Imitatif yang Tak Positif

August 12, 2007 at 11:10 am | Posted in Pendidikan | 2 Comments

Oleh Rahayu Suciati  

Masih ingat dengan film catatan si Boy? Saya pribadi tak akan bisa melupakan film Indonesia yang pernah sukses besar sekitar tahun 80-an itu. Selain sisi komedinya cukup menghibur, entah mengapa saya suka sekali dengan karakter pemeran utamanya. Boy, seorang pemuda tampan, kaya raya, pintar, sukses, alim, dan baik hati. Manusia hampir sempurna, seperti tak ada cela.  

Setiap kali stasiun Tv swasta, yang pada saat itu hanya ada, menjadwalkan tayangan film tersebut, saya hampir tak pernah melewatkan. Dari seri satu hingga seterusnya, sejak kisah Boy pacaran dengan si ini sampai si anu, tak luput dari perhatian. Padahal saat itu saya baru menginjak masa SMP.  

Tapi, jika diingat dan dipikirkan lagi sekarang, film tersebut sungguh jauh dari gambaran realita kehidupan sekitar kita. Produk perfilman penjual mimpi. Bayangkan saja, ketika sekolah ke luar negeri dengan gaya hidup lux seolah hal lumrah yang digambarkan di film tersebut. Rumah bak istana, makanan mewah, mobil mahal mengkilap, dan pakaian perlente khas si Boy, seolah menjadi pelengkapnya.  

Sesuaikah gaya hidup berlebih tersebut dengan keadaan ekonomi kebanyakan penduduk kita? Tapi film tetaplah film. Sama seperti fenomena sinetron kita yang juga tak pernah lepas dari cerita hidup orang-orang berduit. Dan anehnya justru film dan sinetron dengan jenis seperti itu laris manis di pasaran. Lebih aneh lagi, ketika disadari atau tidak, banyak penonton tayangan sejenis itu adalah masyarakat berekonomi rendah.

Sungguh aneh negara kita ini. Kembali berbincang soal film catatan si Boy, selain unsur kemewahan, unsur imitasi dari budaya luar negeri juga tak kalah menonjol. Padahal saat pembuatan film tersebut, modernisasi belum banyak menyentuh sendi-sendi kehidupan masyarakat.   Tapi lihatlah bagaimana film tersebut dengan sukses menyerap segala bentuk modernisasi yang berkiblat dengan gaya barat.

Dari gaya pakaian, gaya berbicara yang yang banyak menyelipkan kata-kata slang Inggris, hingga gaya bergaul bahkan konsumerisme akan produk barat juga tak jarang ditemukan dalam potongan-potongan adegannya.  Hal serupa sangat disayangkan juga terjadi dengan produk-produk sinetron kita dewasa ini. Pola hidup modernisasi dengan banyak unsur kebaratan seolah sudah biasa dalam tayangan televisi.

Tak dapat dielakkan hal ini berpengaruh pada gaya hidup, cara berpikir dan bertindak generasi muda. Proses imitatif semakin digilai dengan dampak pengiringnya yang tak dapat dihindari lagi, pola hidup konsumerisme.  Dan paling disayangkan adalah pengaruh buruk dari semakin gencarnya gaya hidup dan cara bersikap ala barat melalui modernisasi terus menggerogoti bahkan berpeluang merombak pola pikir masyarkat.

Hal tabu yang dulu dianggap terlarang secara perlahan mulai bergeser menjadi hal biasa. Norma yang dulu begitu berkuasa dalam menilai dan menjaga pola sikap kini mulai meluntur dan tergusur oleh kemutahkiran jaman.  Pola pakaian yang semakin minim dipandang sebagai simbol kemodernan seorang perempuan.

Fashion terbaru dari luar negeri secepat kilat masuk dalam gaya berbusana wanita Indonesia. Perawatan tubuh bahkan bukan lagi mutlak wilayah kaum perempuan. Lelaki pun berbondong-bondong menjadikannya gaya hidup. Dan munculah istilah metroseksual, yang sudah bisa dipastikan mengimitasi dari fenomena yang sedang hot di luar negeri sana. 

Tak hanya berkiblat pada dunia barat, fashion dan gaya hidup masyarakat Indonesia rupanya makin ”kreatif” dalam mengimitasi berbagai gaya dari negara-negara luar lainnya. Beberapa tahun belakangan, semakin banyak generasi muda berkiblat pada apa yang sedang ”in” di Jepang.  

Munculah gaya pakaian ala Harazuku style yang sempat booming diimitasi banyak anak muda. Model rambut, makanan, musik, film juga mendadak digemari masyarakat. Sekali lagi, pola hidup konsumerisme semakin subur perkembangannya di negara kita akibat sikap imitatif tadi. 

Proses imitasi bukanlah sesuatu yang buruk, jika yang diimitasi adalah sesuatu yang baik dan membangun untuk dijadikan contoh dalam meningkatkan kualitas diri. Tepatnya jika yang diimitasi adalah hal-hal positif dari pola pikir dan gaya hidup suatu bangsa.  Ironisnya, yang terjadi di Indonesia justru sebaliknya.

Masyarakat semakin pintar dalam proses imitasi tetapi sungguh sangat disayangkan bukanlah dalam hal-hal membangun. Bukankah banyak hal positif yang sangat bisa dicontoh dari negara Jepang dan negara barat? Tapi mengapa hanya fashion dan gaya hidup yang menjadi nomor satunya. 

Sikap disiplin, kerja keras ala masyarakat Jepang sangat tepat untuk dijadikan bahan pembelajaran bagi masyarakat kita guna perbaikan kualitas kerja. Begitu juga dengan sikap tepat waktu, kemandirian, kompetitif khas dari budaya masyarakat Amerika amatlah postif untuk ditiru. Selain itu, banyak lagi hal positif yang lebih bermanfaat untuk ditiru daripada sekedar menjadi konsumen produk luar negeri.

Budaya membaca dari masyarakat Amerika dan Jepang merupakan hal paling penting yang mestinya mendapat perhatian masyarakat kita.  Kebiasaaan membaca di negara-negara tersebut telah dimulai sejak usia dini. Sehingga setelah menamatkan bangku sekolah menengah atas, siswa sekolah sudah berhasil menamatkan ratusan judul buku dan menyelesaikan puluhan karya tulis.

Coba bandingkan dengan kebiasaan membaca masyarakat kita yang masih sangat jauh terseok di belakang. Lalu, mengapa kita sebagai masyarakat Indonesia tidak berusaha untuk mengambil hal-hal lebih bermanfaat dari budaya luar guna memperbaiki kualitas, kemampuan, pengetahuan serta etos kerja kita?  

Padahal sikap kerja keras dan menghargai waktu seringkali tersirat bahkan terkadang tergambar dengan jelas di film-film buatan Amerika atau Jepang. Walau tak dipungkiri hal-hal negatif juga kuat mendominasi. Proses imitasi tak akan bisa terelakkan lagi, terutama di tengah era keterbukaan dengan negara luar yang makin digencarkan.

Karenanya kontrol diri untuk menyaring pengaruh budaya asing sangatlah penting untuk terus dipupuk. Jika tidak, salah-salah kita akan terbawa arus dan dengan gampang berbubah menjadi pengimitasi murni dan konsumeris sejati yang hanya bisa mengekor semua pengaruh asing tanpa banyak pertimbangan. 

Lebih mensosialisasikan budaya postif dari masyarakat asing bisa menjadi salah satu jalan dalam membendung sikap imitatif terhadap hal-hal buruk. Misalnya dengan pengajaran budaya asing melalui pelajaran bahasa Inggris kepada siswa sekolah.

Dengan memberikan pengetahuan dan nilai-nilai positif dari budaya masyarakat pemakai bahasa tersebut kepada siswa sedini mungkin, bisa menjadi teladan mereka dalam bersikap dan berpandangan.   Apalagi dengan penerapan budaya baca kepada anak didik sedari sekolah dasar.

Hal ini dapat membangkitkan minat membaca masyarakat yang mnemprihatinkan saat ini. Jadi, tak hanya melulu produk teknologi saja yang mereka tahu tentang negara luar, tetapi pola pikir dan cara kerja  bisa mereka imitasi guna membangun kualitas belajar dan mendrongkrak pengetahuan. 

Dengan memperkuat filter dalam diri guna menangkal pengaruh buruk dari budaya luar, kita tetap bisa membuka diri pada perubahan dengan mengambil semua hal baik dari modernisasi dan globalisasi tanpa perlu menjadi ”korban”. 

Dengan begitu, kita tak lagi menjadi masyarakat yang mudah terperangkap dalam jerat konsumerisme. Sehingga kita bisa berubah menjadi masyarakat yang bijak dalam mengimitasi  guna membangun bangsa ke arah kemajuan. 

Anda setuju? Semoga saja…                      

Advertisements

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. “Tapi mengapa hanya fashion dan gaya hidup yang menjadi nomor satunya? ” Because it is the easiest to copy. We don’t have to be a genius or hard worker or dedicated person to copy fashion and life sytle.

    All you have to have is money. If you have plenty of it, you can have them anytime you want. Even if you don’t have money, you can borrow “fashion and lifestyle” from your friends. It’s just as simple and easy as that.

    But if you’re talking about work ethic and reading and studying habit, you’re talking about “the holy war against the worst enemy”, that is yourself. Even if you’re rich, but if you don’t have iron will, you won’t be able to copy Japanese and western work ethic. You must have a very strong motivation to change you from know-nothing to know-it-all.

    Even if you don’t have money, as long as you are dedicated in improving your value as learning-creature, not just as eating-and-dressing creature, you can be the smartest person you want to be. And to be the smartest you don’t have to wear trendy outfits and the latest gadgets and expensive automobile. Blink blink doesn’t go hand in hand with wit.

    But, don’t we, Indonesian people, have our own work ethic and studying habit? If we do, why should we import and copy theirs?

  2. wow, that’s a briliant comment, Sir. Thank’s a lot….
    Btw, I’m sure that we, as Indonesian people have our own work ethic. But you know, our people are known for their indicipline in work or in many things they do. Coming late to work or to school is common thing that many Indonesian do. I don’t want to be stereotype or something, but just look at the reality. When we have occasion, it can be said that half of the people we invite are coming late.

    Hopely, I’m wrong. But what I’ve said here based on my own experiences. So, if we want to have our occasion at 10, just tell them to come at 9. With that way, the occasion will start on time. Hehe….I don’t know wether it is a bad or good idea?

    Yap, follow the trends and fashion style is just a simple thing to do…you can borrow without anybody know it.

    But, it’s great idea that we can be the smartest person without being a imitator only ( is my term correct? Hehe…). And follow the good value from other culture, wil infect to our character. It must be positif thing, of course…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: