Dermawan Dalam Kesederhanaan

October 29, 2007 at 7:37 pm | Posted in Cerpen | 7 Comments

Oleh Rahayu Suciati

Angin malam semakin dingin menyapa kulit. Sepuluh menit lagi genap pukul sepuluh saat kulirik jam di pergelangan tanganku. Ku masukkan telapak tanganku lebih mendalam pada saku jaketku. Tak banyak berpengaruh, tapi cukup untuk mengurangi tamparan hawa dingin yang mencubit.
 
Kulangkahkan kakiku makin cepat diantara kerumunan pasar malam yang mulai menandakan kesibukan para pedagang menutup dagangannya. Walau begitu, keramaian orang masih belum bisa dikatakan lengang. Sejauh mataku memindai ke segala arah, masih tampak banyak orang yang melihat-melihat pada apa saja yang bisa ditawarkan oleh pasar yang selalu buka tiap malam ini. Tawar-menawar rupanya masih bersemangat menghidupi suasana pasar ini.


 
Entah sejak kapan pasar malam ini mulai mengikrarkan keberadaannya. Yang pasti sejak keluargaku pindah ke kota ini, pasar ini sudah ada. Satu hal yang unik dari pasar ini adalah letaknya yang kurang tepat untuk berlokasinya sebuah pasar yaitu di sisi kiri dan kanan salah satu jalan utama di kota seribu sungai ini. Karena itulah sudah merupakan pemandangan sangat wajar jika jalan ini begitu padat dilalui banyak kendaraan bermotor dan sesaknya pengunjung pasar yang hilir mudik saling berebut menapaki jalan yang berukuran sempit itu.
 
Langkahku satu persatu bergegas berirama menapaki jalan, kontras dengan irama malam yang kian mengantuk. Sepanjang perjalanan, hatiku tak bisa berhenti menggerutu. Telepon dari kak Ivan lima belas menit lalu benar-benar meninggalkan segumpal rasa kesal yang mencumbui perasaanku. Ia bilang tidak bisa menjemputku karena sepeda motornya mogok di jalan dan tampaknya butuh cukup lama untuk memperbaikinya. Padahal Tadi sore ia yang menawari menjemputku dari rumah Wulan begitu aku pamit pada Ibu untuk mengerjakan tugas. Jika tahu akan begini dari sejam lalu aku sudah akan pulang sendiri.
 
Tentu saja aku tak ingin menunggunya! gerutuku dalam hati. Padahal Wulan sudah menawariku untuk menginap saja dirumahnya tapi tentu saja itu akan membuat ibuku khawatir. Atau tepatnya akulah yang khawatir meninggalkan ibu sendirian di rumah. Sebenarnya ibu tak pernah melarangku menginap di rumah teman karena tentu saja ibu menganggapku sudah dewasa. Tapi, entah kenapa aku tak pernah nyaman meninggalkannya barang semalam saja.
 
Aku mendesah, lebih tepat mengeluh dalam hati. Entah harus merutuk pada siapa. Bukan salah Kak Ivan kalau sepeda motornya mogok. Wajar saja sih mengingat usia kendaraan satu-satunya yang keluarga kami miliki itu sudah berumur sepuluh tahunan lebih. Jadi mogok sudah merupakan penyakit yang rutinan datang.
 
Sepeda motor itu. Banyak kenangan yang tertinggal bersamanya. Kenangan bersama ayahku. Motor itu adalah kebanggaan yang teramat disayangi ayah karena itulah harta yang bisa di beli beliau melalui kerja keras. Motor yang menemani keluarga kami dalam berjuta lembaran kenangan indah kami. Sampai ayahku meninggal dan hanya itulah yang dapat diwariskan beliau pada Kak Ivan. Tak ada rumah dan perhiasan yang bisa beliau persembahkan. Walau begitu kami ditinggali warisan yang berjuta lebih baik daripada itu semua, kenangan akan sifat dan pribadi santun beliau.
 
Ditemani lamunan yang mengambangi pikiran, tak terasa kakiku sudah mencapai bibir pasar. Beberapa langkah disana jejeran becak yang didalamnya duduk pemiliknya menunggui orang yang ingin memakai jasa mereka.
 
Tak sedikit dari mereka sudah diliputi usia senja. Kadang aku bertanya-tanya sendiri mengapa di usia senja seperti itu dan dalam tubuh-tubuh renta, mereka masih harus berjuang berhadapan dengan urusan isi mengisi perut. Mengapa mereka masih bergelayut dalam terik siang dan dinginnya malam mengayuh hari dalam perjuangan mengais rejeki. Oh tuhan, kemana para saudagar kaya, sang pejabat, atau si pemberi? Dan pertanyaan tanpa akhir itu selalu melecut persendianku, membuatku lemas.
 
Kupelankan kakiku ketika aku melihat salah satu tukang becak yang duduk melamun dalam becaknya. Matanya menerawang jauh seakan ingin merobek langit dan awan disana. Sebentar matanya sayu ketika angin malam berhembus menidurkan. Tapi sekuat tenaga ia melawannya seakan ia ingin terus terjaga melawan malam.
 
Aku berhenti tepat didepannya yang tampaknya belum bangun dari lamunannya. “Paman, becak?”, sapaku sedikit keras. Ia pun tersentak sadar dan segera tersenyum kepadaku. Sambil memperbaiki posisi duduknya ia bertanya, “Kemana, Ding?”.
“Ke Mesjid Jami berapa, Man?”
“Biasa berapa , Ding?”
“Enam ribu, paman lah”. Beberapa detik Paman becak itu berpikir. Rautnya yang letih menghiasi wajahnya yang keriput. Umurnya diatas lima puluhan, tebakku dalam hati.
“Ayu ja. Naik, Ding” paman itu menyilahkan sopan sembari keluar dan bersiap mendorong becaknya. Sejurus kemudian aku sudah duduk dengan santai di dalamnya. Setelah memastikan aku sudah nyaman dalam dudukku barulah Bapak tua itu mulai mengayuh becaknya menyentuh jalanan yang semakin sunyi.
 
Hanya beberapa menit kesunyian bertahan sampai paman becak itu bertanya dengan sopan dalam bahasa Banjar, yang juga bahasa Ibuku
“Hanyar datang belanja kah, Ding?”
“Kada, Man. Dari rumah kawan”
“Oh, sorangan aja kah?”
“Inggih. Tadi handak diambili kakak ulun, tapi kendaraannya mogok”
“Oh…” kemudian diam mengambil alih lagi namun tak lama.”Masih sekolah, kuliah atau sudah begawai kah, ding?”
“Masih kuliah, Man. tapi sudah semester akhir”
“Oh, sudah parak tamat lah, ding? Bagus ae, lakas begawi ja nyaman membantui orang tua. Ya kalo, ding?” kalimatnya diakhiri dengan tawa santai.
“Inggih, Man. Insyaallah”
“Nyaman lah, ding kawa kuliah. Anak paman handak ae. Tapi kaya apa, larang banar biaya kuliah wahini. Orang sakit kaya Paman ini kada sanggup mengongkosi. Tapi alhamdulillah inya kawa ja dapat gawian”
“Anak paman binian kah lakian? Sekarang begawi dimana, Man?”
“Binian, ding. Sekarang inya begawi jadi penjaga toko. Wahini kalau lulusan SMA kada kawa lagi begawi harat-harat. Tapi, itu ja syukur banar, kawa ja membantui adding-adingnya sekolah”
“Anak Paman berapa?”tanyaku sekarang semakin tertarik.
“Tiga. nang kedua SMP, nang pehalusnya masih SD”
“Oh” jawabku pendek.

Pasti rasanya berat sekali menjadi tulang punggung di usia senja seperti beliau ini. Aku tahu bagaimana beratnya itu. Dulu, semasa almarhum ayah masih hidup, waktu yang terberat dihadapi adalah saat ulangan umum menjelang. Bukan apa-apa, itu pertanda bahwa beliau harus melunasi biaya sekolah aku yang di SMP dan Kak Ivan yang di SMA yang selalu tertunggak.

Ah, ayah. Sekejap wajah ayah terbayang jelas di benak dan kerinduan itu kembali menonjok ulu hati. Lampu-lampu yang terlewat di sepanjang jalan seolah menjadi penghias malam membuatku semakin asyik sendiri terbuai dengan lamunanku. Sampai…

“Ding, di sini kah?” suara paman becak membawaku menyadari dimana aku sekarang. Dekat di depan sana bangunan Mesjid Jami berdiam bisu bermandi cahaya bulan penuh sempurna.

“Ya, di sini aja, paman ae” becak pun perlahan berhenti tepat di depan sebuah gang. Aku turun dengan gesit seolah sudah tak sabar ingin segera sampai di rumah.
“Ini, man. Makasih lah?” ku serahkan selembar uang sepuluh ribuan kepadanya. Ketika ia hendak merogoh kantong celananya, tanganku bergerak membentuk isyarat.

“Kada usah paman. Buat Paman ja”. Aku tersenyum yang dibalas dengan pandangan berbinar-binar dari mata lelaki tua di depanku itu.

“Makasih lah, ding. Makasih banar” sedikit merunduk ia memegang uang kerrtas yang tadi ku berikan. Sambil tak berhenti tersenyum, ia menaiki kembali becaknya dan berlalu meninggalkanku.

Rumahku masih beberapa meter lagi dari bibir gang tempat aku berdiri. Sambil berjalan, wajah sumringah Paman becak tadi meninggalkan kesan yang tak bisa kulupakan. Aku hanya memberikan empat ribu kembalianku saja tapi lihat bagaimana ekspresi yang keluar dari wajahnya. Ekspresi penuh syukur dan kegembiaraan yang mungkin sulit untuk dimengerti para hartawan. Ketika nilai empat ribu begitu dianggap kecil saat sekarang ini, nilai itu tetap akan bernilai banyak bagi orang-orang tak berharta yang semakin sesak nafasnya digilas nasib. Bisa mengertikah para hartawan itu?

Aku tersenyum. Entah kenapa langkahku terasa begitu ringan ketika ingat bagaimana kegembiaraan yang terpancar dari wajah Paman becak tadi. Di tanganku masih kupegang dompet yang belum kumasukkan ke dalam tas sewaktu membayar ongkos becak tadi.

Ku buka lipatan dompet ditanganku dan senyumku lebih mengembang begitu melihat selembar uang lima ribuan tersimpan nyaman di dalamnya. Ya, cuma itu yang tersisa untuk besok. Bahkan mungkin untuk lusa juga. Kini aku tertawa sendiri.

Ah, kulangkahkan kakiku semakin cepat mendekati rumahku. Dan kini rasanya langkahku semakin ringan saja ketika suara ayah yang tak pernah kulupakan dalam setiap detik menggema kembali dalam ruangan sepi batinku.

“Tidak perlu menunggu jadi hartawan untuk menjadi dermawan, bukan?”

Ku tatap bintang langit malam disana. Ingin rasanya aku berbicara langsung padanya.

Terima kasih, Ayah… Aku bangga terpilih menjadi putrimu…

Advertisements

7 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Ceritanya menggugah. Dialognya khas bahasa Banjar, ya, ci?

    Benar, tidak perlu menunggu sampai menjadi hartawan baru memberi. Setiap yang kita berikan dengan tulus akan di balas berlipat-lipat oleh-Nya.

    Yup, itu dialog Banjar. Tapi gampang dimengerti kan, Mba?…
    Idem tuh, Mba.:)

  2. cerpen yg menarik. salam kenal! From http://pcmavrc.wordpress.com

  3. salam kenal! From http://pcmavrc.wordpress.com

    Salam kenal, makasih yah dah kunjung n mo baca 🙂

  4. Wah…gimana ya? jadi ingat kalo dah lama nggak naik becak ??? 🙂

    Kok, naek becaknya seh?

  5. Makin menjadi … slamat

    Makasih Banyak, Pak…:)

  6. ciri khas ayu bgt ni cerpen…
    aq suka bgt..
    entah knp tiap kali bc cerpennya ayu, slalu aja merinding(bukan, bukan krn ada setan di dekatku) tetapi mmg krn cerpennya..
    ceritanya standar dan biasa tapi ayu bisa bgt bikin cerprn dgn kata2 yg gak biasa, ya itu td smpe bikin merinding…
    aq jg pernah ngalamin spt cerita ini (bukan jd tukang becanya lo) tetapi jd si ‘aku’… jd aq tau benar gimana persaan si ‘aku’ disini..
    well, that’s all..
    sukses ya yu..
    keep on writing..

    Thanx yo, lam…..I’ve already read your comment on Pa Ersis’ blog…haha….anak wartawan ni ye….siapa garang nama abah kam, lam? bisa terkenal neh?:)

  7. Ka, pakabar? lama ngak keliatan! masih ingat dngan uln? Uln Nazmy nak English Dept fkip unlam jg, hehehe, blog kaka bagus sekali, uln jg pnya blog almtx: http://nazmy88.blogspot.com, kena singgah jua lah di sana hihihi, moga sukses aja, amin.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: