Indonesia Masa Kini

November 3, 2007 at 11:44 am | Posted in FKIP Unlam, Umum | 2 Comments

Kamis, 19 Oktober lalu, Editorial Media Indonesia membahas tajuk utamanya dengan judul “Orang Kaya Indonesia”. Editorial tersebut dengan sangat menarik membahas mengenai peningkatan signifikan yang terjadi pada jumlah orang yang terbilang berpenghasilan sangat tinggi di Indonesia. Jumlah tersebut ternyata didominasi oleh kalangan yang berhasil di bidang property.

Suatu kabar yang tidak terlalu mengejutkan ditengah serbuan dan gencarnya pembangunan segala bidang di seluruh nusantara terutama di kota-kota besar. Mulai dari perumahan, mall, apartemen dan segala pernik berbau metropolis lainnya dengan sukses menjamur di negara kita.

Dari lahan bisnis property inilah banyak pengusaha sukses meraih untung dengan berujung pada penambahan aset kekayaan mereka, hingga tak salah julukan orang kaya segera melekat dalam diri mereka.

Tak bisa dipungkiri ini bisa menjadi kabar baik bagi negara ini. Meningkatnya jumlah orang kaya berarti meningkat pula prospek peluang bisnis besar di Indonesia. Selain itu penyerapan lapangan kerja di bidang property juga merupakan dampak pengiring positif bagi masyarakat. Apalagi lahan bisnis property juga secara tidak langsung banyak melibatkan banyak sektor ekonomi terutama industri bahan bangunan. Usaha kecil lainnya seperti rumah makan atau warung kopi juga tak kalah kebagian sedikit rejeki.

Dari hasil riset yang dilakukan Merrill dan Capgemini yang dilansir di Hong Kong, didapatkan data yang menunjukkan bahwa tingkat perkembangan orang orang kaya Indonesia berhasil menempati urutan ke tiga di kawasan Asia-Pasifik setelah India yang berada di urutan kedua dan China yang menduduki top ranking.

Tapi, benarkah peningkatan jumlah orang kaya secara drastis juga merupakan kabar gembira bagi perkembangan kesejahteraan bangsa secara keseluruhan? Jawabannya tentu saja tidak sesederhana itu. Inilah ironi yang saat ini tengah mendera bangsa kita. Peningkatan jumlah orang kaya, sayangnya, tidak disertai dengan pengurangan jumlah orang miskin. Sebaliknya, jumlah masyarakat yang menempati kelas ekonomi di garis dan di bawah garis kemiskinan malahan juga bertambah jumlahnya. Bukankah ini merupakan sesuatu yang lucu?

Jumlah orang-orang di garis dan dibawah garis kesmikinan tak juga kunjung mengalami pengurangan berarti. Menurut statistik resmi (Juli 2007) di negeri ini terdapat 37,17 juta orang miskin. Tentu saja banyak yang meragukan ketepatan jumlah tersebut. pasalnya ukuran yang digunakan belum dapat dijamin apakah melibatkan aspek-aspek dimensional yang lebih kompleks. Orang miskin bukan hanya yang tak bisa memenuhi kebutuhan bertahan hidup paling mendasar yaitu makan. lebih jauh itu, banyak hal lain seperti buta huruf, tingkat kesehatan yang buruk, permukiman yang tak layak huni, dan rentetan hal lain yang juga dapat mengkategorikan seseorang ke dalam golongan miskin. Jadi, wajar sajalah jika banyak yang mergukan kevalidan jumlah 37, 17 juta orang miskin yang dimaksud.

Kalau jumlah orang kaya meningkat scara drastis dan jumlah orang miskin pun terus bertambah tiap waktunya, kekhawatiran akan terjadinya jurang besar antara kya dan miskin tak mustahil melanda bangsa ini. Hingga suatu hari pemandangan dimana orang-orang berduit menikmati segala macam kemewahan dan kenikmatan dunia sedangkan sebagian saudaranya yang lain menangis digilas nasib yang kian kejam adalah pemandangan biasa. Ketika orang-oang kaya berseliweran menghamburkan uangnya di pusat-pusat perbelanjaan dan sebagian saudaranya meringis menahan lapar dan dan tak bisa berbuat banyak ketika anaknya tak kebagian jatah pendidikan di sekolah adalah hal lumrah. Haruskah ini yang akan terjadi pada bangsa kita nantinya?

Tak usah menunggu nanti, sekarang saja sudah sangat umum dijumpai perumahan-perumahan serta apartemen elit dibangun di seluruh penjuru perkotaan. Sehingga porsi ideal 1: 3: 6 (1 rumah mewah, 3 rumah menengah, dan enam rumah sederhana) yang pernah dicanangkan di masa orde baru sama sekali hilang. Para pebisnis property beramai-ramai mendirikan rumah-rumah mewah dengan berbagai fasilitas megahnya. Bahkan tak sedikit juga yang dengan kejam mengorbankan tanah dan pemukiman penduduk demi mengeruk untung besar dengan proyek-proyek perumahan dan mall yang terbaru.

Inilah Indonesia masa kini. Terlena dibuai dengan segala macam kemewahan dan sesak oleh orang-orang kaya yang banyaknya acuh pada miskinnya kesejahteraan bangsa. Orang-orang kaya yang dengan cuek bebek menginvestasikan kekayaannya di negara tetangga yang sejatinya juga penjajah harta bangsa kita, Singapura. Sebesar kurang lebih tujuh ratus triliyun aset orang-orang kaya Indonesia tertumpuk disana. Jumlah yang amat besar dan bahkan senilai dengan APBN negara kita untuk satu tahun. Luar biasa!

Inilah negara Indonesia sekarang. Tempat sampah sekaligus ladang harta karun bagi negara-negara maju yang berdagang teknologi dan gaya hidup metropolis. Ironisnya lagi, bukan hanya orang kaya yang menjadi korbannya, orang melaratnya pun sukarela “mengorbankan diri”. Saat orang kayanya semakin giat menumpuk harta, orang-orang miskin ditidurkan dengan mimpi-mimpi indah menjadi orang kaya lewat sinetron-sinetron tak bermutu setiap harinya.

Inilah Indonesia masa kini. Begitulah bahagianya orang kaya Indonesia. Dan seperti itulah menderitanya orang miskin di tanah Indonesia.

Advertisements

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Jadi kira-kira solusinya bagaimana ya? Apakah mungkin orang-orang kaya mesti berbagi lahan dengan orang miskin ?
    Menyikapi kesenjangan sosial demikian, mungkin keprihatinan dalam diri perlu ditumbuhkan lebih subur, hingga penduduk kita yang kaya memiliki jiwa yang lebih besar untuk mengayomi mereka yang miskin (sok tahu ?) 🙂

    Yup, mungkin salah satu solusi yang patut dipikirkan adalah seperti itu. Simpelnya gini, yang kaya peduli yang miskin, yang miskin nggak jadi “manja” dengan hanya mengharap kepedulian yang kaya. Jadi, orang kaya berusaha “lebih baik hati”, yang miskin berusaha “lebih kerja keras lagi”…
    🙂

  2. Indonesia akan terus terpuruk seperti ini jika kita tidak mau mengadakan perubahan dan pembenahan secepatnya, karena Indonesia sudah berpura-pura!!!! mereka berpura-pura buta, tuli dan bisu


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: