Stop Sakiti Lingkungan!

December 21, 2007 at 12:48 pm | Posted in FKIP Unlam | 13 Comments

Oleh: Rahayu Suciati

Seringkali ketika menghabiskan pagi hari dengan lari pagi di sekitar rumah, saya menghilangkan lelah dengan duduk-duduk di bawah pohon besar. Menghirup udara pagi yang segar di bawah rindang pohon sungguh satu hal yang begitu nyaman untuk dinikmati.

Seringkali juga di saat-saat itu, sembari memandangi kokoh dan rindangnya pohon di samping, pikiran-pikiran melintas di kepala. Sebuah penyadaran, tepatnya. Akan betapa sayangnnya Tuhan terhadap manusia dan makhluk hidup lainnya dengan menciptakan tumbuhan bagi kehidupan. Dengan sistem yang amat teratur, di siang hari tumbuhan menghirup oksigen dan mengeluarkan karbondioksida. Bayangkan saja jika tumbuhan juga mengeluarkan karbondioksida, siapa yang bisa menangkal polusi dan memberikan udara sejuk.

Tumbuhan juga diciptakan sedemikian rupa untuk menjadi penyerap dan penahan air untuk keseimbangan lingkungan. Betapa cintanya Tuhan pada umatnya. Bahkan hal sekecil apapun di dunia ini diatur untuk kebaikan manusia dan makhluk hidup di bumi.

Pertanyaannya, seringkah manusia menyadari dan mensyukuri akan semua kasih sayang begitu besar yang dilimpahkan-Nya?

Alih-alih bersyukur, sebagian dari kita malah membalasnya dengan merusak lingkungan. Menyakiti alam yang sudah begitu bermurah hati pada kita dengan menyediakan air berlimpah, tanah subur, hutan lebat, bahkan kekayaan alamnya. Tapi, begitulah manusia dengan sikap keserakahannya. Mengambil tanpa ada lagi kepedualian untuk menjaga dan memeliharanya.

Lihat bumi kita sekarang. Rasakan panas matahari yang membakar kulit bahkan ketika hari baru menujukkan pukul delapan pagi. Amati jalan-jalan serta bangunan yang kian rapat mendesak pohon-pohon rindang untuk mengalah. Saksikan amarah alam kala banjir datang, longsor mengancam, dan kekeringan menyambut setelahnya. Tak cukupkah pertanda ini? Bahwa alam kita menagis, alam kita sudah begitu tersakiti!

Pemanasan global yang kini tengah hangatnya menjadi isu sedunia kemudian menjadi berita utama. Banyak dari kita yang tergugah untuk berbenah. Menyadari kesalahan untuk kemudian memperbaiki lingkungan yang telah banyak rusak. Aksi menanam pohon giat digulirkan, serta ajakan untuk menyelamatkan lingkungan muncul dimana-mana.

Tapi, menusia-manusia serakah ternyata masih belum juga mau sadar. Demi nilai rupiah, maka hutan pun tak segan dihabisi. Demi sebuah kekayaan, habislah harta alam milik genersi penerus nantinya.

Di bagian bumi lain, masih juga sebagiannya acuh dengan semua pertanda. Sungai yang berabad-abad telah memberikan limpahan air semakin hari kian dipadati dengan sampah-sampah yang merusak. Rasa terimakasih pun tak ada lagi ketika mereka menjadikan sungai yang merupakan elemen pemelihara kehidupan dan biota alam didalamnya justru mereka alih fungsikan sebagai TPA atau Tempat Pembuangan Akhir sampah.

Stop menyakiti lingkungan! Sayangi alam yang telah memberikan kita kehidupan. Jangan gunduli hutan demi kepentingan sendiri. Jangan buang sampah dengan tidak mengenal tempat yang tepat.

Jika tak bisa berbuat hal besar, maka mulailah dengan hal kecil. Satu sampah yang dibuang di tempat yang benar, berarti satu langkah menuju perbaikan lingkungan. Satu langkah lebih dekat terhadap pensyukuran diri terhadap nikmat yang diberikan TuhanYME.

Mulai dari diri sendiri. Mulai dari sekarang.

Advertisements

13 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Yang menyakiti lingkungan, menyakiti diri sendiri, masyakat, dan Bumi

  2. juara posting

  3. oke yu, sekarang masih di bjm? aku jali ppl sejarah.

    Hei Jal, lama nggak ketemu…masih di Bjm nih…ciee, udah lulus donk…tahu blog diriku dari mana nih????

  4. Iya mari mulai dari diri sendiri dulu, dengan menjaga lingkungan dan memeliharanya. Nice

  5. Setuju banget, siip Mbak..

  6. Lingkungan mungkin tersakiti, namun kantong justru ternyamankan. Apalagi kantongnya para penambang hutan

  7. Selain kesadaran, kepentingan plus keserakahan pun turut berperan merusak lingkungan. Ya toh?

  8. itulah hebatnya keserakahan manusia ayu…, betapa pun juga manusia tidak mau ambil pusing dengan segala kerusakan yang di timbulkan mereka, apalagi sekarang udah gak jaman memelihara yang seperti itu, mereka tidak peduli lagi pada anak cucu kelak, apa mereka nantinya bakal tahu pohon ini-pohon itu, tak peduli lah…
    itulah hebatnya,,,
    tapi untuk kita janganlah seperti mereka itu, kasian kan anak-anak, mereka tidak sempat merasakan rindangnya pepohonan, kala mereka hidup nantinya.
    mereka hanya bisa merasakan kegersangan bumi, sisa-sisa orangtua terdahulu..

    salam kenal dariku…

    urang banua jua

  9. jelek

  10. banua kita sekarang rindang lo, dengan baliho2 raksasa,hehe

  11. anda punya blog atau tertarik dengan dunia blog, saya undang anda
    untuk gabung dengan komunitas blogger kalsel silakan register di
    http://kayuhbaimbai.org atau kontak saya di 085251534313/7718393

    salam blogger
    chandra

  12. Ass.

    Ikuti seminar motivasi kepenulisan bersama Ersis Warmansyah Abbas dan Penulis-penulis Banua. Terbuka untuk mahasiswa dan umum!

    Infonya klik:

    http://www.taufik79.wordpress.com
    http://www.manda-bjm.blogspot.com

  13. ka ayu..ne rahman..hee.kerent ih tulisannya!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: