’s up?,”How are you doing?” dan  juga ungkapan pembuka percakapan seperti “What a beautiful day, isn’t it?”. Para guru kebanyakan hanya mengajarkan pengucapannya berulang-ulang tanpa mengajarkan mana ungkapan yang kasual atau formal dan situasi yang tepat dalam penggunannya.

Hal ini bisa saja sepele, tapi kesalahpahaman yang mungkin timbul akibat pengetahuan yang sempit akan pemakaian ungkapan bahasa bisa jadi hal yang fatal jika para siswa berbicara dengan native speaker.
Seperti ketika ia berbicara dengan lawan bicara yang lebih tua menggunakan “what’s up?” atau ketika berbicara dengan seorang resepsionis hotel: “How’s it going?”. Tentu saja ungkapan kasual tersebut sangat tidak tepat untuk situasi tersebut. Hal inilah yang mungkin terjadi jika guru hanya menyuapi muridnya menghapal ungkapan tanpa aplikasi pemakaiannya.
 
Contoh lain yang lebih fatal terjadi karena kesalahpahaman pemakaian ungkapan dalam mengawali pembicaraan. Misalnya siswa diajari menggunakan ungkapan “What a beautiful day, isn’t it?” maka ia menggunakannya ketika berbicara dengan native speaker ketika bertemu di sebuah mall. Padahal ungkapan itu tidak tepat digunakan di ruang tertutup tanpa bisa melihat cuaca di luar.

Sekali lagi, kesalahpahaman ini terjadi tak lain karena kurangnya pemahaman terhadap konteks sosial dari ungkapan yang digunakan. Selain itu, hal yang seringkali luput untuk diajarkan para guru Bahasa Inggris adalah pengajaran kultur pemakaian bahasa Inggris oleh pembicara aslinya.

Budaya dari pemakai bahasa target sangat penting peranannya untuk diajarkan pada murid agar tidak terjadi salah pengertian tentang maksud dari ungkapan suatu bahasa. Selain itu pengajaran kultur dari bahasa target juga dapat menarik minat siswa dalam belajar yang selama ini dipangkas oleh pengajaran tata bahasa yang itu-itu saja.
 
Saya pribadi merasa amat nyaman ketika mempelajari bahasa dari segi budaya pemakainya ketika saya mengambil mata kuliah Cross Cultural Understanding. Apa yang diajarkan dalam mata kuliah tersebut dapat membuka mata saya bahwa belajar sebuah bahasa akan lebih mudah dicapai jika dibarengi dengan pengajaran dari budaya bahasa yang dipelajari.

Sayangnya, pengajaran bahasa Inggris di sekolah-sekolah yang cenderung konvesional jauh sekali dari apa yang namanya pengajaran kultural dari bahasa Inggris. Akibatnya, siswa-siswa sekolah sering membuat kesalahpahaman dalam memaknai sebuah ungkapan dalam bahasa Inggris.
 
Ambil contoh saja, misalnya ungkapan “what time is it?” yang dicekoki kepada siswa sebagai ungkapan untuk menanyakan waktu. Padahal jika dikaitkan dengan unsur budaya, ungkapan ini punya makna yang lebih mendalam.

Bila dikaitkan dengan budaya orang Amerika yang disiplin dan menghargai waktu maka ungkapan ini bisa digunakan untuk memberi teguran kepada seseorang yang terlambat datang ke sekolah atau ke sebuah acara.
Siswa yang buta hal ini karena gurunya tak pernah memberikan pengetahuan kultur bisa salah persepsi jika ia datang terlambat ketempat kursus bahasa Inggris dan kemudian guru yang kebetulan native speker bertanya kepadanya “what time is it?” yang sebenarnya  ditujukan sebagai teguran tapi dijawab dengan polosnya oleh si murid tadi dengan “It’s 2 o’clock, sir”.

Disini bisa dilihat bahwa pamahaman dan aplikasi siswa terhadap ungkapan bahasa Inggris sudah gatot alias gagal total! Masih banyak contoh lainnya yang bisa menunjukkan memperihatinkannya pengajaran bahasa Inggris dari segi kultur dan konteks sosial.

Sudah banyak pendapat para ahli dan masyarakat luas yang menyebutkan bahwa masalah rendahnya penguasaan bahasa Inggris siswa secara komunikatif dikarenakan pengajaran konvesional yang turun temurun digunakan. Kurikulum sudah silih berganti tapi pengajaran konvesional masih tetap dipertahankan oleh banyak pengajarnya.
 
Kesalahpahaman biasanya terjadi karena siswa terpengaruh bahasa Indonesia dalam pemakaian bahasa Inggris seperti pemakaian ungkapan “good night” yang hanya digunakan untuk ungkapan perpisahan banyak dipahami oleh siswa sebagai ungkapan sapaan “selamat malam” karena sapaan dalam bahasa Indonesia yang mengacu pada waktu digunakannya sapaan.

Kesalahan tersebut bisa terjadi juga disebabkan pengajaran ungkapan sapaan yang hanya diajarkan sebatas arti harfiahnya saja. Kesalahan tersebut jarang dibenahi sebab guru terlalu fokus pada pengajaran tensis dan kawan-kawannya. Ironisnya, kasalahan dibuat siswa hingga ia lulus sekolah. Lucu bukan!
 
Kultur orang barat yang sangat menjunjung nilai privasi juga menyebabkan beberapa hal bisa jadi tabu untuk ditanyakan. Seperti jumlah gaji, harga barang yang dibelinya, bahkan soal pekerjaan bisa saja menjadi hal yang bisa mengganggu bila ditanyakan oleh orang yang baru pertama bertemu.

Dan para guru kita pun sukses membekali muridnya dalam lubang kesesatan jika mereka mengajarkan ungkapan seperti “How much does your shoes cost?” or “what does your father do?” tanpa, sekali lagi, dibarengi dengan pengajaran kulturalnya.
 
Hal selanjutnya yang tak kalah dilupakan dalam pengajaran bahasa Inggris di sekolah-sekolah kita adalah pengajaran mengenai idiom dalam bahasa Inggris. Padahal idiom punya frekuensi muncul yang tinggi dalam teks-teks dan bacaan bahasa Inggris juga dalam percakapan sehari-hari. Kesalahpahaman yang fatal bisa timbul jika siswa tidak diajarkan mengenal idiom sejak dini.

Akibatnya siswa mengartikannya secara harfiah padahal makna idiom sendiri sangat jauh dengan makna harfiahnya. Pengajaran konvesional yang mengejar pemahaman tata bahasa menyebabkan siswa menjadi produk yang sarat dengan kesalahpahaman ketika ia berhadapan dengan idiom bahasa Inggris yang juga memuat unsur kultur.

Saya mengetahui mengenai idiom setelah duduk di bangku kuliah dan karena mayor saya yang memang pendidikan bahasa Inggris. Jika tidak, tak mustahil jika sampai nanti saya akan terus mengartikan “kick the bucket” sebagai “menendang ember” yang jauh dari makna sebenarnya yaitu “mati”.
 
Sudah saatnya bahasa Inggris berubah dan berbenah menuju pengajaran yang lebih memuat unsur kultur dan konteks sosial yang lebih praktikal. Sudahilah metode mengajar yang mubajir. Kenapa mubajir? Karena pengajaran tensis yang selalu diajarkan itu kebanyakannya terus diulang-ulang dari SMP hingga SMA. Apa yang sudah dipelajari seringkali diulang beberapa kali sehingga waktu yang seharusnya bisa dialihkan ke hal-hal yang lebih praktikal menjadi banyak tersita.
 
Mari tinggalkan pengajaran bahasa Inggris secara konvensional. Bisa dimulai dari anda, para calon guru dan juga yang sudah menyandang profesi guru.
 
Anda setuju? Semoga saja …

***Mahasiswa PSP Bahasa Inggris FKIP Unlam Banjarmasin dan anggota Komunitas Penulis EWA’MCo.

Advertisements

14 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Menurut saya, menanamkan pengetahuan tentang western culture masih tergolong susah. Boro-boro memberi pengetahuan tentang budaya, akibat pengajaran yang konvensional, berkomunikasi yang murni saja lewat bahasa Inggris masih tergolong langka dalam pengajaran sekolah, saya coba mengupasnya satu persatu lewat tulisan, mungkin ada yang tertarik berbagi ? demi ikut mengevaluasi pengajaran bahasa inggris di banua kita ???

    Suci
    Kalau menurut pengalaman pribadi, membuat siswa untuk berani menggunakan bahasa Inggris memang bukan suatu hal mudah. Karena mereka sudah terbisa mengenal bahasa Inggris sebagai pelajaran, bukan sebagai bahasa yang menarik untuk dipelajari. Apalagi ditambah dengan pengajaran guru-guru kebanyakan yang memang sangat menitikberatkan pada pengajaran structure daripada coomunicative competence-nya. Disnilah pendidikan kita amat terlihat layaknya benang kusut. Masalah satu membawa pada akar masalah lainnya. Pengajaran yang menitikberatkan pada structure memang bukan sepenuhnya salah dari guru, tapi mari kita lihat dari sisi kurikulumnya. biarpun sudah memakai KTSP, secara pribadi, saya menilai toh semuanya akan tetap berakhir pada sisi teoritisnya saja. Karena ketika ujian, hampir semua soalnya mendasarkan pada hal-hal teoritis ketimbang yang bersifat praktek.
    Tak banyak memang yang bisa dilakukan. Tapi menurut pandangan saya, ini bisa disiasati guru dengan sedikit kreatifitas dalam mengajar. Seperti lebih banyak menyisipkan berbagai game dalam pengajaran sehingga selain memberikan suasana segar, secara tidak sadar siswa juga akan digiring untuk menggunakan bahasa Inggris secara competence, meski perlahan.

  2. apakah saya dapat memperoleh rpp bahasa inggris smp dan sma. terima kasih

  3. saya juga berpendapat yang sama. sudah waktunya kita mulai melakukan pendekatan aktif kepada pemerintah atau departemen yang bertanggungjawab masalah kurikulum. or… yang kecil2 dulu deh…. bagi yang belum berkesempatan untuk jadi guru resmi disekolah… kenapa tidak membuka kursus atau sekolah gratis untuk anak2 dan adik2 kita dengan pendekatan pendidikan yang berbeda dan lebih praktis?

    Idem banget!!!sudah saatnya pembelajaran bahasa Inggris khususnya dan pembelajaran general harus berubah.

  4. untuk mengajarkan budaya dalam bahasa Inggris di Banjarmasin kayaknya sangat susah!! untuk bicara dalam bahasa inggris aja byk org yang ga PD bahkan banyak teman-temanku dari mahasiswa FKIP bahasa inggris UNISKA yang msh unconfident dalam speak in English!!! Can I speak in English with you, because I want to speaking practice with a university student of Lambung mangkurat university!! I want to compare my skill in English with you although I haven’t good pronounciation and good grammar!! please call or send message for me if you can do it!!thesa are my number 05117254830/085251656561 OK… see you next time

    Hi, there….Of course I would…I’d love to…I really appreciate with one who has big encouragement in learning English. Actually, I also not an expert one. Only a person who dying 2 gain English fuently. Now, I’m still working on it…So, Glad to know that someone, that is you, wanna learn together and share what we have to make us better and better… Ok, I got your number, then….Can’t wait to have a nice chat with you…thank’s for visiting my blog…see you…

  5. what an article! saya mhs fkip bhs inggris slh 1 ptn di solo. saya sependapat dg mbak.awal kuliah language skill sy sgt rendah,tp jg mulai tertarik pd bhs inggris saat ambil matakuliah ccu. tp ingat,betapa sulitnya mengubah cara mengajar para guru yg sebenarnya salah tp mereka tdk menyadari kesalahannya. ayo kita mulai dr diri sendiri,mulailah mengajar dg memperhatikan konteks budaya. let’s learn together!

  6. berdasar pengalaman saya, belajar bahsa asing, kuhusunya bahasa inggris adalah belajar budaya mereka. sepertinya kita tidak akan pernah jadi nativelike kalo tidak pernak ngerasain bangun dan tidur disana, makan makanan dan minuma minuman yang mereka minum karena memang budaya kita jauh berbeda. kita di timur dan mereka di barat. ga etis juga kalo kita kudu ikut semua budaya mereka hanya sekedar untuk bisa dimengerti saat bicara dengan mereka. buat saya belajar bahasa cukup agar kita bisa berkomunikasai dengan mereka, tetapi jangan sampai kita kehilangan identitas ke-Indonesiaan kita. sebagai contoh, kadang ketika kita ujian Nasional dalam bahsa Inggris kita lulus tapi bahasa Indonesia kita malah tidak lulus.saya akui bahasa Inggris adalah bahasa internasional tapi ya jangan sampai kita kehilangan bahasa kita, bahasa pemersatu bangsa, bahasa Indonesia

  7. We need someone to share about our education system,

  8. that right! our education system has to be changed! we have to produce many profesional teachers!!

  9. Saudari Suci….
    Seorang guru bahasa Inggris dalam mengajar, bukan hanya ilmu yang mereka transfer, melainkan mereka juga secara langsung atau tidak langsung akan mengajarkan budaya asing.
    Memang akan sangat baik jika dalam mengajar bahasa Inggris dibarengi dengan mengajarkan budaya negera lain. Tapi yang penting untuk diingat bahwa pelajaran bahasa Inggris merupakan pelajaran as a second language. Artinya, pelajaran itu hanya untuk memperkenalkan kepada siswa bagaimana bahaas Inggris tersebut.
    Lain halnya jika ingin lebih memperdalam pemahaman bahasa Inggris. Memang, sebaiknya kita meninggalkan metode pengajaran konvensional. Untuk itu setiap guru harus membekali diri mereka dengan penguasaan yang berkaitan dengan budaya dan sosial masayarakat orang asing.
    Guru baru atau bakal calon guru harus lebih mempersiapkan diri mereka dengan bekal pengatahuan yang berkaitan dengan sosial budaya bahasa yang akan dipelajari.
    Semoga Sukses…..
    Demikian…
    Trima kasih

  10. I agree, learning a language means learning its culture.

  11. sampai saat ini bahasa inggris masih menduduki posisi teratas dari seluruh bahasa di dunia, so we must to learn it

  12. Pengajaran bahasa Inggris akan berhasil baik bila kita (1) menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar pendidikan, (2) menciptakan exposure yang memungkinkan penggunaan bahasa inggris secara “alami”, dan (3) tidak hanya mengandalkan pengajaran tentang bahasa tetapi juga mengajarkan bagaimana bahasa itu digunakan baik lisan maupun tertulis.

  13. Hi Suci, it’s a nice article. Saya sangat setuju dengan pendapat kamu tentang bagaimana pengajaran bahasa Inggris di Indonesia selama ini. Hmm, saya kira begitulah keadaannya. Saya juga mempunyai beberapa argumen mengapa pendidikan bahasa Inggris sepertinya kok diam ditempat. Pertama adalah tujuan pengajaran bahasa Inggris di Indonesia tidak jelas arahnya, maksud saya, dalam kurikulum memang jelas sekali arahnya, akan tetapi secara nasional tidak jelas, untuk apa sih kita belajar bahasa INggris? ini adalah Pertanyaanyg fundamental. Karena jawabannya akan mempunyai dampak yg sangat amat besar. Seperti Negara Korea, jepang dan malaysia, mereka mempunayi tujuan pengajaran bahasa Inggris yang sangat jelas, menyiapkan mereka untuk berkomunikasi secara global. YAng ke dua, Siswa dan guru tidak mempunyai banyak kesempatan untuk menggunakan bahasa Inggris dalam real communication, siswa sekedar belajar dan memperoleh nilai bahasa INggris baik, setelah itu ya selesai dan guru kebanyakan mengarahkan pengajaran bahasa inggris untuk tujuan mempersiapkan siswa menghadapai ujian nasional ” this is the craziest thing that have ever been done by teachers in Indonesia”. Jika mereka mempersiapkan siswa untuk ini, ya mereka tidak akan bisa menggunakan dalam percakapan/menulis dengan baik. Ketiga, attitude pembelajar bahasa inggris yg tidak mendukung pembelajaran bahasa Inggris. Mereka di kelas cuma memenuhi tuntutan masuk kelas, mereka tidak perduli untuk apa bahasa INggris yg dipelajarinya. Sehingga disini saya temukan “there is no connection at all between the length of study and communicative competence”, nggak ada sama sekali banyak orang/mahasiswa bertahun2 belajar bahasa iNggris, tapi ketika berbicara dgn native eehhh, banyak terdiam (saya tahu krn saya tinggal beberapa th di Australia dan sekarang di ujung utara INggris (Scotland). Yang Ke empat, kelima ke enam ke tujuh….. masih banyak banget Suci ini akan menjadi topik research saya. Maaf nanti saya sambung lagi ya saya harus masuk kelas. It’s good to read your article.

  14. hi.. i just want to extend my lecturer’s comment. he said that the most important thing in learning English is the reading comprehension, not speaking, not its culture, because what we need a lot is their knowledge which is stated in many English text books.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: