Die Hard, Film Buatan Amerika yang Tak “Amerika”

September 6, 2007 at 4:37 pm | Posted in Umum | 5 Comments

Oleh : Rahayu Suciati 

Hari selasa lalu saya mendapat kesempatan untuk nonton bareng flm Die Hard sequel ke empat yang sedang tayang di Studio 21 Duta Mall. Awalnya ketika ditelepon oleh rekan saya, Syamsu, yang katanya diajak oleh Pak Ersis Wa, saya sempat berpikir sebentar. Pasalnya saya bukan pecandu dan penikmat film-film bergenre action ataupun thriller.

Kalau soal pengetahuan mengenai film-film tersebut, saya bisa cekak kuadrat, alias tidak tahu apa-apa. Film-film action yang saya tonton bisa dihitung dengan jari.  

Alasan sebenarnya mengapa saya tidak terlalu menyukai film action atau thriller sederhana saja, karena terlalu benyak kekerasan, adegan hajar-meghajar, darah dimana-mana, suara pistol di sana-sini. Tapi, entah kenapa berbeda dengan film Die hard. Mengapa?             

Yang pasti nama Bruce Willis sebagai pemeran utamanya bisa menjadi jaminan mutu kalau film action yang dibintanginya sangat sayang untuk dilewatkan. Sebut saja salah satu contohnya, film Armagedon yang melegenda menjadi box office di seluruh dunia, yang juga salah satu film favorit saya. Jadi, tak terlalu lama berpikir saya langsung menerima ajakan nonton tersebut. 

Ketika sampai di studio, ternyata tepat di jam pemutaran ke dua yaitu jam 14.55. Karena Pak Ersis memang masih belum tiba di studio, kami sempat ragu untuk membeli tiket di waktu penayangan saat itu atau dua jam berikutnya Namun, setelah menelepon beliau, maka dipilihlah waktu penayangan saat itu juga. Setelah menunggu kurang lebih sepuluh menit, yang ditunggu belum muncul juga.

Terrnyata Pak Ersis mengajak Pak Jumadi, salah satu pengajar di FKIP. Jadi, tanpa banyak buang waktu, segeralah kami ke dalam untuk menyaksikan pertunjukan film yang tengah diputar. 

Begitu masuk, saya langsung disambut desingan peluru bersahutan. Tak heran karena saat itu adegan sudah memasuki tahap “tegang” dimana John Mclaine, alias Bruce Willis sedang seru-serunya teribat aksi tembak-menembak dengan beberapa pembunuh bayaran yang sedang mengincar target mereka, Mathew Farrel, si Hacker “kakap”. Rupanya kami sudah kelewatan Tahap “pemanasan” dan bagian introductionnya. Tapi, tak apalah, karena jalan cerita masih bisa langsung dicerna dengan jelas. 

Di Majalah-majalah film umumnya, diakhir sebuah resensi film akan ada penilaian terhadap film tersebut. Jika saya ada di posisi perensensi, saya pasti akan memberikan bintang lima untuk film Die Hard 4.0 ini. Atau dengan kata lain, film ini masuk kualifikasi sebagai film sangat bagus dan amat layak ditonton. 

Alur film ini begitu mengalir. Plotnya sederhana dan mudah diikuti. Dari segi jalan cerita, film ini benar-benar menyuguhkan ketegangan di hampir sepanjang durasinya. Walau tembak-menembak, perkelahian, pembunuhan, kejar-kejaran mematikan, hingga banyak kecelakaan mewarnai cerita, namun semuanya dikemas begitu “halus”. Dengan kata lain, hanya “sedikit” darah yang terlihat di sepanjang film. 

Yang paling menarik di mata saya adalah pengetahuan dan pesan yang saya tangkap dari film ini. Bahwa betapa kekuatan dari sebuah negara berkuasa bisa menjadi bumerang terhadap penghancuran negara itu sendiri. Betapa negara Amerika yang begitu berkuasa di kancah dunia ternyata bisa sebegitu rapuh dan dikacaukan hanya dalam hitungan jam. 

Siapa yang tidak mengetahui Amerika sebagai negara adikuasa dan paling berpengaruh dalam percaturan dunia internasional bahkan di semua bidang. Salah satu faktor yang membawa Amerika pada kemajuan begitu pesat adalah penguasaan teknologi yang terdepan. Apa sih yang tidak dijalankan dan dikendalikan oleh komputer? Semua bidang pekerjaan dan sistem pekerjaan tak ada satupun yang tak tersentuh komputerisasi. Mulai dari perekonomian, pertahanan dan keamanan, transportasi, layanan publik, telekomunikasi, hingga semua departemen pemerintahan. 

Film Die Hard bisa jadi memblejeti Amerika. Tak tanggung-tanggung, serangan total (fire sale) atau terorisme virtual dalam sekejap bisa memporakporandakan segala sistem disana. Bukan dengan bom yang identik dengan serangan teroris sehingga meledakkan dan meluluhlantahkan bangunan dan memakan begitu banyak korban. Melainkan dengan cara lebih halus, menyusup ke dalam sistem komputerisasi dari pusat pengendalian dan informasi milik pemerintah.

Maka, transportasi, jaringan kominikasi, kebutuhan publik, dan keamanan mengalami kekacauan.  Bahkan terorisme secara virtual ini bisa lebih berbahaya dan dapat mengakibatkan chaos yang lebih besar dibanding dengan serangan bom berskala besar sekalipun. Kepanikan masal dengan cepat tercipta hingga yang terburuk yaitu pembobolan semua aset berharga milik pemerintah.  

Yang tak kalah menarik menurut kacamata saya adalah pemicu awal dari kekacauan tersebut sebenarnya bersumber dari ketidakpercayaan. Thomas Gabriel, dalang dari fire sale dalam film tersebut melakukan serangan itu dilatarbelakangi oleh rasa dendam dan kekecewaan terhadap keangkuhan pemerintah Amerika. Bahwa seseorang yang awalnya hanya ingin memperbaiki sistem pertahanan dan informasi Amerika yang dinilainya rapuh berbalik menjadi kriminal yang ingin menghancurkan negaranya sendiri akibat sikap arogan pemerintah Amerika yang tak menggubrisnya sama sekali.

Tak ayal, serangan virtual yang dipercayai sebagai mitos belaka berhasil diwujudkannya sebagai bukti kebenaran pendapatnya. Bayangkan saja, bagaimana jika si antagonis, Thomas Gabriel berhasil menerobos seluruh aset finansial Amerika. Berapa banyak kekayaan Amerika yang akan hilang atau bahkan lebih parah ketika seluruh informasi dan dokumen negara ia hanguskan begitu saja. “Kita akan kembali ke jaman batu”, begitu salah satu petikan dialognya.  

Jadi, negara kita bolehlah sedikit bernafas lega karena serangan virtual seperti ini mungkin saja tidak terlalu ampuh untuk melumpuhkan sistem kenegaraan dan roda kehidupan kita sehari-hari. Bukankah masih banyak sistem data dan informasi dalam departemen pemerintahan kita yang masih dalam era “jaman batu”? hehe… 

Kembali lagi, film Die hard sequel ke empat ini harus diacungi dua jempol. Di tengah kebanyakan film-film Amerika yang sarat propaganda, film ini menyajikan sesuatu berbeda. Sebagai negara paling berkuasa, memang tidak sepatutnya sikap arogan begitu diumbar pemerintah Amerika. Teknologi seperti seperti dua sisi mata uang. Bisa sangat membawa perubahan dan kemajuan namun ternyata bisa menjadi pembunuh mematikan. 

Amerika boleh saja menjadi negara adikuasa tetapi bukanlah negara paling sempurna. Karena apa yang dikatakan sempurna sebenarnya paling mendekati kehancuran.  Film action satu ini sekarang menjadi film action yang paling saya sukai.

Karenanya, setelah film selesai, rasanya ingin segera menonton sequal-sequal sebelumnya.  Ada satu petikan yang paling berkesan dari dialog ketika Mathew Farrel menanyakan alasan Si John Mclaine bersedia melawan kejahatan meski harus melakukan hal-hal gila dan melewati banyak bahaya.

Mclaine hanya menjawab:“Karena tidak ada yang mau melakukannya”. Dan itulah yang membuat Ia menjadi pahlawan. 

Top untuk film ini….  

 

Advertisements

5 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Kok saya ga di ajak nonton juga ya. Jadi ngiri nih, hehe.

    Hehe…kapan-kapan mau juga nih nonton bareng sama Mba…
    Hehe:)

  2. hmmm, kebetulan cuma nonton sebntar, tapi die hard yang sebelumnya udah semua!!!
    seneng ama aktingnya bruce wilis

    Kok nontonnya cuma sebentar? kan sayang tuh dilewatin.saya aja udah nonton dua kali…hehe:)

  3. Sama ih dengan punya SQ..

    Makasih Mas udah mampir

  4. Blognya saya link ya.

    Siiip🙂

  5. Umpat Babuat


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: