Jutaan Rindu Untuk Bapak

August 21, 2007 at 7:14 pm | Posted in Cerpen | 4 Comments

 Oleh Rahayu Suciati  

Matahari perlahan menunduk. Ditemani awan-awan putih yang menggantung dengan latar semburat siluet merah yang menghias diantaranya. Senja akan mengganti sore. Sayup lantunan dzikir dan doa terlantun dari langgar di seberang jalan sana. Seperti nyanyian sore sebelum adzan maghrib berkumandang.  

Aku duduk sendiri, melamun. Termangu diantara berisik suara motor melaju di jalan depan pondokanku dan riang anak kecil yang berlari sambil bernyanyi. Cempreng dan lagunya tak jelas. Bedak putih menempel sembarangan di wajah lugu mereka. Rambut mereka basah tanda sehabis mandi.

Ah, anak kecil. Aku pernah melewati tahun di mana tubuhku setinggi mereka dan suaraku secempreng itu. Lima belas tahun yang lalu aku sama seperti mereka. Yang suka berlari dan bernyanyi lantang tanpa rasa malu atau takut di lempar sepatu. Otakku tiba-tiba ingin bernostalgia.

Tapi entah kenapa semenjak usiaku menginjak kepala dua, susah rasanya mengingat lagi bagaimana perasaan itu. Perasaan sewaktu aku masih kecil. Memang sebagian kenangan itu masih tertata rapi di memori otakku. Seperti album kenanganku dari masa ke masa. Tapi album itu sudah lama kubiarkan usang dan tak pernah kubuka. Tertutup rapi di gudang penyimpanan memori. Terpental oleh yang namanya kesibukan. Terbuang dan disepak oleh rutinitas. 

Entah kenapa pikiran yang selalu melintas muncul setiap kali membuka mata adalah aku manusia yang tiba-tiba sudah berumur 22 tahun. Puluhan ribu hari menjadi anak kecil dulu seperti sesuatu yang tidak nyata dalam fase hidupku. Pikiran yang biasanya menyusul muncul kemudian adalah; Kuliah apa hari ini? Siapa dosennya? Ada tugas apa tidak? Sarapan apa ya hari ini? Bla-bla… Ya, pertanyaan sejenis itulah yang selalu datang berkunjung dalam pikiran setiap hari. Tak pernah berhenti. Menuntut, merampas tawa naif semasa kecil dan mengubahnya menjadi seringai sinis pada dunia. Uh, mual rasanya. Muak dan ingin muntah di tempat. Sampai berak-berak. 

Dan satu persatu lembar album memori terbuka perlahan. Seperti tirai merah yang membuka di panggung saat pertunjukkan drama akan dimulai.

Adegan yang pertama muncul adalah aku yang berumur delapan tahun bermain dengan kakak perempuanku di depan pintu rumah. Bukan hanya bermain. Aku sedang menunggu. Di tiap senja hendak menjemput.  Menunggu sosok lelaki berbadan gendut muncul dari ujung jalan sana. Berjalan mantap dalam balutan kemeja yang diikat kencang oleh ikat pinggang tua dalam celana kain yang diseterika rapi. Ditangannya tak pernah absen bungkusan plastik hitam.

Wajah itu tampak letih. Tapi senyumnya selalu bisa muncul saat melihat aku di depan pintu. Tawanya mengembang dan tak lagi tampak letih itu dimatanya. Ketika aku bersuara;” Bapak…bapak sudah pulang. Bapak bawa apa?”. Dan diberikannya bungkusan itu padaku. Isinya biasanya hanya gorengan atau keripik singkong kesukaanku. Tapi aroma ratusan tawa tak ternilai selalu dapat tercium dari dalamnya. Tawa yang selalu kami nikmati bersama sembari menonton acara di tv 14 inchi yang usianya mulai menua saat itu. 

Ada sesuatu yang mengaburkan pandanganku saat satu persatu adegan masa lalu menggelinding bak koin yang meluncur. Ada air mata yang seperti ingin keluar. Lalu adegan lainnya pun muncul lagi. 

Aku yang baru masuk SD. aku begitu senang karena hari itu adalah kali pertama aku mengenakan seragam putih merah yang dijahit sendiri oleh ayahku. Hatiku riang dan terus ingin berdendang. Suara yang pertama kali membangunkanku untuk pergi ke sekolah adalah suara lembutnya. Suara bapakku. Suara itu yang bertahun-tahun kemudian juga tak pernah berhenti membangunkanku untuk pergi sekolah. 

Ibuku sudah pergi ke pasar sejak subuh-subuh sekali untuk bebelanja barang-barang yang akan dijual di toko kami. Jadilah bapak yang menyisir rambutku, mambedaki wajahku, sampai meyiapkan sarapan dan teh hangat untukku. Dan selalu bapak juga yang menemaniku belajar matematika di saat malam menjelang tidur. Beliaulah yang tak pernah lelah menemaniku dan mendengar ceritaku yang begitu antusias karena bisa pulang cepat lantaran bisa membaca tulisan di papan tulis dengan lancar. Bahkan sampai tahun-tahun berganti bapak lah yang selalu membuatkanku teh hangat saat aku terlambat bangun. 

Mataku semakin kabur oleh air yang berebut ingin jatuh dari mataku. Adegan berikutnya menunggu untuk diputar. 

Aku yang berumur sepuluh tahun. Di kalender saat itu menunjukkan seminggu lagi lebaran akan tiba. “Pa, aku mau beli sendal lapis warna-warni kayak punya Tiwi. Biar bisa dipake buat lebaran” Aku membujuk bapakku yang tengah asyik menonton siaran berita. Yang selalu lucu kala bapak menonton berita adalah umpatannya yang selalu ada saja disela-sela berita seperti “Dasar hidung dapur, kebanyakan makan uang rakyat”, “Si……bangsat. Hantu, raja korupsi. Mudah-mudahan di bakar di neraka” Seperti itulah.

Dan dua hal yang terpikir olehku saat itu adalah; ”Apa bapak nggak takut anak tersayangmu ini merekam semua umpatan itu dan kupakai untuk menyapa teman di sekolah?” dan “Bapak cocok banget jadi pengamat politik”. Kemudian  saat dewasa aku sangat bersyukur dua hal itu tak pernah terjadi. Tapi lihat sisi lainnya, aku yang sekarang, dengan sukses bisa mengoleksi lebih banyak kosakata umpatan melampaui yang bapakku punya. Mungkin dengan sedikit diasah aku bisa menerbitkan kamus umpatan lengkap 2 milyar suatu hari. Siapa tahu? 

Bapakku hanya tersenyum sambil mengelus pelan rambutku. Bagiku itu tandanya iya. Tak ku tahu pesanan jahitan yang sepi bulan itu. Tak peduli aku pada sewa rumah dan rekening listrik yang menunggu untuk segera dilunasi. Yang ku tahu hanya sendal lapis warna-warni yang harus kupakai saat lebaran nanti. 

Tepat di malam lebaran bapakku membagikan uang jatah lebaran pada kami semua. Lalu esoknya, melekatlah sendal lapis di kakiku, menempelah kemeja kotak-kotak di tubuh kerempeng kakak laki-lakiku, terbalutlah kaki sintal kakak perempuanku dengan celana jeans impian. Baju muslim baru juga menemani ibuku seharian.

Kami tersenyum, bahagia. Bapak juga tersenyum, lebih bahagia. Dalam kemeja putihnya yang tak baru, dalam celana yang sudah bertahun dikenalnya, dengan ikat pinggang tua yang mengencang di perut suburnya. Dengan sendal yang sama seperti tahun sebelumnya. Entah lebaran kapan terakhir ia menimati segala yang baru. Tapi ia senang. Tapi ia puas. 

Satu bulir air mata menuruni gundukan pipiku. Namun adegan demi adegan tak mau berhenti. 

Aku yang sudah SMA. Punya geng dan punya banyak acara. Tugas inilah, datang ke ultahnya si anulah, atau cuma sekedar nongkrong sambil bergosip tak karuan. Menghabiskan waktu. Bahkan dari pagi hingga malam sering kulewatkan di luar rumah bersama teman. Ketawa ketiwi, asyik dalam dunia sendiri.

Bapak adalah tipe orang yang memberiku kepercayaan penuh dan jarang melarang. Yang keluar dari beliau adalah petuah dan nasehat yang dulu kudengar sambil lalu.  Yang penting happy, hanya itu yang ada di otak ketika itu. Tak peduli aku pada bapak yang sabar menanti anaknya pulang. Tak pernah iba aku pada perasaan kesepian yang di dera hatinya saat jangkrik melagukan lagu malam bersama sunyi. Acuh aku akan perasaannya yang butuh teman bicara saat ibuku asyik menonton tv dan kakak laki-lakiku yang jarang terlihat di rumah entah sibuk dengan pacar atau band-nya. Lupa aku pada bungkusan plastik yang dibawanya setiap pulang kerja dan bajunya yang jarang sekali bisa baru.

Sebutlah aku brengsek karena begitulah aku! Kesepian itu seringkali merajam hatinya saat insomnia jahanam itu membuatnya lupa bagaimana rasanya tidur nyenyak Tapi apa yang aku lakukan? Ketika beliau dengan gembira membukakan pintu untukku saat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Yang kuberi hanya sebuah senyum. Padahal beliau ingin sekali berbincang sembari menunggu ngantuk bertandang. Dengan muka lelah aku beralasan ngantuk dan ingin segera tidur. Padahal di dalam kamar itu aku masih terjaga menonton film baru yang baru dibeli kakakku tadi siang. Ya, aku lah si brengsek. 

Saat keluar kamar untuk ke kamar kecil, bapakku masih disana. Koran tergeletak sembarangan di meja. Beliau masih duduk di sana dengan mata terpejam sambil mendengkur nyaring. Bapak tertidur dalam posisi duduk.

Di meja ada gelas berisi teh manis dengan setia menemani. Ada kenangan dengan gelas teh bapak. Dari kecil aku tak suka minum teh buatanku sendiri. Aku selalu minum teh bapak yang dibuatkan ibuku atau kakakku di gelas besar kesukannya. Entah karena gelasnya atau apa, tapi rasa teh itu terasa enak sekali. Teh itu yang selalu kami minum bersama dan bapak tak pernah keberatan. Tapi semakin besar aku semakin jarang minum teh bersama di gelasnya. Kalaupun mau, aku membuatnya sendiri dan dengan gelas sendiri. 

Kubangunkan beliau agar pindah ke kamar tidur. Aku tak ingin pagi harinya pinggang bapak encok karena tidur semalaman dalam posisi seperti itu. Bapak bangun dengan mata merah dan dengan langkah gontai menuju kamar. 

Isak tangis yang tertahan membuncah juga. Kemudian adegan kembali ke beberapa tahun sebelumnya. 

Aku yang kelas 3 SMP. Kami baru saja pindah rumah yang jaraknya jauh dengan sekolahku. Jarak itu yang mengharuskanku menggunakan angkot untuk pulang-pergi sekolah. Karena rumah kami yang berada di kompleks yang jauh dari jalan raya utama, aku terpaksa berjalan kaki cukup jauh untuk bisa mencegat kendaraan umum. Sambil didera panas siang, rasa lapar dan kaki pegal.

Seringkali aku marah pada bapak yang tak memberi uang lebih untuk naik ojek saja. Tak kupikirkan beban bapakku yang juga harus memikirkan uang sekolah kedua kakakku yang sudah di lanjutan atas. Tak peduli aku.  

Saat sampai di rumah, bapak selalu memberi senyum menyambutku pulang. Tapi apa yang kubalas? Mukaku selalu kukerutkan seperti orang yang paling menderita dan paling malang di dunia. Sampai suatu hari aku mengomel mengatakan bapak egois dan tak mengerti perasaanku karena membiarkanku capek setiap hari.  

Mata bapak nanar seketika, siapa saja bisa melihat amarah di mata tua itu. Tapi tak secuil pun ia memukulku atau menamparku. Seumur hidup beliau memang tak pernah sekalipun menyakitiku. Sekali pun. Lantas amarah itu berganti sendu yang dalam, kecewa yang teramat. Aku tetap tak bergeming dalam egoisku sendiri. Acuh. Merasa aku benar dan aku menang. Aku puas, iblis pun tertawa kesenangan. 

Tapi saat aku dewasa aku baru mengerti sendu itu adalah perih dan kecewa itu adalah luka. Malaikat pasti sudah mencibirku untuk semua luka yang kutorehkan di hati bapak. Hati beliau yang tak pernah pamrih atas semua pengorbanan yang tak terbalas. 

Aku menangis sekarang. Tanpa suara. Isak sudah ditelan rindu yang sekarat. Cuma air mata yang bicara. aku rindu padamu, ayahku. Rindu pada tegarnya jiwamu yang sekeras batu karang. Aku rindu minum teh dari gelasmu, rindu menikmati keripik dari bungkusan plastik hitam  yang kau bawa saat pulang kerja, rindu suara lembutmu dan gedoran di pintu kamar yang membangunkanku untuk pergi sekolah, rindu mendengarmu mengumpati anggota DPR yang katamu tukang korupsi dan hobi tidur saat sidang, rindu pada bau baju lamamu, rindu mendengar dengkuranmu dan posisi tidurmu yang sambil duduk itu, rindu untuk memijitimu, rindu untuk berbincang. Berbincang apa saja. Tentang kuliahku, hari-hariku, dan tentang hari-harimu. Tentang rindu yang sudah menggunung dalam hatimu yang kesepian. Rindu pada anak-anak yang sibuk dengan urusannya masing-masing. 

Tapi rindu itu cuma bisa jadi rindu. Tak bisa dituntaskan segera karena jarak ribuan kilometer yang mamisahkanku denganmu. Karena ruang yang berbeda walau waktu antara kita berkata sama. Sialan, brengsek, setan, kampret, tuyul yang namanya jarak itu. Lihatlah, pa. Bagaimana hebatnya anakmu mengumpat. Sepertimu yang selalu merasa bisa bebas kala mengumpat. Bebas dari belenggu beban hidup. 

Adzan maghrib berkumandang sudah. Meyerukan semua umat untuk kembali pada Tuhan. Lupakan rutinitas dunia sejenak. Kembali meneguk damai bersama-Nya. Ah, rindu kembali menonjok ulu hati saat shalat selesai kutuntaskan. Rindu untuk shalat berjamaah denganmu. Rindu untuk mencium tanganmu ketika selesai berdoa bersama. Pipiku kembali basah oleh air mata, kali ini lebih deras. 

Aku berdoa dalam hening yang menyamankan. Agar Tuhan memberikan waktu yang panjang untukmu dan untukku agar kita punya kesempatan berkumpul lagi. Agar bisa ku tebus banyaknya dosaku padamu. Agar bisa kubahagiakan engkau saat usia tuamu semakin menjelang. Hingga sebisa mungkin aku mampu, sampai seberapa lamanya kita bisa bertahan.  

Aku ingin punya semua kesempatan itu. Dimana kau dengan jas kesukaanmu itu dengan bangga menghadiri wisudaku, dimana dengan wibawamu kau nikahkan aku dengan pria pedamping hidupku nanti, dimana kau dengan segala kebaikan dan ketulusanmu menggendong cucumu dengan tanganmu yang puluhan tahun lalu juga menggendong tubuh mungilku yang ringkih, dimana kita bahagia di sebuah rumah yang penuh dengan tanaman yang selalu kau impikan.  

Jadi Tuhan, biarkan aku punya kesempatan untuk mengungkapkan pada beliau dengan segala balas yang aku bisa “Pa, aku sayang bapak. Sangat…”  

This story I dedicated to my lovely father.My inspirator and supporter who always be there no matter happen.I love and miss u so….I only can say this ;Thank u so much  4 everything…..March 9, 2007 (2 am)                                                                   

Advertisements

4 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Buktikalah rasa sayangmu kepada Papamu dengan prestasi kuliahmu.Beliau pasti akan bangga dan bahagia.
    Tidak semua orang bisa seberuntung Mbak Suci,bisa mengenyam bangku kuliah.Jangan katakan nek,mual pengen muntah karna yang tergilir-ngiler diluar sana masih banyak.

    Hehe…saya bersyukur kok termasuk orang beruntung yang bisa merasakan bangku sekolah. tapi, ini suara hati saya saja lho..hehe

  2. kapan bukunya terbit??? 🙂

    kapan-kapan…hehe…
    semoga di waktu yang tepat. ha…ha…

  3. haru…
    dan membuatku biru karena kenangan akan bapakku yang kurang lebih melakukan hal yang sama pada anak-anaknya; yang juga ga sempat menikmati kebahagiaan menyaksikan anak-anaknya diwisuda selepas perguruan tinggi; yang juga ga sempat mengantarkan anak-anaknya ke pelaminan dan ikut mencecap kebahagiaan anak-anaknya di hari pernikahan.

    bapak…
    ga da yang bisa dilakukan saat ini tuk balas seluruh kasih yang begitu ikhlas kau luapkan, hanya doa kami,
    semoga kau saksikan kebahagiaan kami
    semoga Allah mengampuni dan menempatkanmu di sisiNya yang mulia. amiin…

    Makasih yah dah mampir :)…makasih juga sudah mau terharu biru…hehe

  4. Rindu ayah….
    akupun rindu ayah, bedanya aku rindu kasih sayang dari seorang ayah yang tak kudapatkan,aku punya ayah,tapi aku tak seperti punya ayah, aku tak pernah tau rasanya dinasehati ayah,tak tau rasanya kasih sayang ayah, tak tau rasanya diperhatikan ayah, hingga….

    Hingga apa, mba? jangan bikin penasaran ah!…hehe….lam kenal:)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: