Perlukah Kita Sekolah?

August 18, 2007 at 8:43 am | Posted in FKIP Unlam | 4 Comments

Oleh Rahayu Suciati 

Membaca buku karangan Muhammad Izza Ahsin yang berjudul Dunia Tanpa Sekolah membawa saya bernostalgia dengan dunia sekolah yang pernah saya jalani dulu. Bukan mengenang bagian dimana saya berkumpul bersenang-senang bersama teman-teman dulu tentunya. Lebih jauh, buku ini menghentakkan pemikiran saya pada sebuah kesadaran. Pernahkan saya tahu apa sebenarnya tujuan saya bersekolah dulu?           

Kesadaran itu tentunya timbul ketika mengikuti alur yang begitu apik diracik oleh Izza dalam buku tersebut. Bayangkan saja ketika anak usia 15 tahun umumnya masih terseok-seok merangkai kata dan kalimat untuk menciptakan sebuah tulisan, Izza dengan keindahan kata-kata dan kesistematisan kalimat yang amat menarik bisa membeberkan cerita hidupnya sehingga dapat menghipnotis pembaca untuk berdebat dengan diri sendiri. Benarkah kita perlu sekolah?           

Kalau ada yang berkata bahawa Izza bisa lihai menulis dan berpengetahuan yang luar biasa untuk ukuran anak sebayanya adalah hasil dari pendidikan sekolah, tentu ia akan menyangkal keras. Karena memang begitulah faktanya. Izza adalah produk anak dengan inovasi dan kreatifitas hasil dari kegilaannya membaca dan mendalami gaya bahasa dari berbagai penulis terkenal dunia. Autodidak, begitulah singkatnya.           

Setelah membacanya mendalam, ada satu perasaan yang terus berkata dalam diri. Saya kalah telak dengan anak usia 15 tahun ini. Izza berani memutuskan keluar dari SMP tiga bulan menjelang ujian nasional. Demi satu tujuan dan idealisme yang begitu kokoh; menjadi penulis. Remaja berprinsip, begitulah Izza, remaja yang amat langka bisa dijumpai dalam lingkungan keseharian kita. Sangat sedikit orang yang mau mengambil langkah begitu radikal untuk sebuah masa depan yang ingin dirancangnya sendiri. Apalagi ditengah masyarakat yang begitu mengagungkan selembar kertas sakti alias ijasah untuk menjangkau masa depan.            

Izza tak ingin setengah-setengah. Ia menetapkan untuk berkonsentrasi menjadi penulis karena ia yakin seseorang yang sukses adalah orang yang menekuni bidangnya dengan maksimal, tanpa dipengaruhi oleh hal lain apalagi hal yang sangat tidak disukainya; sekolah.           

Kini ia sudah lepas dari sekolah yang baginya tak lebih dari sebuah penjara yang mengukung kreatifitas dan pengembangan dirinya. Hingga sekarang ia telah menjadi manusia bebas dan merdeka. Terlebih ia dapat menggunakan semua waktunya untuk terus belajar, dalam artian belajar yang sesungguhnya. Belajar sepanjang hayat, itulah yang dilakoninya. Jauh dari pengertian belajar yang mengakar dalam budaya masyarakat kita;  SD-SMP-SMA-kuliah-kerja-berhenti belajar.           

Apa yang Izza rasakan dalam bangku sekolah juga merupakan perasaan yang mendera saya sewaktu sekolah. Pergi sekolah seperti barang wajib yang tak boleh luput ditinggalkan. Hingga saya semakin jauh tertinggal dari apa sebenarnya tujuan pergi sekolah. Jika seorang anak tidak pergi ke sekolah, maka masyarakat sekitar akan memandang ia sebagai anak malas dan tidak ingin maju. Mungkin seperti itu pula yang dirasakan banyak siswa Indonesia; tidak tahu benar apa tujuan pergi ke sekolah.              

Untuk pintar, itulah alasan paling standar. Benarkah di sekolah kita benar-benar menjadi pintar? Kalau begitu mengapa ketika lulus sekolah dan ditanya tentang pengetahuan dasar saja, jarang bisa dijawab dengan tepat. Apalagi kalau ditanya ilmu apa yang didapatkan di sekolah. Lupa dan sudah tidak ingat lagi adalah jawaban yang harap maklum keluar dari mulut kita-kita yang merupakan produk lulusan sekolah.           

Apa ilmu yang bisa kita ingat selama sekolah? Mungkin sedikit saja dibandingkan dengan waktu 12 tahun yang sudah dihabiskan. Padahal berbagai mata pelajaran sudah pernah kita ganyang dari mulai agama, fisika, matematika, kimia, bahasa Indonesia dan Inggris, kesenian, olahraga, dan sebagai-bagainya hingga seterus-terusnya. Banyakkah tersisa di otak? Kalau boleh berkata, malah kenangan bersama teman dan ramainya masa sekolah yang cenderung berakar kuat dalam ingatan di kepala. Bukan ilmunya!           

Sistem pengajaran di negara kita sudah mencapai tahap yang memprihatinkan secara umum. Murid-murid diharuskan mengikuti semua pelajaran tanpa kecuali dan bila ada yang membelot maka akan dipandang sebagai anak nakal dan bahkan berlabel “bodoh”.  Sekolah terkesan menjadi sebuah lembaga yang bertujuan untuk membekali anak didik dengan semua ilmu pada saat bersamaan agar berguna di kemudian hari. Ideal memang tujuannya.

Sayangnya pertaruhan nasib siswa di serahkan pada ujian nasional selama tiga hari yang hanya menguji penguasaan mereka di tiga mata pelajaran wajib Bukankah dengan cara seperti itu berarti mengabaikan tiap manusia sebagai pibadi berbeda dan unik yang mempunyai ketertarikan berbeda pula.

Sebagai manusia kita dibekali dengan rasa untuk cenderung memilih sesuatu yang kita sukai.  Apa yang disukai oleh seorang siswa tentu akan beda dengan siswa lainnya. Jadi untuk apa memaksakan anak yang tidak suka fisika menjadi ahli fisika? Dan bisa dibilang kejam ketika ada seorang anak pencinta sastra dibelenggu perkembangan kreatifitasnya ketika berhadapan dengan guru bahasa Indonesia yang bukan memberikan praktik dan wadah berseni tetapi malahan menjejalkan muridnya dengan jurus ajar keramat; dikte-catat-hapalkan. 

Ada pula kecenderungan yang hampir atau kalau boleh dikatakan ada di semua sekolah yaitu adanya guru killer yang menjadi “dementor-nya Harry Potter” bagi siswa. Bermacam kriteria disuarakan siswa mengapa seorang guru dikatakan guru killer. Mulai dari suka mengomel, membentak, menghina, menghukum dengan jeweran atau cubitan hingga guru yang berjiwa preman. Ketika guru sejenis ini masuk kelas, setiap siswa seakan dikunci mulutnya hingga membangun suasana kelas seperti khas kuburan atau malam jumat kliwon.  

 Sudah cukup dengan segala jenis mata pelajaran yang mau tidak mau harus dihadapi, siswa terkadang harus pula berhadapan dengan para pengajar yang berjiwa “menghajar” juga guru yang berjiwa “buruh”. Terima kurikulum, ajarkan, beres. Tanpa pengembangan, tanpa kebebasan berkreatifitas bagi muridnya, juga miskin penularan wawasan kepada anak didik.           

 Ilmu yang diajarkan dalam suasana horor dan membosankan pastinya akan membawa keterpaksaan siswa dalam mengikuti pelajaran di sekolah. Masih untung kalau di sebuah sekolah ada guru berjiwa malaikat yang baik hati lagi cerdas. Setidaknya para siswa bisa mendapat oase di tengah suntuknya suasana belajar. Yang lebih ironis dari kebanyakan siswa sekolah adalah sistem kebut semalam yang “laris” sebagai metode belajar.

Ketika ujian sudah dekat, barulah mereka bersusah payah dan berjuang mempelajari (kalau boleh dikatakan menghapal) bahan pelajaran yang didapat dari sekolah.  Masih untung jika mereka belajar, bagaimana jika yang mereka siapkan malahan kertas contekan atau bahasa ilmiahnya “kerpean”. Kalau sudah begitu, apa yang namanya menjadi pintar bisa dibilang berhasil bila siswa malah mengakali sistem nilai untuk mendapat hasil terbaik di saat ujian?  

Sewaktu ujian tiba, mereka dihadapkan pada soal text book tanpa adanya pengembangan pemikiran siswa pada dunia nyata. Kemudian, setelah ulangan selesai dan waktu libur tiba, pelajaran yang sudah dihapal tadi menguap dan mental dari otak. Seperti itulah yang berulang-ulang terjadi hingga siswa menamatkan bangku sekolah. Pola belajar-menghapal dan bukan belajar-memahami ternyata seperti pijakan yang sudah sedemikian mengurat dalam sendi-sendi pola belajar siswa.

Akibatnya makna belajar di negara kita semakin kerdil artinya. Mendengar kata belajar saja mereka sudah gatal, padahal sejatinya belajar bisa dari apa dan siapa saja dan sekolah bisa dimana saja. Belajar pada buku, pada pengalaman, dan pada alam adalah belajar yang sungguh lebih luas artinya. 

Guru mengajar, murid diajar. Begitukah makna belajar yang harus disandang pengajaran-pengajaran di sekolah? Mengapa murid tidak diberi pilihan untuk menjadi guru bagi diri sendiri sehingga murid tidak terus terpatok mengartikan arti guru sebagai orang yang berdiri di depan kelas menjelaskan sesuatu.

Lebih dalam pada itu, siapa saja bisa menjadi guru. Orangtua, teman, tokoh terkenal, alam bahkan anak kecil sekalipun bisa menjadi guru bagi seseorang yang mau benar-benar belajar. Jadi, masihkah kita perlu sekolah jika ilmu yang diajarkan selalu lekang bersama waktu dan lenyap di kepala?

Perlukah sekolah jika kita malahan dibelenggu dengan segudang pelajaran yang tidak kita sukai, tidak bersentuhan langsung dengan kebutuhan , dan tidak terpakai dalam menempuh kehidupan yang sesungguhnya? 

Masih perlukah sekolah jika belajar sebenarnya malahan lebih bermakna ketika didapat di luar sekolah?

Advertisements

4 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Kita bisa diskusi disini karna kita sama-sama pernah bersekolah.Saya hanya lulusan sltp itu pun sekolah kampung yang ilmunya tidak seberapa.Saya tidak bisa berbahasa inggris, tidak bisa komputer, tidak bisa berbahasa indonesia dengan baik dan benar.Ketika saya harus hadir dalam acara formal dimana ada orang-orang penting juga hadir disana saya hanya bisa menjabat tangannya dan tersenyum malu.
    Saya tau bagaimana rasanya berpendidikan minim.Mencari kerja misalnya.Bagi orang-orang semacam saya hanya bisa menjadi kuli,pembantu,pelayan.Mau duduk diperkantoran tunggu dulu.Tentang izza, saya salut mental bajanya dan kemauannya yang keras juga kebiasaannya membaca.Tapi bisakah izza menulis dan menjadi penulis kalau sebelumnya dia tidak bersekolah.
    Tidak semua orang ingin menjadi penulis dan tidak semua penulis seberuntung izza.

    Yang salah ialah kita para pelajar yang tidak mau belajar mencintai dan memahami apa yang diajarkan disekolah.

    Semua guru beritikad baik,sangat tidak adil bila kita harus memanggil guru kita itu killer.Hanya guru gila yang sok bentak-bentak,sok galak tanpa alasan tertentu.

    Saya tau sakitnya tidak bersekolah.Jadi yang mempunyai kesempatan bersekolah, belajarlah , cintailah ,pelajari ,terapkanlah apa yang didapat disekolah.
    Gagalnya pendidikan di Indonesia karna terlalu banyak teorinya.Seharusnya siswa dibimbing untuk menerapkan apa yang sudah pernah diajarkan.

    Ini hanya pandangan saya,orang yang tidak bersekolah tinggi.

    Suciya, pendapatnya bagus nih , Mba. saya tidak bermaksud ingin mengatakan bahwa sekolah menjadi tidak penting sama sekali. tapi yang saya ingin suarakan disini adalah pengalaman pribadi saya yang pernah merasakan bangku sekolah. jujur saja saya pribadi merasa sekolah seperti beban berat yang mau tidak mau saya jalani. meski begitu banyak juga kok yang saya dapat dari sekolah.
    yang saya ingin katakan disini adalah cara mengajar guru yang kebanyakannya “memaksa” atau yang cuma mengajar tanpa memberikan kebebasan sedikitpun pada siswa untuk berkreativitas. pengalaman dulu, saya sering tidak diacuhkan atau dihukum guru fisika atau matematika. bukan apa, saya kan nggak suka yang serba hitungan. tapi setidaknya guru itu bisa memberi dorongan, bukan malah sesuatu yang malah membuat saya benci dengan pelajaran seperti itu. hehe…
    tapi saya bersyukur kok, saya beruntung bisa menamatkan bangku sekolah. toh banyak juga cara pandang saya yang terbentuk ketika saya bersekolah. tapi alangkah bahagianya jika suatu saat sekolah benar-benar menjadi tempat belajar sesungguhnya, bukan sekedar tempat pencari ijasah.

  2. Nah kalo yang ini saya juga setuju bangat.he3

  3. Masalahnya, yang penting sebenarnya bukan sekolahnya, tapi ilmunya dan juga pendidikannya sendiri. Bukan ijazahnya!
    Ilmu dan pendidikan bisa kita dapatkan di mana saja, bukan hanya sebatas di dalam gedung sekolah atau kampus. Bahkan ada pepatah “pengalaman adalah guru yang terbaik”
    Salahnya, pendidikan di negeri ini terlalu berorientasi pada ijazah, sehingga banyak esensi dari pendidikan itu sendiri jadi terabaikan! 🙂
    Btw, salam kenal mbak.

    Makasih udah visit ke sini:)
    setuju!!!

  4. bukan berarti sekolah menjadi samasekali tidak penting, melainkan proses KBM di sekolah perlu diubah orientasinya dr teaching ( sekedar mengajar, transfer pengetahuan, baca-catat-hafalkan ) menjadi learning (pembelajaran yg berpusat pd proses, menggunakan lingkungan sbg sumber belajar & menyesuaikan dg tumbuh-kembang anak) krn pd dasarnya, setiap orang tdk akan mau menerima dogma begitu saja spt halnya guru yg terus berceramah sedangkan murid suka atau tdk harus mendengarkan. tiap orang akan cenderung tertarik pd hal2 baru yg benar2 terkait dg realitas kehidupannya

    karena itu, sekolah harusnya segera melakukan perbaikan. Yang dikhawatirkan adalah jika orang hanya menyempitkan arti belajar pada batas institusi sekolah saja. Padahal masih banyak sekali ilmu berharga dan mendidik dan justru lebih esensial bisa didapatkan dalam kehidupan di luar sekolah. Dari buku-buku, misalnya. Yang sayangnya, fenomena yang justru terjadi, sekolah terkesan memaksa siswanya untuk membca buku-buku monoton sehingga mematikan minat siswa itu sendiri untuk membaca. Itu contoh kecilnya. Hasilnya, banyak sekali produk-produk lulusan sekolah yang ogah dan “pantang” membaca. Sebelum suatu masa mendatang negara kita akan dilanda ancaman “ultra sekolah”, sistem pengajaran harus segera dikembalikan pada hakikat sebenarnya: sebagai sebenar-benarnya lembaga pendidikan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: