Balada Perpustakaan Kota

August 21, 2007 at 6:32 pm | Posted in FKIP Unlam | Leave a comment

Oleh Rahayu Suciati

            Berbincang perpustakaan merupakan tema favorit saya dalam obrolan. Membincangkannya dalam tulisan juga beberapa kali saya lakoni. Siapa sih yang tidak tahu dengan tempat satu ini. Rasaya setiap orang pastilah pernah atau sering menginjaknya. Pertanyaannya sekarang, sudah akrabkah perpustakaan dengan masyarakat kita?             

Sedikit bercerita pengalaman sendiri. Belakangan, iri juga rasanya hati melihat beberapa teman yang sudah sukses ber-“say god bye”dengan kampus tercinta. Alias sudah lulus, sudah berhasil jadi tukang sarjana-lah singkatnya. Semoga tidak menambah jumlah pengangguran saja ya? He..he..           

Semangat dan nyali mendadak berkobar-kobar lagi. Karena itu, beberapa minggu terakhir gencar mencari bahan referensi. Penggunaan waktu pun diatur lebih ketat, guna merampungkan skripsi dan segera menyusul teman-teman ke gerbang kelulusan.           

Maka, perpustakaan yang sedikit terlupakan karena rutinitas kembali dijadikan pelabuhan harapan akan bertemunya saya dengan bahan dan referensi judul sripsi. Malahan, seluruh perpustakaan rasanya ingin segera di jelajahi. Mulai dari perpustakaan prodi, jurusan, juga perpustakaan pusat Unlam (dengan harapan tidak menuai kecewa lagi tentunya, he…he). Perpustakaan daerah di Pecinan bahkan di Kilometer enam yang minta ampun jauhnya pun sudah siap masuk daftar penjelajahan.           

Sampai suatu kebetulan. Ketika sedang membonceng kendaraan di sekitar jalan Anang Adenansi, saya tidak sengaja melihat plang yang bertuliskan perpustakaan umum. Pikiran pertama melintas adalah ketidakpercayaan dan keheranan, “masa sih di sini ada perpustakaan, bukannya perpustakaan daerah hanya ada di Pecinan dan Kilometer enam?”.            

Setelah beberapa kali memastikan, ternyata apa yang dilihat mata saya tidak salah. Setelah memberitahu teman, hal serupa juga dirasakannya, heran dan bingung.            Akhirnya, daripada bingung sendiri, pergilah kami ke perpustakaan umum tadi. Setelah sampai di muka gedung, ternyata sesuai harapan, perpustakaan itu benar-benar ada. Tanpa buang waktu secepatnya kami menuju perpustakaan yang, sayangnya, berada di lantai tiga. Rupanya perpustakaan itu letaknya berada satu bangunan dengan gedung pramuka.           

Sempat terpikir sesaat, kalau perpustakaan yang ada di bangunan sendiri dan tak perlu repot memasukinya saja bisa dikatakan tak ramai pengunjung. Bagaimana dengan perpustakaan dimana pengunjungnya harus menaiki tangga terlebih dahulu untuk sampai ke sana.?           

Ketika masuk, lelah akibat menaiki tangga terobati. Ternyata pemandangan di dalamnya tidak mengecewakan untuk ukuran sebuah perpustakaan. Meskipun tidak luas, buku-buku yang ditawarkan bisa dibilang mengesankan.           

Meski masih banyak rok kosong, arsip untuk surat kabar cukup menjanjikan bagi siapa saja yang sedang dalam pencarian berburu informasi lama. Gambaran akan perpustakaan yang selalu menyediakan buku “antik” dan berusia senja sempat menyinggahi benak ketika pertama kali melihat-lihat. Tapi setelah menilik lebih dalam, ternyata banyak buku baru yang sebagiannya masih tergeletak dilantai dan sebagian lagi masih tersimpan di dalam kardus.           

Saat berbincang dengan salah satu petugas, rupanya buku baru masih dalam tahap penyusunan ke dalam katalog. Rupanya perpustakaan ini masih “miskin” tenaga kerja hingga proses pengkatalog-an harus memakan waktu lama. Tak heran memang, saat berada disana, saya hanya melihat tiga pegawai dan dua diantaranyalah yang bertugas untuk mendaftar dan menyampul sekian banyak buku. Iseng, melmbolak-balik beberapanya. Wah, buku-buku tersebut bervariasi dan benar-benar cetakan baru. Jenis bukunya pun beragam, bahkan buku-buku pengetahuan anak dengan kualitas dan mutu amat baik berjejer dalam jumlah banyak.            

Karena berstatus sebagai perpustakaan kota, maka peyelenggaraan dana tentu bergantung pada pemerintah kota Banjarmasin. Begitu pula dengan kiriman buku-buku baru tersebut.            

Sayang disayang, perpustakaan umum rupanya hanya “numpang” di gedung pramuka tersebut. Prasarana pun boleh terbilang minim. Mobil yang sedianya digunakan untuk mensosialisasikan perpustakaan tersebut ke sekolah-sekolah melalui program perpustakaan keliling hanya ada satu  armada saja. Bandingkan dengan jumlah armada mobil milik para pelayan masyarakat kita. Tak  heran bila promosi atas keberadaan perpustakaan umum ini ke tengah masyarakat berjalan lambat.           

Padahal perpustakaan seyogyannya menjadi elemen penting dalam pertumbuhan laju pendidikan. Sangat disayangkan memang jika perpustakaan yang bisa dikatakan sebagai ujung tombak majunya sebuah masyarakat, malah agak kurang mendapat perhatian. Sebagai perpustakaan kota, hal ini seharusnya perlu mendapat perhatian serius.  

Banjarmasin sedang giat berbenah dan mempercantik diri. Apalagi pembangunan di sana-sini semakin terlihat geliatnya. Mall, pusat perbelanjaan, tempat hiburan, serta perumahan kian ramai menghiasi kota. Tapi, bagaimana dengan nasib perpustakaan kita?

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: