Antara Buku dan Celana Jeans Terbaru

August 23, 2007 at 11:44 am | Posted in FKIP Unlam | 5 Comments

Oleh : Rahayu Suciati 

Kira-kira kalau ada pertanyaan sseperti ini: “Sudah seberapa cintanya kah masyarakat kita dengan buku? Jawabannya akan seperti apa ya? 

Jawabannya bisa tergantung dari seberapa besarnya minat masyarakat kita akan membaca. Sayang disayang tingkat minat baca dalam masyarakat kita masih tak begitu menggembirakan.     

 Yang jelas berdasarkan pengalaman saya, minat membaca diantara teman-teman kuliah bolehlah dikatakan cukup bagus. Walaupun genre bacaannya kebanyakan masih suka pilih-pilih. Umumnya masih menggilai komik ataupun novel teenlit dan chicklit. Tapi, itupun sudah merupakan hal positif dibanding jika tidak suka membaca sama sekali. Karena menurut saya, membaca apapun itu, pastilah ada informasi atau sesuatu yang bisa dipetik sebagai pengetahuan atau pelajaran.           

Dulu saya pribadi juga terbilang tipe pembaca yang konservatif. Maksudnya cuma membaca apa yang disuka. Sebatas novel, majalah remaja dan cerita pendek. Kalau melihat buku berjenis lain apalagi jika halamannya luar biasa tebal, saya bisa merinding duluan.            

Tapi, seiring bertambah umur dan kebutuhan informasi yang harus terpenuhi ditambah mengantisipasi wawasan cekak, membaca tanpa pilih-pilih secara perlahan mulai saya seriusi. Buku-buku yang dulu pernah membuat saya mengantuk bahkan ketika baru membaca judulnya, coba untuk dibaca. Hasilnya lumayan juga, walaupun terkadang buku-buku tertentu masih ditaruh di nomor urut belakang sih. Hehe…           

Semakin memperdalam membaca apa saja, jadi semakin menyesali waktu yang terbuang begitu saja dahulu. Andai saja banyak waktu itu saya gunakan untuk membaca, pastilah saya tak menjadi miskin wawasan.           

Tapi, untuk apa menyesal tanpa memperbaiki diri, bukan? Karena itu, sekarang saya sedang berusaha untuk bisa rutin membeli buku. Kalau dulu membeli buku memakai perhitungan dan segala macam rumus keekonomisan sampai perlu perenungan sambil memutari seluruh isi toko barulah memutuskan untuk membeli, sekarang sudah ada perbaikan. Kalau melihat buku yang sangat ingin dibaca, langsung dibeli begitu ada uang.           

Tak perlu pakai perhitungan matang, karena buku tak pernah memberi kerugian. Walhasil, sekarang koleksi buku sedikit bertambah walau belum banyak. Pelan-pelan dulu, segala sesuatu kan butuh proses.           

Sampai pernah saking “ngebetnya” beli buku, akhir bulan saya lalui dengan kantong kempis sampai benar-benar tipis. Hehe…Tak apalah, yang penting hati senang.           

Sewaktu berlibur ke Balikpapan bulan lalu, Ibu saya pernah bilang “Jeans kamu kok udah pada buruk sih?” saya cuma mesem saja. Baru ingat kalau sudah lama saya tidak pernah membeli jeans baru. Uangnya saya larikan ke toko buku bukan ke toko jeans, haha…             

Kalau ingat jeans, saya jadi teringat salah satu teman kampus saya. Cewek modis yang tidak pernah ketinggalan mode terbaru. Pokoknya setiap ada model jeans terbaru dilempar ke pasaran, dia tak pernah absen untuk memilikinya.  Pernah satu pertanyaan hinggap di benak saya? Dia punya berapa jeans ya dalam lemarinya? Belum terjawab. Lalu disusul pertanyaan kedua; Dia punya berapa buku ya dalam rak bukunya? Ini juga belum terjawab. Cuma dia dan Tuhan yang tahu.           

Hal serupa juga saya perhatikan dari teman-teman yang terbilang sangat berada. Setiap bulan atau minggu selalu saja ada outfit baru yang dia beli. Tentunya dengan merek yang harganya pasti sudah bikin sekarat kantong saya. Begitupun dengan mobile phone yang dia gunakan, selalu model terbaru dengan fiture tercanggih. Sayangnya, begitu masuk ke kamarnya, buku yang ada hanya sebatas buku diktat kuliah. Jadi berpikir lagi, andai saja saya di posisi dia, wah bisa boros sekali membeli buku paling baru nih. Hehe….             

Tapi, begitulah cara pandang dan pola pikir kita. Tak ada yang serupa tiap individunya. Mungkin bagi seseorang, buku itu adalah sesuatu yang berharga untuk dimiliki. Tapi mungkin bagi yang lain jeans bisa lebih utama. Itu semua soal prioritas, pilihan. Setiap orang pastinya memakai “peci” masing-masing.           

Namun, alangkah indahnya kalau suatu saat masyarakat kita bisa memprioritaskan buku sebagai hal penting dalam pemenuhan kebutuhan. Jiwa kita butuh penyegar, dan buku bisa menjadi salah satu medianya. Otak kita butuh suntikan nutrisi, buku tentu bisa memenuhinya.            

Membeli buku, diakui atau tidak, belum menjadi budaya masyarakat kita. Alasan utamanya bisa dikatakan karena harga buku yang boleh terbilang kurang ekonomis bagi kantong orang Indonesia           

Suatu hari sewaktu berkeliling di toko buku, teman saya pernah berkata: ”Kenapa sih buku bagus itu selalu mahal”. Saya cuma bisa tersenyum. Pertanyaan itu lebih bagus ditanyakan ke siapa yah?           

Mendadak jadi teringat perkataan teman yang lain; “Membeli buku itu Jihad Fisabilillah”. Haha… boleh jadi benar kalau melihat kenyataannya, apalagi ketika kantong tak mendukung. Urusan “hidup” atau “mati” di akhir bulan, bos. hehe….           

Beberapa waktu terakhir saya baru membaca buku tentang quantum learning. saya sungguh sadar diri kalau saya sangat ketinggalan jaman. Di saat semua orang sudah mengaplikasikannya, saya baru membaca teorinya. Tapi, tak ada kata terlambat untuk belajar bukan?            

Bukan apa-apa, saya baru menemukan bukunya di salah satu perpustakaan kampus. Wah, kagum juga saya dengan perpustakaan itu. Maklumlah menurut pengalaman sebelumnya, buku perpustakaan di Banjarmasin identik dengan buku berusia uzur. Hehe…           

Tapi, bagaimanapun yang namanya meminjam tetaplah tak nyaman. Ada batas waktu pengembalian yang mesti dipatuhi. Kemudian terpetik ide untuk membeli sendiri. Ternyata harganya “aje gile” ( itu kalau menurut saya). Tapi, niat tak boleh surut, “Jihad” harus terus berlangsung walaupun harus ditunda sementara dulu.           

Jadi, antara jeans dengan buku terbaru, mana yang lebih penting yah? Itu terserah anda. Pada intinya, saya cuma berharap bahwa suatu hari kelak kita akan berovolusi menjadi masyarakat yang gemar membaca.           

Sekali lagi, saya jadi teringat satu pengalaman sewaktu dalam perjalanan pulang menuju Banjarmasin. Ketika di terminal, saya melihat dua orang turis mancanegara yang juga sedang menunggu bis untuk rute perjalanan yang sama. Seperti lumrahnya terjadi di Indonesia, jam pemberangkatan bukan lagi berdasarkan WITA melainkan waktu “KARET” alias molor kurang lebih satu jam.           

Otomatis yang menjadi tontonan saat itu sudah pasti dua bule tadi. Namun, yang lebih menarik perhatian saya adalah, bule-bule tesebut melewatkan waktu menunggu dengan membaca buku. Hal sangat kontras bila dibandingkan dengan penumpang lain yang menghabiskan waktu dengan sekedar mengobrol atau malah melamun sendiri.            

Wah, dilihat dari situ saja budaya kita sangat berbeda dengan budaya baca orang luar negeri. Karena itu bukankah hal yang amat baik jika kita mencontek budaya membaca masyarakat luar yang begitu tinggi. Bukan hanya mengekor modernisasinya saja.             

Masyarakat pecinta buku, semoga segera terwujud sebagai gelar bangsa Indonesia. Jadi, setelah ini saya ingin ke outlet yang menjual jeans atau toko buku ya? Toko buku dong! hehe…

Advertisements

5 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. wah,segitu getirnya ya buat beli buku? sama dunk..he..he..he, ….

  2. Assalamualaikum, salam kenal kembali buat Suci ya…Terima kasih sudah mampir di blog saya. Saya juga baru belajar menulis dan itu karena virusnya pak Ersis. Kalau pertanya an kamu tentang cerita saya jawabnya: ya ada sedikit true story tapi sudah penggabungan dengan imajination juga. Oke deh, Terima kasih sekali lagi ya. Be my friend young lady…Wassalam
    Maghfira Mimi Rachmat.

    makasih banyak yah, dah mampir 🙂

  3. Serasa inget waktu sma nih..dulu temen-temen pada suka beli baju, parfum, aksesoris dan sejenisnya aku malah tergila-gila beli buku dan majalah. Sampai sekarang pun gak betah kalo kepasar ato mall, pasti langsung ke tempat item yg mo dibeli. Tapi kalo dah ditoko buku..huwah…betah berlama-lama walo kadang ga beli karena lagi bokek. huehehe.. setidaknya dah “ngeker” dulu mana buku yang masuk top list buat dibeli 🙂 Untunglah Abah-mama-ading dirumah juga sama suka baca jadi kalo pas gak ada uang, ya udah mama aja ketoko buku..hehehe..beliau juga suka maruk beli bukunya kalo liat buku-buku bagus terutama sastra dan buku religi.
    Btw,baca namamu, jadi inget sahabatku nana suciati 🙂
    Oya, Blognya bagus..tulisannya enak dibaca, inspiring juga. Salam kenal. Thanks

  4. luuuuuuuuuuuuuucuuuuuuuuuuuuuuuu…. punya gratisannya gak… btw barteran novel……….. yuuk!!!!!!!!!!!!! klik aja profilquw. oceeeeeeeeeeeee

  5. Barteran Novel yuk, gue lagi cari novelnya Sidney Sheldon judulnya Bila Esok Tiba (If Tomorrow Comes), Garis Darah (Bloodline) dan Pagi, Siang, dan Malam (Morning, Noon & Night) kalau ada yang punya boleh dunk barter dengan novel gue. Gue ada double novelnya Sidney Sheldon judulnya Rencana Paling Sempurna (The Best Laid Plans), Malaikat Keadilan (Rage of Angels) danWajah Sang Pembunuh (The Naked Face). Thx B4 dD

    My Blog: http://noveljadul.blogspot.com atau di http://sogojongkok.wordpress.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: